Mawar Berduri di Taman Luka
Oleh: Rizal Tanjung
–
di taman sunyi, kau tumbuh megah,
mekar merona, merayakan gelisah.
mawar merah, wahai jelita,
duri-durimu bisu, tapi berbicara.
aku menyentuhmu dengan ragu,
jari-jariku mengukir rindu,
namun setiap helai kasih yang kujemput,
ada luka yang kau sematkan di jemariku.
kau bukan sekadar bunga biasa,
kau puisi yang ditulis dengan darah,
kecantikanmu—jerat yang mempesona,
dan durimu—sajak pedih yang tak terbaca.
kau menari di kebun asmara,
dengan kelopak bagai bibir menggoda,
tapi tangkaimu bagai janji yang palsu,
menikam hati yang tulus merindu.
aku, si bodoh yang jatuh cinta,
menerima luka sebagai bukti setia,
mencium duri seakan madu,
menyalahkan diri atas perih yang kau berikan.
mawar merah, mengapa kau begitu kejam?
mekarmu indah, tapi kau menikam.
aku tak tahu, kau cinta atau azab,
haruskah kugenggam, atau kulepaskan dalam gelap?
namun tetap, meski luka menganga,
aku akan kembali di setiap senja,
karena kau bukan sekadar bunga,
kau candu dalam puisi asmara.
— akulah pecinta yang jatuh di pangkuan luka.
2025.