Gelombang Hidup dalam Waktu
Oleh: Rizal Tanjung
–
di bawah langit bisu yang menggenggam rahasia,
bulan membelah kelam dengan purnamanya yang luka,
sementara jam tua yang telah pecah,
menyisakan serpihan detik yang merintih dalam sunyi.
laut menggeram dalam amarah waktu,
mengempas pasir-pasir doa yang terbang entah ke mana.
dunia menulis nasib di lembaran angin,
dan manusia, makhluk pelupa,
mengejar bayangan yang tak pernah nyata.
aku melihat jarum jam bergetar,
tertatih-tatih menahan beban sejarah.
Ia pernah mencatat peperangan,
merayakan kelahiran,
dan mengantar kematian dengan kebisuan yang pilu.
oh manusia, kau hanyut dalam gelombang keinginan,
menjahit kain fana dengan benang angan-angan,
kau puja waktu seperti dewa,
namun kau khianati keabadian dengan keserakahan.
ketika malam menjelma kidung sendu,
kita duduk di tepi lautan waktu,
dihantam ombak yang tak pernah lelah,
menanyai diri: siapakah aku dalam arus semesta?
adakah aku lebih dari serpihan debu,
yang menari dalam badai kepalsuan?
dalam renungan yang dalam,
kita temukan jawabannya bukan dalam kecemasan,
melainkan dalam kepasrahan yang agung.
sebab hidup adalah gelombang yang harus diterima,
waktu adalah ombak yang tak bisa ditahan.
maka biarlah jam itu retak,
biarlah bulan tetap menangis dalam kesunyian,
sebab di antara runtuhan waktu,
kita menemukan makna yang tersembunyi:
Bahwa tak ada yang benar-benar hilang,
selain mereka yang takut tenggelam.
II
waktu adalah gelas rapuh yang digenggam semesta,
retak perlahan di jemari fana,
mengalir tanpa tanya, tanpa ragu,
sedang kita, pecahan cermin yang lupa pantulan aslinya.
bulan tersedu dalam kesunyian biru,
membasuh luka yang tak pernah sembuh,
menyaksikan manusia menari di atas bayang-bayang,
mendekap harapan seperti mengepal air.
di lautan kehidupan,
ombak memecah kebanggaan menjadi debu,
menenggelamkan keakuan dalam pusaran rahasia,
sebab setiap riak menyimpan bisikan:
“dimanakah engkau dalam kesementaraan ini?”
kita, musafir yang mabuk dalam fatamorgana,
menjahit hari dengan benang ketakutan,
memahat keabadian di pasir yang menunggu surut,
berusaha mengikat angin dalam genggaman kosong.
oh waktu, engkau bukan sahabat,
bukan musuh, bukan penjaga, bukan perusak,
kau hanyalah cermin yang tak pernah berdusta,
menghadapkan wajah kita pada kebohongan sendiri.
kita bersujud di hadapan jam yang retak,
mendamba surga dalam lintasan detik,
namun, adakah surga bagi mereka yang takut tenggelam?
Adakah arti bagi mereka yang mengukur keabadian dengan angka?
maka tenggelamlah, biarkan ombak menelan kebimbanganmu,
biarkan cahaya bulan menuntunmu dalam gelap,
sebab hanya mereka yang rela melepaskan,
yang akan menemukan arus menuju hakikat.
2025