Ketika Teguh dan Kalut Bergumul
yusuf achmad
Di dalam kekalutan yang tak bertepi,
jiwa bertanya kepada langit:
Kapan badai ini kan reda?
Detak pikiran melukis jalan yang berliku,
sementara hati merintih dalam sunyi
yang menjelma jurang tanpa dasar.
Bukan karena cinta yang layu
atau harta yang menggoda,
bukan pula urusan remeh
yang mengikat jiwa pada bayang-bayang fana.
Ini adalah jerit nurani
kepada keteguhan yang abadi,
doa yang melesat menembus batas langit,
kepada Sang Maha Perkasa.
Agar hati ini diberi kekuatan
menundukkan diri,
bebas dari iri,
lepas dari dengki,
dan jauh dari bisikan ular berbisa
yang merayap di lorong-lorong jiwa.
Belenggu itu melilit bagai baja,
erat dan tak terlepaskan.
Aku berlari, namun ia semakin kuat;
aku melawan, namun ia terus menjerat.
Perasaan iri, dengki, dan benci
berakar dalam palung batin yang rapuh.
Wahai jiwa yang terombang-ambing,
mungkinkah keteguhan itu akan datang sendiri?
Atau inikah kelemahan manusia,
tersesat di simpang jalan tak bertepi?
Wahai kekuatan yang tak bertepi,
Engkaulah pelindung yang kupanggil,
penawar luka dalam doa tak bersuara.
Engkaulah cahaya yang memecah gulita,
penunjuk jalan yang tersembunyi.
Kapan Engkau menjelma
menjadi keberanian yang tak tergoyahkan,
kekuatan yang menghapus keraguan,
dan ilmu
yang menuntun langkah kepada kebenaran?
Kepada-Mu, ya Rabb,
kutitipkan segala gelisah
dan harapan akan damai.
Bimbinglah jiwa ini,
bukan hanya untuk melawan dunia,
tetapi untuk mengalahkan diri sendiri,
dan menemukan jalan pulang
ke dalam rahmat-Mu
yang tak bertepi.
Surabaya, 30 Desember 2024
(pernah disiarkan dalam PPIPM)