KUBANGAN PUISI DALAM WAJAH RENDEZVOUS
Oleh Anto Narasoma
–
PERSANDINGAN karya puisi dari 63 penyair di dalam buku antologi Rendezvous ini, isinya mencirikan struktur kekayaan batin, keindahan (seni) dan konsep gagasan ide yang cerdas dan menarik untuk ditelisik.
——————–
Dari lembaran sajak karya penyair yang dihimpun di dalam antologi ini, tampaknya sengaja dipilih secara ketat dan benar-benar terseleksi puisi-puisi yang layak ditampilkan.
Maka tak heran apabila para penyair yang puisi lolos dalam kumpulan sajak bersama ini, sangat bangga ketika menerima buku antologi puisi ini.
Sebagai penggagas penerbitan buku antologi ini, Wayan Jengki Sunarta dan kawan-kawan dari Bali Politika tahun 2023, sudah berusaha sekuat tenaga untuk menampilkan karya berkualitas pada periode penerbitan buku antologi Rendezvous ini.
Maka kumpulan puisi setebal 74 puisi (tak termasuk keterangan lain dan biodata penyair) ini, diterbitkan Pustaka Ekspresi yang bekerjasama dengan PT Bali Warta Kencana, terkesan eksklusif.
Apalagi ilustrasi wajah buku dikerjakan Handy Saputra mengesankan wajah buku sastra (puisi) klasik yang bernuansa estetika.
Terlepas dari itu, tampaknya Wayan Jengki Sunarta tak membedakan penyair kemarin sore atau penyair yang sudah karatan. Semua penyair mendapat porsi dan ruang yang sama.
Sedangkan nama-nama penyair yang terseleksi, diatur sesuai dengan abjad nama yang bersangkutan.
Jika ditelisik secara akurat, puisi-puisi yang ditampilkan lebih mengedepankan kaitan jiwa (penyair), alam, kekaguman terhadap sesuatu, serta kepercayaan pada Sangmaha Kuasa.
Ini tidak memgherankan karena tiap penyair memiliki jiwa yang menampung ide di luar dirinya. Maka ketika ia (penyair) menangkap ide yang berkelindan, penyair segera mengembangkannya ke dalam karya. Bahkan ada juga penyair yang mengendapkan idenya itu terlebih dahulu, setelah itu baru dikaryakan.
Seperti pendalaman jiwa penyair Agus Widiey dari Sumenep Madura, yang menulis karyanya tentang mati. Meski tak ia jelaskan hal-ikhwal soal mati, tapi dari ide, lirik dan larik puisinya, berkisah tentang itu (kematian).
panggil aku malam ini// agar sepi cepat menepi//karena sebentar lagi// aku akan kehilangan diri
Dari bait pertama penyair sudah menjelaskan soal kematiannya ( aku akan kehilangan diri ).
Pada bait kedua, penyair lebih menjelaskan konsep kematiannya (dalam syair), panggil aku malam ini// dan biarkan aku mendengar// sampai bulan berganti matahari// sampai mata tertutup rapi.. (halaman 3)
Meskipun konsep awalnya penyair menyatakan perihal tidur, namun secara mendalam, apa yang dituturkan itu pendekatan falsafahnya mengurai ikhwal kematian ( aku akan kehilangan diri(baris terakhir dari bait pertama) dan sampai mata tertutup rapi(larik akhir dari bait kedua).
Pada halaman 8 terdapat puisi menarik untuk diresensi, yang bertajuk Rayuan Sang Iblis. Puisi ini ditulis penyair April Artison.
Kemarin aku bermain dengan iblis// Ia menjelma sayap malaikat//Memberiku coklat sebab valentine sudah dekat// Colotehnya menajamkan lidahku// Ternyata dia lebih manis dari coklat..
Dari uraian itu, secara semiotik penyair banyak menggunakan kata perumpamaan, sehingga pembaca harus lebih dalam menelaah tujuan puisi secara intenstion.
Pendekatan falsafah semacam ini, pembaca lebih diarahkan pada perumpamaan iblis yang menjelma seperti malaikat.
Coba kita lanjut ke bait kedua yang menuturkan kata mencicipi (mu) malam ini. Apakah ini sesuatu ungkapan yang mengarah ke dunia “kotor”? Nanti dulu.
Boleh aku mencicipimu malam ini?// Sebab ranum tubuhmu meniupkan wangi// Di antara duri-duri dan bunga kasturi// Geliatmu menari bersama asap tembakau// Merengkuh keliaran yang tertahan di ceruk matamu..
Ternyata jika dilakukan dengan pendekatan kejiwaan, dari balik lapisan kalimat yang dipaparkan mengantarkan nilai “nafsu”. Sebab secara konotatif, iblis dalam kalimat pertama adalah wanita.
Dari tuturan kata yang diucap iblis (wanita), nilai rasanya (feel) begitu manis dan penuh rayuan, hingga penyair (aku lirik) ingin (mencicipimu) nya.
Dalam baris ketiga dan kelima pada bait satu, penyair menyajikan kata coklat (panganan yang menggoda). Benarkah kata coklat itu diungkap sesuai yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ?
