April 17, 2026
emas patarusi

/1/

Puisi Aspar Paturusi

Belakangan ini, saya asyik menonton film silat
puluhan tahun lalu saya pembaca cerita silat china
puluhan jilid setiap kali baca
tokoh pendekarnya sangat menarik sepak terjangnya
mereka tampil sebagai penegak keadilan
pembela kebenaran
pelindung bagi yang lemah
dan tak kenal menyerah

Seorang teman remaja pemilik buku
sangat hafal nama pendekar ternama
dia pun berperilaku bak pendekar
dia sangat tenang, tekun, dan kukuh pendirian
gelar doktornya di luar dan kelak jadi guru besar
dari dialah dulu saya pinjam puluhan buku silat

Semalam saya saksikan film perampokan batangan emas
pedang pun beraksi ganas
mayat bergelimpangan
akhirnya dua pasang suami istri menguasai peti-peti emas

Kisah perlahan berbelok
nafsu rakus merasuki mereka
seratus ribu liung emas menggiurkan
50 ribu liung saja, tak ada kaitan dengan cinta
hubungan suami istri tumbang oleh emas batangan
Mereka pun menghunus pedang
semua adalah lawan
seorang perampok lain campur tangan
akhirnya semuanya tak mendapatkan apa-apa

Mereka tak sadar
musuh utama adalah nafsu rakus

Jakarta, 8 Januari 2021

/2/

dari postingan 8 Januari 2019

TUKANG SATE

Puisi: Aspar Paturusi

teriakannya menyayat malam: sateee
adakah ini suara dari masa silam
bagai tersedu-sedu menangisi duka alam
dia tetap melenggang menerobos gerimis

sebagaimana rakyat kecil, dia pantang menyerah
pekerjaannya rutin dan tampak amat bersahaja
diiris-irisnya daging, lalu dicocok dan dipanggang
dia menyusuri gang demi gang dan teriak lantang

daging diiris dan dipanggang
itulah dilakukan nenek moyang
sesudah berburu seharian
di hutan, di tengah padang ilalang

sateee, tetaplah berteriak
agar hidupmu tak teriris-iris
oleh nasib tragis

Jakarta, 31 Januari 2013