Jejak yang Tertinggal di New York
Cerpen
Oleh Fanny J. Poyk)*
–
Aku membaca kabar tentangmu yang tertulis jelas di media sosialmu. Cukup lama kau tak mengirim cerita, kira-kira satu tahun. Pertemuan kita yang terakhir ketika aku memesan setangkup cheese burger di sebuah gerai makanan terkenal yang berlokasi tepat di sisi jalan New York Times Square. Dari gerai itu aku aku berniat untuk menonton pentas teater Broadway, aku tak tahu drama apa yang akan dipertunjukkan. Namun aku tak peduli, sebab menonton teater memiliki kenikmatan tersendiri bagiku, terlebih lagi pentas itu bisa kusaksikan di kota paling spektakuler di dunia.
Rencananya, setelah itu aku hanya akan berputar-putar di daerah itu saja sembari menikmati keramaian manusia dan melihat-lihat pusat perbelanjaan bergengsi di 5 th Avenue, tepatnya di sepanjang jalan raya besar Manhattan. Di sana pusat-pusat perbelanjaan baik yang bergensi atau menengah tumbuh bagai jamur, jika hendak membeli barang-barang branded, tentu saja harganya mahal-mahal, tapi asli tak ada yang palsu atau tiruan.
“Hai Nona, kau dari Indonesia, ya?” Sapamu ramah, ketika suapan terakhir dari cheese burger itu hendak masuk ke mulutku. Lamat-lamat, iringan piano musik klasik Swan Lake dari Tchaikovsky terdengar berbunyi merdu dan memberikan rasa yang berkelas dibanding dengan suasana di luar. Aku mengangkat wajah dan menatap lelaki yang berbahasa Indonesia itu dengan lancar.
“Ya, kau juga?” balik aku bertanya.
Dia mengerjapkan matanya yang kuperhatikan sekilas ternyata sangat indah. “Ayahku Amerika dan Ibuku dari Bali,” jawabnya ramah. Lalu ia menggeser kursi yang ada di depanku dan memperkenalkan namanya,
“Nyoman George Lee,” katanya sambil mengulurkan tangan. Sikapnya yang spontan tanpa basa-basi, membuat aku sedikit terkejut.
“Anne, lengkapnya Annete,” jawabku tanpa ragu. Aneh, biasanya aku tak semurah itu untuk mengucapkan namaku di perjumpaan yang hanya sekejap, aku perempuan yang penuh dengan kehati-hatian. Namun kali ini tidak, apakah karena aku berada di negeri orang lalu bertemu dengan orang sebangsa hingga akhirnya muncul euphoria rasa cinta tanah air dan sebangsa yang sedemikan kuatnya? Aku tak bisa memprediksinya dengan pasti. Lelaki yang ada di hadapanku ini, semakin kulirik, lambat-laun semakin menawan dan menimbulkan rasa ingin tahu yang kuat di benakku, siapa dia sesungguhnya. “Kamu ngapain di New York, bekerja atau melanjutkan pendidikan?” tanyaku kemudian.
Dia tertawa tipis. “Melanjutkan pendidikan? Itu terlalu akademis buatku. Di sini aku bekerja. Aku buka kafe kecil-kecilan. Kebetulah aku sudah hampir lima belas tahun tinggal di New York dan telah memperoleh ijin usaha serta ijin tinggal. Jadi, ya begitulah, selain sebagai pemilik kafe, aku sekaligus jadi baristanya.” Katanya merendah tanpa menjelaskan di mana letak kafenya.
Begitulah, pertemuan kedua dan ketiga berlangsung dalam situasi yang sama. Obrolan masih standar, tak ada yang spesifik. Aku katakan pada Nyoman, demikian ia minta disapa, kalau aku hanya jalan-jalan selama seminggu di New York. Sesudah itu aku akan kembali ke Camarillo, Los Angeles, California, tinggal di rumah kakek dan nenekku selama tiga bulan di sana. Kakekku seorang jenderal angkatan laut berkewarganegaraan Amerika karena ia memang asli orang dari negaranya Joe Biden itu, tepatnya ia berasal dari Wisconsin, sedang nenekku asli Depok, ia ibu dari ibuku. Mereka memintaku untuk menetap di Camarillo, dan mencari kerja atau melanjutkan pendidikan strata duaku di sana. Tapi aku menolaknya. Indonesia tetap menjadi negara yang kucinta.