Di dalam KBBI, kata coklat harus ditulis cokelat. Sebab sesuai kata baku yang tertulis di kamus itu adalah cokelat. Karena itu April Artison perlu memperhatikan hal-hal kecil seperti itu, agar lapis tema yang diungkap di kedalaman puisi semakin kuat.
Di halaman 12 antologi Rendezvous ini ada penyair senior Bambang Widiatmoko. Penyair menulis puisi bertajuk Pulau Penyihir. Tatkala ditelaah dari tiap kalimat yang ada, tema yang tersaji sangat imajiner.
Dari bait pertama, penyair mengungkap kekagumannya terkait pulau penyihir (Nusa Penida). Bisa jadi, selain Bambang menyukai suasana Pulau Nusa Penida dengan segala aspek peninggalan masa lalunya, ia (penyair) juga memandang situs masa lalu, seperti layaknya karya penyihir.
Justru sebagai pencinta benda masa lalu yang berbentuk prasasti, bagi penyair seolah itu karya penyihir. Karena itu penyair mencari-cari jejak penyihir yang tak diketemukan jejak langkahnya.
Di pulau ini kucari jejak para penyihir// Yang telapaknya tercetak di atas hamparan pasir// Mungkin jejak itu telah pergi semakin jauh// Saat musuh mendekat untuk berlabuh..
Dari struktur rasa ( feel of poe), penyair merasakan nilai prasasti yang ada di sana, seolah digurat secara estetis terkait kutukan.
Benda-benda prasejarah semacam itu memang memiliki nilai imajinasi personal yang memunculkan ide-ide kreatif.
Pada bait kedua, penyair merasakan bahwa di kawasan Pulau Penyihir sangat aman dan tentram, karena tak terdapat terdapat lagi kutukan (mungkin gangguan kriminal).
Dikotomi semacam ini membuat pembaca harus berpikir lebih dalam terkait kata kutukan tersebut.
Di tanah tua Nusa Penida// Kini menjadi sihir yang membebaskan kutukan// Dan orang-orang berlomba terus berdatangan// Seperti patung-patung hidup dan berjalan.
Sementara dari barisan penyair yang lolos seleksi, terdapat juga penyair senior yang kerap disebut sebagai Paus Sastra dari Lampung, Isbedy Stiawan ZS.
Isbedy menulis puisi berjudul Ibu. Puisi ini diangkat penyair terkait kecintaan dirinya sebagai anak. Ternyata dalam hubungan ini pendekatan kejiwaan seorang anak mampu bersentuhan dengan lapis ekstrinsik (di luar dirinya) dan intrinsik (di dalam diri penyair).
Karena kekagumannya yang begitu mendalam terhadap sang ibu, penyair tak mampu membayangkan wajah ibunya. Sebab berulang kali ia (penyair) mencoba untuk mengingatnya, yang dia ingat hanya sentuhan dan belaian cinta kasih dari sang ibu.
setiap kali ingin kutulis namamu// selalu hurufhuruf itu pergi jauh:// bagai merpati nampak jinak namun// segera terbang saat ditangkap
Begitu gigihnya penyair untuk menghadirkan ibu lewat ingatan. Justru muncul keinginannya menuliskan rangkaian cerita kasih sayang ibu.
Tapi Isbedy tak mampu melakukannya. Bahan-bahan berupa huruf sebagai sarana untuk menghadirkan ibunya (barangkali sudah tiada), justru huruf-huruf itu tak mampu ia rangkai (terbang menjauh ke udara seperti burung).
Pada alinea kedua halaman 40, Isbedy mencatat tentang beratnya perjuangan ibu saat membesarkannya.
setiap kali ingin kuurai kasihsayangmu// air mata dan keringanmu, yang sampai// padaku cumalah wajahmu : sedikit// mengantuk, terseok menyiapkan susu// dan mengajariku merangkak dan cara berjalan
Jika kuperhatikan dari beberapa puisi sebelumnya, penyair Isbedy kerap menyatukan dua kata menjadi satu. Misalnya huruf-huruf, menjadi satu pokok, hurufhuruf.
Dari rumusan kata baku di KBBI, dua kata itu (huruf-huruf) harus dipisah. Namun Isbedy (barangkali) mempunyai alasan sendiri untuk merangkumnya. Itulah prinsip dasar puisi.
Namun baik puisi, cerpen, artikel, atau resensi sastra, memiliki keharusan untuk menggunakan kata dan kalimat sesuai KBBI.
Terlepas dari itu, ada dua penyair senior yang mengungkap kekaguman terhadap “Dewa Sastra” yang selama berkarya di sepanjang hidupnya, telah memberikan catatan terbaik bagi penyair-penyair nasional yang juga memiliki nama besar.
Umbu Landu Paranggi, telah membagi unsur dasar ilmu sastranya bagi penyair antara lain, Emha Ainun Najib dan Ebit G Ade.
Atas prestasi yang prestise inilah kekaguman itu dimunculkan lewat puisi Kekasih Sunyi (Marwanto) dan Menyapa Sunyi Tanpa Kata yang ditulis penyair senior Ngakan Made Kasub Sidan.
