April 25, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

(lampu temaram, suara perlahan)

Di tanah yang katanya bernama… Logika—
akal…
hanya jadi artefak.
Dipajang rapi,
di balik kaca tebal museum perdebatan
yang sepi…
tak ada yang benar-benar ingin mengerti.
Cuma selfie.
Cuma basa-basi.

(beranjak naik tempo)

Gedung-gedung tinggi dibangun dari silogisme—yang retak!
Jalanan?
Ditambal definisi yang berubah
secepat trending topic
yang bahkan tak sempat kita pikirkan… utuh.

Langitnya bukan biru!
Tapi abu-abu…
warna footnote dari buku-buku
yang kita kutip,
tapi tak pernah kita pahami!

*(beat)

Logika sekarang?
Bukan alat pikir,
tapi—make up intelektual.
Dipoles,
dijual,
dipakai…
demi like,
demi sorot kamera.
Argumen dijajakan seperti skincare,
“Bisa untuk semua jenis kepercayaan!”

(nada getir)

Dulu Aristoteles menanam pohon… premis,
daunnya sekarang?
Gugur.
Diterbangkan angin opini pribadi.
Socrates?
Toxic, katanya.
Pertanyaan dianggap racun.
Disaring…
diblock.

(nada sarkastik, ritmis)

Kant dijual di pasar filsafat
seperti bubuk kaldu transendental:
“Taburkan sejumput,
biar hidupmu… agak berbumbu.”
Camus?
Kini jadi parfum.
Absurdité.
Wangi,
untuk mereka yang letih
mencari arti
di antara iklan dan ironi.

(nada melembut)

Di ujung jalan,
seorang anak muda
mengetik “makna hidup” di Google,
dan dibalas:
Diskon e-book: Berpikir Kritis Dalam 7 Hari.
Bonus stiker toleransi edisi lebaran.

(intens kembali)

Sekolah jadi sirkus logika!
Guru-guru bukan pengajar,
tapi pelatih jongkok:
“Jika P maka Q.
Jika gagal, maka salah.
Salah? Maka bodoh!”
Tepuk tangan!
Untuk sirkus satu dimensi!

(nada cepat, teatrikal)

Fallacy berdansa—
Ad Hominem memeluk Slippery Slope,
Red Herring menyajikan stroberi argumen
yang manis,
membingungkan,
dan sangat jauh dari substansi!

(diam sejenak. lirih)

Tuhan pun bingung…
apakah Ia cukup jadi caption,
di unggahan Instagram teolog muda
yang lebih lihai memilih filter
daripada ayat.

(menurun, getir)

Logika akhirnya pensiun dini.
Tinggal di panti jompo argumentasi,
bersama Etika yang lupa arah,
dan Moralitas
yang mulai bicara sendiri.

(lirih… lalu naik perlahan)

Kita…
menulis opini seperti doa—
di kertas undian.
Berharap viral bisa menyelamatkan dunia.
Mengira…
feeling bisa menggantikan reason
seperti mie instan
menggantikan
peradaban.

(puncak emosional)

Ini—
Elegi!
Untuk akal yang ditinggalkan zaman,
untuk dunia
yang memilih gaduh,
bukan hikmah.
Yang menjadikan ketidaktahuan
sebagai tren.
Dan logika…
sebagai bahan lelucon
di jam tayang utama!

Sumatera Barat, 2025