April 18, 2026

Esai Karya: Afnand Faiza

[PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]

Mengungkapkan perasaan melalui puisi memungkinkan kita mencurahkan emosi ke dalam kata-kata dengan kedalaman dan keindahan. Melalui perangkat puitis seperti metafora, citraan, dan irama, pengalaman pribadi—baik kegembiraan, kesedihan, cinta, maupun amarah—dapat diubah menjadi karya seni yang menyentuh hati orang lain. Puisi menjadi ruang aman tempat pikiran terdalam menemukan suara, sering kali mengungkapkan hal-hal yang tak mampu diucapkan secara lisan. Menulis puisi bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal pelepasan emosi dalam cara yang kreatif dan bermakna.

Melalui tiga puisi kuat karya penyair perempuan Indonesia, Leni Marlina—“Memanggil Nama Ibuku Melintasi Waktu” (2004), “Jembatan yang Melipat Diri untuk Sahabatku” (2017), dan “Kata-Kata yang Tak Bisa Diucapkan” (2017)—kita belajar bahwa puisi bukan hanya indah, tapi juga penting bagi individu dan masyarakat. Ketiga puisi ini telah dipublikasikan secara digital pada tahun 2025 melalui media daring suaraanaknegerinews.com.

2: Afnand Faiza (Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang; Anggota PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community). Sumber gambar: Panitia Poetry-BLaD & IOSoP 2025.

Pertama, puisi “Memanggil Nama Ibuku Melintasi Waktu” (2004) karya Leni Marlina adalah puisi yang sangat emosional dan reflektif tentang cinta, kenangan, dan duka. Penyair mengungkapkan kerinduan mendalam dan cinta yang abadi kepada mendiang ibunya. Meskipun sang ibu sudah tiada secara fisik, sang penyair terus memanggil namanya dan mendoakannya. Puisi ini menunjukkan bahwa cinta kepada seorang ibu tidak hilang oleh waktu atau kematian—melainkan berubah menjadi sesuatu yang spiritual dan abadi, seperti doa yang tak pernah henti. Kenangan sang ibu tetap hidup dalam hati dan jiwa penyair. Ini adalah penghormatan yang tenang namun kuat terhadap kehadiran abadi seorang ibu dalam hati anaknya.

Kedua, “Jembatan yang Melipat Diri untuk Sahabatku” (2017) menggunakan metafora jembatan yang melipat untuk menggambarkan tema ketidakpastian, perubahan, dan harapan. Jembatan yang melipat melambangkan jalan atau perjalanan hidup yang dulu terasa stabil namun kini menjadi tidak pasti—mungkin karena kesulitan, kehilangan, atau pergulatan batin. Penyair menggambarkan dirinya berjalan di atas jembatan itu sementara tanah di bawah menghilang, melambangkan rasa tidak aman atau kehilangan arah. Meskipun begitu, penyair menyampaikan harapan kepada sahabatnya: agar sahabatnya menemukan jalan yang lebih jelas dan stabil—jalan yang mengantarkan impian menjadi kenyataan. Puisi ini lembut namun mengandung rasa perih—penuh kelembutan, ketidakpastian, dan kekuatan dalam diam. Ini tentang kehilangan pijakan sendiri, tetapi tetap berharap yang terbaik untuk orang lain.

Ketiga, puisi “Kata-Kata yang Tak Bisa Diucapkan” (2017) menggambarkan rasa sakit dan kerinduan dari perasaan yang tak terungkap—terutama perasaan yang terlalu dalam, emosional, atau sulit diucapkan secara langsung. Penyair ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting, mungkin cinta, duka, atau kebenaran mendalam, tetapi setiap kali mencoba, momen itu berlalu atau sesuatu menghalangi—dilambangkan dengan “angin yang membawanya pergi.” Sebagai gantinya, penyair beralih pada doa dalam diam, berharap perasaannya tetap sampai kepada orang yang dituju atau ke tempat di mana pikiran tak terucap dapat dipahami dan “kata-kata menjadi nyata.” Ini adalah refleksi tentang pembatasan emosional, kerentanan, dan harapan bahwa perasaan tetap bisa dirasakan—meskipun tak pernah diucapkan.

Sebagai penutup, puisi-puisi karya Leni Marlina secara kuat menunjukkan bagaimana puisi bisa menjadi wadah untuk kenangan, emosi, dan perlawanan. Melalui duka pribadi, perjalanan yang tidak pasti, dan kebenaran yang tak terucapkan, karyanya mengingatkan kita bahwa puisi bukan sekadar ekspresi artistik—tetapi juga tali kehidupan menuju masa lalu, cermin dari masa kini, dan tindakan perlawanan dalam kesunyian. Di dunia yang sering membungkam emosi mendalam atau terburu-buru melewatkan perenungan, puisi seperti milik Marlina mengajak kita untuk berhenti sejenak, mengingat, dan merasakan. Ia menjadi bentuk perlawanan terhadap lupa, terhadap ketidakpedulian, dan terhadap hilangnya kemanusiaan bersama. Maka dari itu, puisi bukan hanya indah—tetapi juga penting. Pada akhirnya, puisi bukan hanya soal keindahan—tetapi tentang kebenaran. Dan kebenaran, ketika diungkapkan dengan hati, memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, menghubungkan, dan mengubah dunia.

Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025

3: Afnand Faiza (Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang; Anggota PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community, pemateri virtual dalam Poetry-BLaD & IOSoP 2025). Sumber gambar: Dokumen Faiza.

Biografi Singkat Penulis:

Afnand Faiza adalah seorang mahasiswa yang mulai menempuh pendidikan pada tahun 2024 di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Ia lahir di Bukittinggi pada 28 April 2006 dan saat ini berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Ia merupakan lulusan SMA Negeri 3 Bukittinggi tahun 2024.

Selain itu, Afnand Faiza aktif sebagai anggota beberapa komunitas sastra dan puisi, seperti PPIPM-Indonesia (Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat Indonesia), PPIC (Poetry-Pen International Community), Littalk-C (Komunitas Diskusi Sastra), dan EL4C (Komunitas Literasi dan Pembelajaran Bahasa Inggris).

Referensi:

1. Marlina, Leni (2004). “Memanggil Nama Ibuku Melintasi Waktu.” Koleksi Puisi Pilihan di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 15 Februari 2025. [Diakses April 2025]
Tautan:

“Time Ages Upon My Mother’s Body”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

2. Marlina, Leni (2017). “Jembatan yang Melipat Diri untuk Sahabatku.” Koleksi Puisi Pilihan di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 11 Februari 2025. [Diakses April 2025]
Tautan:

“Farewell and the Half of My Heart Left Behind”: Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

3. Marlina, Leni (2017). “Kata-Kata yang Tak Bisa Diucapkan.” Koleksi Puisi Pilihan di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 11 Februari 2025. [Diakses April 2025]
Tautan:

“Farewell and the Half of My Heart Left Behind”: Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

Karya Faiza di atas dipresentasikan secara virtual dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Puisi (Poetry-BLaD) serta Seminar Internasional Daring tentang Puisi (IOSoP) yang diselenggarakan pada 31 Mei di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, bekerja sama dengan Media suaraanaknegerinews.com.

Video presentasi Faiza dari acara tersebut dapat diakses publik melalui tautan resmi berikut:

 

POETIC EXPRESSION: Express Your Feelings In a Poetry