Jika Bukan Karena Puisi
Yusuf Achmad
Jika bukan karena cinta pada puisi,
aku hanyalah mawar layu tak berseri,
Batangku keropos, rapuh dirundung sepi,
kadang ingin kutinggalkan suara hati.
Aku bukanlah kayu jati yang kokoh berdiri,
tapi kini kuikuti jejak asa dan kasih,
takut mengkhianati nurani yang terus berbisik.
Biar kususuri jejak jemari,
otot-otot memerah bagai ari-ari.
Kata-kata terukir di kaca putih HP ini,
meski mataku tak lagi setajam lensa HP ini.
Namun yang tertulis adalah luapan abadi,
bayangan jiwa yang menari di tepian sunyi.
Ke mana kata-kata indah akan bersandar?
Meski cerita tak lagi menggairahkan sanubari,
niat ini tetaplah murni.
Mengurai mustahil di tengah duri,
tetap setia pada ilham yang membujuk diri.
Entah langkah ini benar atau sia belaka,
energiku tersisa serpihan hingga dini tiba.
Dorongan hati tak mengenal peduli,
huruf-huruf berdansa di bait-bait puisi,
kadang menjadi mimpi buruk, kadang mati sendiri.
Namun masa itu telah berlalu kini,
biarlah kulangkahkan kaki dengan pasti.
Izinkan kulabuhkan kembali,
semangat dan niat yang tak pernah mati.
Izinkan aku merangkul sunyi,
karena puisi adalah nyawa dalam jiwa ini.
Surabaya, 29 Januari 2024