Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Kepemimpinan Laki-Laki dalam Keluarga Modern

Ayah Sebagai Qawwam: Menafsir Ulang
Oleh: Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd.
(Kasi PAPKI Kantor Kemenag Kabupaten Tanggamus)

Menjadi ayah di zaman ini bukan perkara mudah. Dunia berubah cepat, nilai-nilai bergeser, dan peran keluarga ikut berubah. Banyak laki-laki merasa bingung: bagaimana menjadi pemimpin tanpa bersikap otoriter, tapi juga tidak kehilangan wibawa? Dalam pusaran perubahan ini, konsep qawwam dalam Islam terasa penting untuk direnungi kembali.

Dalam Al-Qur’an surah An-Nisā ayat 34 disebutkan bahwa laki-laki adalah qawwām bagi perempuan. Sebagian orang menafsirkan ayat ini seolah menempatkan laki-laki di posisi lebih tinggi. Padahal, tafsir yang lebih mendalam menunjukkan makna tanggung jawab, bukan kekuasaan. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa qawwam berarti kewajiban laki-laki untuk menjaga, melindungi, dan menafkahi keluarganya. Kepemimpinan dalam Islam bukan soal otoritas atau dominasi, melainkan soal amanah yang dijalankan dengan adil, penuh kasih, dan kesadaran spiritual.

Namun, makna ini sering tertutupi oleh budaya patriarki. Banyak ayah tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu kuat, tidak boleh rapuh, dan jarang menunjukkan perasaan. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak selalu hadir secara emosional. Anak dan istri membutuhkan lebih dari sekadar keberadaan tubuh—mereka membutuhkan kehadiran hati, perhatian, dan empati. Tanpa itu, hubungan keluarga menjadi renggang meski rumah tetap terlihat harmonis dari luar.

Pemikir asal Maroko, Fatima Mernissi, menekankan bahwa ketimpangan gender dalam masyarakat Muslim bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari interpretasi sosial-patriarkal dan tradisi yang membekukan peran perempuan. Menurut Mernissi, Islam sejatinya mengajarkan kemitraan, keadilan, dan penghargaan terhadap hak masing-masing anggota keluarga. Oleh karena itu, ayah yang qawwam sejati bukanlah penguasa rumah, melainkan mitra yang menuntun, berdialog, dan bertumbuh bersama keluarga. Ia hadir sebagai penuntun, tetapi bukan penekan; sebagai pengayom, tetapi bukan penguasa.

Pandangan serupa dikemukakan Siti Musdah Mulia. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan dalam keluarga tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kapasitas moral dan tanggung jawab seseorang. Qawwamah, kata Musdah, adalah amanah, bukan hak istimewa laki-laki. Keluarga yang sehat tidak dibangun atas hierarki dan ketakutan, tetapi atas prinsip keadilan, kesalingan, dan saling menghargai. Anak-anak belajar dari ayah bukan karena takut, tetapi karena kagum dan merasa dicintai.

Amina Wadud menambahkan perspektif penting. Ayat tentang qawwāmūn, menurutnya, bukan untuk menunjukkan superioritas laki-laki, tetapi mengatur tanggung jawab sosial dan moral. Kepemimpinan sejati adalah bentuk pelayanan: menebar rahmat, membimbing dengan kasih, dan bukan menuntut kepatuhan. Dalam praktik sehari-hari, ayah yang memahami prinsip ini hadir secara utuh—baik secara fisik, emosional, maupun spiritual.

Dalam keluarga modern, menjadi ayah berarti hadir sepenuhnya. Anak membutuhkan ayah yang mau mendengarkan, berbicara, dan memberi ruang untuk ekspresi mereka. Istri membutuhkan pasangan yang mau bekerja sama, berdiskusi, dan membangun keputusan bersama. Seorang ayah yang qawwam bukanlah sosok yang menuntut dihormati, tetapi yang menunjukkan teladan, rasa hormat, dan kepedulian terlebih dahulu. Kehadiran seperti ini menumbuhkan kepercayaan, ketenangan, dan rasa aman dalam keluarga.

Hari Ayah seharusnya menjadi momen untuk menafsir ulang makna kepemimpinan dalam keluarga. Dunia boleh berubah, tetapi nilai kasih, tanggung jawab, dan kehadiran tetap abadi. Menjadi qawwam bukan berarti memegang kendali, melainkan memikul amanah dengan hati. Kekuatan seorang ayah terletak bukan pada otoritas, tetapi pada kesediaannya menjaga, mendengar, dan mencintai keluarganya dengan tulus. Saat ayah hadir secara penuh, keluarga tumbuh menjadi ruang aman, hangat, dan harmonis—tempat anak belajar kehidupan, dan tempat pasangan saling menguatkan.