“Jangan Berlomba Pamer, Tapi Berlomba Merendah” – Wejangan Pastor Pius Heljanan, MSC
Oleh: joko
Pesan Damai dari Lauran: Rendah Hati, Kunci Hidup Bersama yang Rukun, Membawa Kita Lebih Dekat pada Tuhan
Wejangan rohani dari Pastor Pius Heljanan, MSC di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, mengutip Injil Lukas 14:1.7-14, Pastor Pius mengajak umat meninggalkan kesombongan demi kedekatan dengan Tuhan.
Saumlaki, Senin Pagi yang Penuh Renungan
http://suaraanaknegerinews.com |™Senin, 1 September 2025, udara pagi di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, terasa sejuk dan menenangkan. Di tengah kesibukan umat, Pastor Pius Heljanan, MSC, gembala umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, menyampaikan pesan rohani yang sarat makna tentang kerendahan hati.
Kerendahan Hati, Jalan Damai dengan Tuhan dan Sesama
Dengan suara teduh, Pastor Pius mengingatkan umat bahwa dunia kini kerap dipenuhi dengan lomba pamer: pamer harta, status, jabatan, gelar, bahkan kecantikan dan ketampanan. Semua itu, menurutnya, hanya melahirkan sekat dan perbedaan.
“Siapa saja yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa saja yang merendahkan diri akan ditinggikan,” ucap Pastor Pius, mengutip Injil Lukas 14:1.7-14.
Ia menegaskan, Yesus tidak pernah meminta kita memamerkan kehebatan, melainkan mengajarkan untuk tunduk, menghormati, dan menghargai sesama. Dengan merendahkan hati, manusia akan menemukan kedamaian yang sejati.
Menanggalkan Kesombongan, Meraih Kedekatan dengan Tuhan
Pastor Pius menekankan bahwa kesombongan adalah tembok yang memisahkan manusia dengan Tuhan maupun dengan sesamanya. “Saatnya kita meninggalkan semua yang selama ini dibanggakan. Karena hanya dengan rendah hati kita bisa bertemu dan semakin dekat dengan Tuhan,” ujarnya.
Bagi Pastor Pius, kerendahan hati bukan sekadar sikap pribadi, melainkan sebuah panggilan untuk membangun harmoni hidup bersama. Dari kerendahan hati tumbuhlah saling menghormati, kerukunan, dan persaudaraan yang tulus.
Pesan yang Membumi untuk Umat
Wejangan rohani ini, meski sederhana, terasa begitu membumi. Ia tidak hanya menyoroti kehidupan spiritual, tetapi juga kehidupan sosial sehari-hari. Pastor Pius seolah mengingatkan bahwa damai bukan sekadar cita-cita, melainkan bisa diwujudkan dengan sikap rendah hati yang konsisten dijalankan setiap hari.