April 18, 2026
Romo Guru

Yusuf achmad

Bila gunung telah kau persembahkan untukku,
aku malu—sebutir pasir pun tak mampu kukembalikan padamu.
Bila lautan ilmu kau tuangkan bagai embun pagi,
aku sedih—setetes pun belum kuamalkan dalam hidup ini.

Bila hidupmu penuh pengorbanan,
atas nama cinta dan welas asih tanpa sekat,
aku hina—teladanmu belum sepenuhnya kutunaikan.
Tak tahu doa apa yang pantas kupanjatkan,
untuk jiwa mulia yang tak tergantikan.

Hari ini, setahun sejak kepergianmu.
Wangi melati mengalun dalam doa yang dipanjatkan.
Namun aku tak hadir di perayaan ini,
terhimpit malu dan penyesalan yang mendalam.
Bersalah aku, tak mampu mempersembahkan doa,
kutenggelam dalam kebingungan dan keheningan,
tanpa untaian makna yang kukirimkan.

Kelemahan dan gundah kala itu menjadi sahabat setiaku,
membelenggu jiwa yang melayang tanpa arah.
Namun kini, perlahan mataku terbuka,
dan aku sadar:
rindu pada bimbinganmu adalah cahaya,
yang menerangi pekatku.

Aku tahu aku bisa,
meski tak mampu mengubah dunia sepenuhnya.
Namun kata-kata ini akan kurangkai,
seindah syair yang memancarkan kilau permata.
Dari yang tak berharga,
hingga menjadi penuh makna.
Debu di mataku kini kuhembuskan,
hingga terang dunia kembali nyata.

Mata yang dahulu tertutup kini terbuka perlahan,
karena rindu pada bimbinganmu,
tak lagi menjadi duka,
tetapi suluh dalam setiap langkahku.

SMK Saintren 1-11-2024