May 25, 2026

Bertemu Dengan Penyair Cirebon, Wawan Hamzah Arfan Dalam Acara ‘Penyair Membaca 80 Tahun Indonesia Merdeka’ Bersama TISI di PDS.HB.Jassin.

Laporan Lasman Simanjuntak

Jakarta- Begitu saya tiba dan memasuki area Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki-seperti biasa langsung menuju -ke kantin (cafetaria) TIM pada Minggu siang (28/9/2025).

Puji Tuhan. Senang rasanya bisa bertemu langsung (tatap muka) dengan Penyair dan Sastrawan dari Kota Cirebon, Jawa Barat Wawan Hamzah Arfan.

Kami saling bersalamann, jabat tangan erat.Tawa lepas.Langsung Wawan mengajak saya berfoto bersama.Ikut dalam foto Penyair Nanang Ribut Supriyatin dan Penyair Isbedy Stiawan ZS (Lampung).

Maklum-dan jujur-selama bertahun-tahun, baru kali ini saya bertemu langsung dengan Penyair dan Sastrawan Wawan Hamzah Arfan.Seperti bernostalgia dan bersastra ria.

Sepanjang tahun 80-an s/d tahun 90-an kami berdua hanya bisa “bertemu” melalui.rubrik atau ruang sastra (puisi) diberbagai media cetak.

Sama-sama menulis puisi- masih dalan format media cetak- berupa koran harian, suratkabar mingguan, dan majalah.

Seperti menulis puisi di Harian Umum Berita Yudha, Suara Karya, Merdeka, Pelita, Berita Buana, Jayakarta, Republika,Media Indonesia, Skm.Simponi, Skm.Swadesi, Majalah HAI, Majalah Dewi, Nova, Monalisa, Majalah Keluarga dan masih banyak lagi.

Hampir setengah hari saya dan rekan Wawan-bersama para penyair senior lainnya- mengikuti acara peluncuran sekaligus diskusi sastra buku antologi puisi bersama REPUBLIK PUITIK dan MANIFESTO JABODETABEK bertemakan “Penyair Membaca 80 Tahun Indonesia”.

Diselenggarakan oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) dengan Ketuanya Octavianus Masheka bertempat di Aula Pusat Dokumentasi Sastra(PDS), Lantai 4, Gedung Panjang Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Minggu siang (28/9/2025).

Pada kesempatan tersebut-urutan penyair keempat-saya membaca puisi karya sendiri berjudul SAJAKKU MENULIS INDONESIA MAKIN GELAP.

Pulo.Lasman Simanjuntak

SAJAKKU MENULIS INDONESIA MAKIN GELAP

sajakku menulis
indonesia makin gelap
di depan cermin rakyat
turun ke jalan
bawa bendera hitam
di tangan kanan
akar kepahitan
dilukis dalam hujan

lantaran kenaikan harga
pangan
kelangkaan gas buatan
phk serabutan
jutaan orang
kehilangan pekerjaan
anak-anak tak lagi duduk tenang
di bangku pendidikan

kelaparan mulai disampaikan
lewat nyanyian
anak-anak jalanan

anak-anak sekolahan
dijanjikan makan siang
bergizi tinggi
sehat dan gratis

meluncur dari mulut awan
jadi keracunan massal
dibayar tanpa uang
dilunasi dengan utang negara

sajakku menulis
indonesia makin gelap
dijual lautan
digadaikan langit buatan

proyek mercusuar kembar
disuntik api koruptor
mata duitan
seribu tujuh ratus triliunan
dengan hukuman cambuk liar
denda paling ringan

mau dibawa kemana
bila negaraku terpecah belah-
tanpa airmata
menyemburkan darah
di tanah belum merdeka ?

seratus hari hanya bisa didaki matahari
dengan caci maki
berulangkali
pasti terjadi

cuci darahmu indonesiaku
dengan roh rendah hati
untuk raih satu kata
kemenangan abadi

sampai pada akhirnya
perlahan tanpa ada ketahanan
republik ini akan mati
ditelan mulut bumi
sakit hati

Jakarta, Rabu, 19 Februari 2025

Salam Puisi Indonesia.
Wassalam Wr.Wb