April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

di ujung geladak kapal sunyi,
kulepaskan angin dari dada,
membiarkan rindu mengelana,
menyatu dengan desau samudera.

rembulan menggantung di langit biru kelam,
bagai lentera yang tak lelah menanti,
sinarnya mencumbu gelombang diam,
namun tak pernah ia peluk kembali.

aku adalah nyanyian angin laut,
yang menyebut namamu di antara buih,
terbang bersama camar yang tak pernah lelah,
menyusuri cakrawala yang tak bertepi.

di bawah cahaya bulan yang perak,
kubiarkan gaun putihku melambai,
seperti pesan yang kutitipkan pada angin,
yang mungkin akan tiba kepadamu nanti.

bintang-bintang mengedip pilu,
seolah tahu kisah yang kusembunyikan,
tentang hati yang menunggu di dermaga waktu,
namun tak pernah disapa oleh bahtera cintamu.

kau adalah pelaut yang berlayar jauh,
mengejar matahari ke ufuk tak pasti,
sedang aku hanyalah pulau sepi,
menanti ombak menghempas janji.

oh kasih, adakah kau tahu?
bahwa rinduku sekuat arus pasang,
namun kau tetaplah karang yang diam,
membiarkan ombak mencumbu, lalu hilang.

aku menari di antara angin malam,
bersama bayangan yang kau tinggalkan,
tapi cinta ini hanya gema ombak,
yang kau dengar, namun tak kau jawab.

sampai kapan aku menunggu di sini,
sementara rembulan terus purnama,
sedang laut tak pernah lelah berbisik,
tentang namamu yang kuabadikan di buih.

mungkin suatu saat badai pun reda,
dan kapalku karam di pelukan waktu,
namun cintaku tetap abadi,
menjadi laut, menjadi angin,
menjadi bisikan yang kekal dalam sunyi.

2025.