“Oh berarti esok kau sudah kembali ke Camarillo. Hm…nanti malam, maukah kau mampir ke kafeku? Kita ngobrol-ngobrol di sana,” ajaknya.
Sebenarnya aku hendak menolak ajakan itu. Pergi dengan orang yang baru kukenal selama beberapa hari, bukan kebiasaanku. Apalagi berkenalan dengan lelaki ini di tengah hiruk-pikuknya kota New York yang modern dan individual serta tingkat kriminalitasnya yang mungkin berada di atas rata-rata. Sebagai perempuan dengan usia 24 tahun, sendirian pula di negeri orang, aku harus super hati-hati mengikuti ajakkan orang asing yang baru kukenal. Keraguan tersirat di wajahku.
“Jangan takut, aku tidak akan mencelakai atau memperkosamu, kita sama-sama orang Indonesia. Percayalah,” ucapnya seolah ia paham dan dapat membaca rasa khawatirku.
Sejurus kemudian aku menganggukkan kepala. Malam harinya Nyoman mengajakku ke kafenya yang terletak tak jauh dari hotel tempatku menginap. Hotel itu bernama Scherman, sebuah hotel boutique yang masih berada di lingkungan jalan besar Manhattan.
Nyoman menjemputku di lobby hotel dengan penampilan yang berbeda. Ia terlihat lebih necis dan berkelas. Aroma parfum dari Bleu Channel, tercium lembut. Ia mengulurkan lengan kanannya dan secara tidak langsung memintaku untuk memegang lengan itu. Tak terlihat sikap yang disengaja untuk melakukan hal itu, wajahnya datar dan dingin. “Pegang kuat-kuat lenganku, hari sudah mulai malam.” Perintahnya dengan suara rendah. Aku tahu ia akan melindungi diriku dari keramaian jalan Manhattan. Kami berjalan kaki menuju ke kafenya.
Nama kafe itu Blue Heart. Hati yang biru. Terletak disudut jalan Manhattan yang cukup ramai, namun suasana terlihat tenang. Bentuk kafe artistik dan nyeni, nuansa Bali menghiasi hampir seluruh ruangan. Keadaan kafe berkelas, cocok untuk para pegawai atau anak muda kaya yang menghabiskan uang saku pemberian orang tua mereka. Ketika kami datang, beberapa barista menganggukkan kepalanya. Aku tahu mereka hormat pada
Nyoman karena dia bos sekaligus pemilik kafe itu. Hm lelaki ini terlalu merendah dengan mengatakan dia juga barista di kafenya, pikirku. Aku minum cappuccino hangat dan cemilan roti croissant yang lezat bikinian baristanya. Nyoman menawarkan wine atau champagne, namun aku menolaknya. Aku tidak terbiasa dengan minuman itu dan takut menjadi mabuk.
Dalam suasana syahdu serta gesekan biola yang dimainkan oleh seorang pemain musik, menjadikan ruangan kafe terlihat semakin elegan. Terlebih lagi lagu yang dimainkan adalah Fur Elise dari Beethoven. Aku membuat kesimpulan kalau kafe yang dibangun Nyoman, bukan sekedar kafe dengan selera yang biasa-biasa saja. Menurutku ia juga bukan orang Indonesia blasteran Bali dan Amerika yang tak mengerti seni. Pastinya dia berasal dari keluarga menengah ke atas. Dan obrolan kami sama seperti obrolan sebelumnya, tak ada pembicaraan yang menjurus ke ranah ketertarikan antara laki-laki dan perempuan.
Awalnya aku sempat menduga dia tak suka perempuan. Namun perkiraanku salah, dia pernah menikah dengan seorang perempuan Indonesia, wajahnya mirip denganku katanya. Mereka sudah bercerai dua tahun yang lalu. Istrinya bersuku Manado. Mereka punya anak satu, laki-laki dan sekarang sudah berusia tujuh tahun.
