April 18, 2026
tangis penderitaan rakyat ada kekeringan

yusuf achmad

Kering di dalam kerontang,
Bukan di luar,
tapi di ulu hati yang gersang.
Tanpa pohon, daun, atau bunga indah menghias.
Aku berjalan melewati tanah gersang,
merasakan panasnya matahari yang menyengat kulit.

Di sekelilingku, tak bisa bicara, menangis, atau tertawa pasrah.
Tanganku mencoba menyentuh pepohonan yang layu,
tetapi mereka hanya diam tak bersuara.

Jerit mulut-mulut polos,
Terselip di antara hidangan lezat penuh kuasa.
Tertelan di mulut mereka yang hatinya kering kerontang.
Mataku melihat anak-anak kecil yang lapar,
sementara para penguasa menikmati hidangan mewah.

Oksigen dan air bersih, seharga bahan bakar yang terus melayang.
Setiap tetes air menjadi berharga,
seperti mencari emas di gurun pasir.

Beton, besi, dan bangunan tinggi,
Berdiri sombong, mencibir bumi.
Aku berdiri di antara bangunan pencakar langit, merasa kecil dan tak berdaya.

Tak salah kata mereka, tanda tangan disalahgunakan,
Di tengah gelapnya kehidupan,
mereka tetap bersenang-senang ria.
Di balik pintu tertutup, mereka tertawa dan bersulang,
tak peduli pada jerit hati yang tersembunyi

Jalan beraspal tak cukup, gunung tinggi pun mereka robohkan,
Jerit fauna dan flora terpercik api dalam liku pembangunan.
Aku melihat hutan yang terbakar, flora dan fauna merintih dalam derita.

Tangan yang dulu suci,
kini najis tak berharga diri,
Yang semula milik rakyat sejati,
kini dijarah tanpa henti.
Dengan tangan kotor mereka,
merampas apa yang bukan haknya,
meninggalkan luka di hati rakyat.

Surabaya, 10 Februari 2025

(Puisi ini pernah disiarkan oleh PPIPM)