April 19, 2026
rizal1

Rizal Tanjung: Sastrawan dan Budayawan Sumatera Barat.

Oleh: Rizal Tanjung

Catatan Puitis tentang Guru, Murid, dan Pendidikan yang Kehilangan Bahasa Nurani

Sekolah seharusnya menjadi rumah sunyi bagi pertumbuhan akal dan akhlak,
namun hari ini ia sering berubah menjadi gelanggang
tempat suara meninggi, emosi bertabrakan,
dan tubuh-tubuh yang mestinya belajar menahan diri
justru saling melukai.

Di ruang kelas yang dindingnya penuh slogan moral,
kita menyaksikan paradoks paling menyedihkan:
pendidikan berbicara tentang etika,
tetapi gagal mempraktikkannya
ketika krisis datang mengetuk pintu.

Guru yang Terpojok, Murid yang Meledak

Setiap kali terjadi benturan antara guru dan murid,
narasi yang paling cepat diambil adalah narasi aman:
“Ini salah didikan orang tua.”
Kalimat itu diucapkan seperti palu—
keras, final, dan menutup percakapan.

Guru lalu berdiri sebagai korban tunggal,
murid sebagai biang kerusakan moral,
orang tua sebagai sumber kebobrokan,
sementara sistem pendidikan
bersembunyi di balik kurikulum dan regulasi
seolah ia tak pernah bersalah.

Padahal, kekerasan tidak pernah lahir dari ruang hampa.
Ia adalah akumulasi:
dari kata-kata yang merendahkan,
dari otoritas yang tak mau mendengar,
dari disiplin yang berubah menjadi penghinaan,
dan dari emosi yang terus ditekan
hingga suatu hari meledak.

Ketika murid—sesama lelaki—mengeroyok gurunya,
kita memang harus mengecam tindakannya,
tetapi kita juga wajib bertanya:
apa yang gagal sebelum pukulan pertama itu terjadi?

Kekerasan fisik tetaplah salah,
namun menyederhanakannya sebagai “murid kurang ajar”
adalah cara paling malas
untuk menghindari introspeksi.

Berbeda halnya bila murid lelaki melakukan kekerasan
terhadap guru perempuan—
itu adalah pelanggaran berlapis:
kekerasan, ketimpangan kuasa,
dan kebiadaban moral
yang tak bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun.

Namun keadilan menuntut konsistensi,
bukan keberpihakan selektif.

Ketika Guru Lupa Bahwa Ia Juga Manusia Berkuasa

Di sisi lain kelas,
kita tak bisa menutup mata
pada berita yang berulang seperti kutukan:
guru lelaki melecehkan murid perempuan,
dengan dalih bimbingan,
kedekatan,
atau otoritas.

Di sini, pendidikan runtuh sepenuhnya.

Guru yang seharusnya menjadi penjaga batas
justru melanggarnya,
menjadikan tubuh murid
sebagai wilayah kekuasaan sunyi
yang tak tercatat dalam rapor.

Ironisnya,
dalam kasus seperti ini
sering kali institusi memilih diam,
menjaga nama baik sekolah
lebih ketimbang melindungi korban.

Pendidikan lalu berubah menjadi topeng moral,
bukan ruang etika.

Perkelahian Bukan Selalu Kriminal, Tapi Selalu Tanda Bahaya

Tidak semua benturan guru dan murid
layak diseret ke ranah kriminal.
Banyak di antaranya hanyalah
emosi yang gagal ditahan,
letupan sesaat
dari relasi yang sejak lama retak.

Namun menyebutnya “bukan kriminal”
bukan berarti menganggapnya sepele.
Justru di situlah alarm berbunyi.

Perkelahian adalah bahasa terakhir
ketika dialog sudah mati.

Ia menandakan bahwa sekolah
tak lagi memiliki mekanisme mendengar,
tak lagi punya ruang aman
untuk menyalurkan marah, kecewa, dan frustasi.

Kesalahan Terbesar Pendidikan Kita

Kesalahan terbesar pendidikan hari ini
bukan pada murid yang melawan,
bukan pula pada guru yang lelah,
melainkan pada sistem yang mengajarkan kepatuhan
tanpa empati,
disiplin tanpa dialog,
dan moral tanpa keteladanan.

Kita mengukur kecerdasan dengan angka,
tetapi lupa mengajarkan cara mengelola emosi.
Kita memuja prestasi,
namun membiarkan relasi kuasa
berjalan tanpa pengawasan etis.

Guru dipaksa menjadi aparat ketertiban,
murid dipaksa menjadi objek,
orang tua dijadikan kambing hitam,
sementara negara sibuk menambal kebijakan
tanpa menyentuh akar.

Pendidikan yang Lupa Cara Menjadi Manusia

Pendidikan yang benar
tidak lahir dari ketakutan,
tetapi dari rasa saling menghormati.

Guru bukan dewa yang kebal kritik.
Murid bukan musuh yang harus ditundukkan.
Orang tua bukan penjahat moral.

Mereka semua adalah manusia
yang sama-sama bisa gagal
dan sama-sama bisa belajar.

Selama pendidikan kita masih lebih sibuk
menjaga wibawa
daripada membangun kepercayaan,
selama itu pula kelas akan terus menjadi gelanggang,
dan ilmu kehilangan maknanya.

Mengembalikan Pendidikan ke Bahasa Nurani

Pendidikan seharusnya mengajarkan
bagaimana menjadi manusia
sebelum menjadi apa pun.

Jika guru dan murid saling melukai,
itu bukan semata soal siapa yang salah,
melainkan tanda bahwa
kita telah terlalu lama
mendidik tanpa mendengar.

Dan di situlah letak kegagalan paling sunyi
dari sebuah sistem
yang mengaku mencerdaskan kehidupan bangsa,
namun lupa mencerdaskan hatinya sendiri.


Sumatera Barat, Indonesia, 2026