“Mantan istriku tidak betah tinggal di New York, menurutnya kota ini kurang membumi, tidak seperti di Indonesia. Manusianya selalu tergesa-gesa, sibuk dengan diri sendiri dan mengejar uang yang tak ada lelahnya. Tidak bisa santai dan berleha-leha sejenak, semua diukur dengan waktu. Akhirnya dia minta pulang dan kembali ke Manado. Sekarang dia sudah menikah lagi dengan kekasih lamanya, pria yang sekampung dengannya. Mereka menjadi petani cengkeh dan pala, tanah mereka luas, aku perhatikan di Instagram mantan istriku, tiga bulan sekali mereka ke Jakarta, jalan-jalan dan beli barang-barang mewah di mal-mal ternama. Rupanya hasil dari panen cengkeh dan buah pala sangat menguntungkan buat mereka. Istri dan anakku tampak bahagia.” Tutur Nyoman.
Begitulah, pertemuan yang singkat itu hanya tinggal kenangan yang menyisakan kisah di benak ingatan bahwa aku pernah bertemu dan ngobrol- ngobrol tanpa menyertakan emosi perasaan berdasarkan tatapan di pandangan pertama, seperti layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Ketika aku kembali menuju Bandar udara LAX, Los Angeles, lalu menuju Camarillo ke rumah kakek dan nenekku, aku tak meninggalkan rasa rindu atau kepedihan akibat dari berbaurnya rasa antara pria dan wanita di saat mereka berpisah. Kami sama seperti wisatawan pada umumnya, datang ke suatu kota, berkenalan, tersenyum, ngobrol-ngobrol lalu akhirnya mengucapkan kata selamat tinggal.
Ketika aku membaca kisah Nyoman di media sosial, saat dia tengah menyusuri Taormina di Sicilia, Palermo, Messina, Catania, Napoli, kota Ferrara yang sunyi, Bologna, Parma, Milan, tampilan Gunung Vesuvius, Prancis hingga merekam suara soprano Andrea Bocelli dengan lagunya yang legend berjudul Caruso, aku terpaku di depan laptop meja kerjaku. Rinduku pada New York dan kafe Blue Heartnya yang artistik, juga obrolan-obrolan kita yang datar tanpa adanya getar-getar libido atau panah Cupid sang dewa Amor dengan cinta Eros pada zaman Hellenistik yang nakal, tidak tersimpan baik di imajiku. Namun benarkah demikian?
Aku lalu bertanya pada diri sendiri, mencoba menata debur di dada sembari berharap, nanti jika aku ke New York lagi, menyusuri jalan Manhattan yang riuh, aku ingin duduk di kafenya, kita ngobrol bersama getar yang mulai terasa di jantungku Sekarang.
Jejak yang tertinggal akan kugali lagi dengan rasa yang berbeda, aku akan menggenggam tangan Nyoman sembari kita mengalihkan obrolan tentang beragam kemungkinan yang bakal terjadi, apakah aku akan tinggal di New York mengikuti dia atau Nyoman kembali ke Indonesia? Nah, begitulah mimpi yang kususun di sarang imajiku Nyoman George Lee. Semoga kau membaca kisah ini.
Sekian
)*Biodata Fanny Jonathans Poyk (Fanny J.Poyk)
Nama lengkap Fanny Jonathans Poyk (Fanny J.Poyk), lahir di Bima, Sumbawa. Lulusan IISIP Jakarta, jurusan jurnalistik, pernah menjadi wartawati di Tabloid Fantasi dan Konsultan Media di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menjadi editor untuk beragam buku. Menulis cerita anak dan puisi sejak tahun tahun 1973/77 di majalah anak Bobo, Tom Tom, Halo, Ananda, kolom Sahabatku Sinar Harapan, kolom anak Suara Karya, majalah anak Kuncung, dll. Menulis cerita dewasa/remaja di Majalah Sarinah, Pertiwi, Puteri Indonesia, Gadis, Kartini, suratkabar Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Bali Post, Surabaya Post, Kompas, Cerpen Fanny terpilih menjadi 20 besar cerpen terbaik versi Koran Kompas pada 2016. Menulis cerpen juga untuk Jawa Pos, Dalang Publishing (Amerika Serikat), Timor Expres, Koran Ekspres Sabah Kinabalu, Daily Expres.