May 10, 2026

Oleh Era Nurza

Di bawah langit yang berdebu dan muram,
Gaza menangis dalam diam.
Anak-anak bermain di reruntuhan,
Dengan mata kecil yang menyimpan perang.

Langitnya tak lagi biru,
Tapi penuh dentuman dan bara api.
Tanah yang dulu suci dan damai,
Kini retak oleh jejak derita manusia.
Setiap malam, doa-doa melayang,
Melewati dinding, tembok, dan senyap.
Ibu menggenggam tangan anaknya,
Sambil memeluk langit dengan harap.

Gaza bukan sekadar luka,
Ia adalah simbol keteguhan jiwa.
Meski tubuh-tubuh rebah di tanah,
Jiwa mereka berdiri di atas cahaya.

Wahai dunia yang terlalu sibuk melihat ke lain arah,
Tidakkah kau dengar jerit yang pasrah?
Tidakkah kau lihat, di antara puing dan darah,
Ada sebatang bunga yang tetap tumbuh megah?

Gaza adalah nyala, bukan hanya luka.
Ia adalah perlawanan dalam doa,
Ia adalah cinta yang tak kenal henti,
Meski digempur, tetap berdiri.

Serpong, 26 Mei 2025