April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Di balik papan rapuh yang mulai lapuk,
Seekor tikus mengintip gelap, mengendus celah yang sempit.
Matanya bersinar, penuh kelicikan dan akal busuk,
Sebab ia tahu, di negeri ini, ia bebas menggigit.

Tikus-tikus itu bukan sembarang hewan,
Mereka berseragam, berdasi, dan berpidato manis.
Di layar kaca, mereka bicara tentang harapan,
Di balik meja, mereka jual janji dengan komisi.

Dulu katanya negeri ini merdeka,
Tapi merdeka untuk siapa? Untuk rakyat jelata?
Ataukah untuk tikus-tikus rakus di singgasana,
Yang mengunyah pajak, menghisap darah, dan pura-pura lupa?

Mereka bilang demokrasi adalah suara rakyat,
Tapi suara rakyat ditenggelamkan amplop dan fatwa.
Hak dipertaruhkan dalam meja judi politik,
Yang kalah adalah yang tak punya saham dalam pesta.

Lihatlah sang tikus, wajahnya polos, tampak lugu,
Tapi cakarnya tajam, siap mengais celah baru.
Ia tak peduli negeri ini hancur atau runtuh,
Asal pundi-pundinya penuh, dompetnya gemuk.

Tikus-tikus itu membangun gedung tinggi,
Bukan untuk sekolah, tapi untuk menumpuk sogokan.
Mereka bicara soal investasi dan ekonomi,
Padahal hanya ladang baru untuk korupsi dan penipuan.

Ketika petani menjerit karena sawahnya terampas,
Ketika buruh dipaksa bekerja tanpa upah,
Ketika nelayan kehilangan laut karena reklamasi,
Mereka duduk di ruang ber-AC, sibuk membagi kuasa.

Tikus negeri terus beranak pinak,
Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Korupsi diwariskan seperti harta pusaka,
Dari ayah ke anak, dari guru ke muridnya.

Dan rakyat? Oh rakyat hanya bisa mengeluh,
Di warung kopi, di jalanan, di media sosial.
Tapi suara mereka hanya gema di gua kosong,
Karena hukum di negeri ini tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Lalu kapan kita akan sadar dan bangun?
Ataukah kita hanya menunggu datangnya badai?
Sebab jika tikus dibiarkan menguasai rumah,
Maka rumah ini akan lapuk, hancur, dan musnah.

Mungkin saatnya kita menjadi pemilik sah,
Bukan sekadar penonton dalam drama murahan.
Sebab negeri ini bukan kandang tikus belaka,
Tapi rumah bagi mereka yang ingin merdeka.

2025

Catatan:
Puisi ini menggambarkan bagaimana korupsi telah menjadi warisan turun-temurun, menggerogoti demokrasi dan mengkhianati rakyat. Semoga kita semua bisa bangkit dan menolak menjadi bagian dari generasi tikus negeri.