Kekaguman Marwanto diungkapnya secara tematis lewat bait pertama puisi Kekasih Sunyi…
kau yang singgah di hati// sejatinya tak pernah pergi// pada jejak yang kulewati// selalu tumbuh puisi.
Sscara analisis, penyair berusaha mengungkap dan menjelaskan kekagumannya selama ia mengetahui (bisa jadi sahabatnya) Umbu.
Dalam uraiannya pada bait pertama, penyair Marwanto sudah mengenal seniornya Umbu Landu Paranggi ( kau singgah di hatiku: kalimat di baris satu bait satu) dan pada jejak yang kulewati (kalimat ketiga di bait satu).
Marwanto sangat kagum terhadap sikap Umbu yang begitu piawai memahami dan menuliskan ide di luar dirinya untuk dijadikan puisi ( pada jejak yang kaulewati// selalu tumbuh puisi..).
Itu artinya, keberadaan sang Dewa Sastra itu sangat menginspirasi Marwanto. Persoalan itu diungkapnya pada alinea kedua…
puisi yang tak lekang// dalam genggaman anak zaman// mendadar diri merawat sunyi
Lapis norma terkait kepiawaian Umbu tampaknya begitu kuat ia jelaskan. Dari sisi berbagi ilmu kepada.murid-muridnya ( puisi yang tak lekang// dalam genggaman anak zaman// mendadar diri merawat sunyi).
Dari kedekatannya dengan Umbu Landu Paranggi timbullah prase-prase yang melahirkan pola-pola kenangan yang bqrangkali pernah Marwanto alami.
Sementara itu pada puisi Menyapa Sunyi Tanpa Kata yang ditulis Ngakan Made Kasub Sidan, coraknya sangat berbeda. Meski kedua penyair mengutarakan persoalan ilmu sastra, namun diungkap lewat cara yang sangat berbeda.
Di bait pertama (puisi buat Umbu Landu Paranggi diurai Kasub Sidan sebagai berikut..
Perburuan yang terbenam di tepian sabana// mencoba melukis bentangan busur// yang dilepas kuda sumba dari atas pelana// busur itu melesat sendiri menyapa sunyi tanpa kata// memburu dunianya dalam keabadian// bersemayam dalam rumah kata penuh rahasia.
Meski puisi ini diurai secara tersamar, namun tak ada kalimat puisi yang baik tidak mengurai kandungan artinya.
Inilah yang disebut sense (arti secara tematik) untuk menguraikan pokok persoalan dalam bahasa tanda-tanda (semiotik).
Dalam bait pertama itu dijelaskan oleh Kasub Sidan terkait perjuangan Umbu yang mengembangkan dunia sastra di daerahnya. Karirnya itu dikonotasikan sebagai busur yang melesat tajam, sehingga mampu membentuk dunia pendidikan sastra yang hidup dan mencerdaskan.
Dari sejumlah puisi, baik yang Umbu tulis sendiri, maupun puisi murid-muridnya, seolah hidup dan memiliki ruh dari sisi metode dan hakikatnya.
Hal itu dijelaskan pula di bait kedua, ..Di sini di bentangan tanah leluhur// sepanjamg muara sungai berfigura aksara// kau roh kata-kata bermantra// pada sekawanan kembara pemburu makna..
Nah, di bait kedua ini Kasub Sidan menuturkan sejumlah murid yang meneruskan eksistensi Umbu di dunia sastra nasional. Yang pasti, hingga saat ini kehadiran Umbu di dunia sastra telah menghadirkan ratusan prestasi yang prestise, meskipun ia sendiri “tak pernah” mempublikasi dirinya sendiri (diam dalam sunyi).
Seperti dijelaskan di awal, himpunan puisi 63 penyair ini mengungkap beragam masalah, meski dibagi dalam katagori yang sama (ide) tapi berlainan corak penyajian.
Seperti penyair wanita dari Bengkulu –Merawati May– yang mengungkap soal kekagumannya tentang alam Bukit Kaba.
Dari bait awal puisi bertajuk Di Puncak Bukit Kaba yang ia tulis, menyatakan kekagumannya tentang alam bukit tersebut.
Membumbunglah pikiran// tatkala keinginan itu// menjadi tiang pancang// bagi Bukit Kaba…
Secara jelas ketika ia tiba di bukit itu, kekagumannya begitu memancar, sehingga alam bukit yang membentang itu membuka arus pikirannya lewat daya ungkap yang merumuskan puisi ini.
Seolah terjadi komunikasi intelektual antara keindahan, ketinggian bukit, dan kekayaan alam secara terbuka.
Terjadinya konteks komunikasi intelektual semacam ini mencakup kekaguman, keindahan dan kebesaran alam, ketinggian Sangmaha Tinggi, serta komunikasi tentang kepribadian penyair.
Dari sekelumit ulasan terhadap hasil karya beberapa penyair, diharapkan mampu membangun komunikasi pribadi dengan beragam ide yang muncul di lapangan.
Hal ini akan menjadi dasar paling kuat bagi penyair untuk terus berkreasi seperti yang dikemukakan penyair sufi Arab –Muhammad Hafez Shirazi–, belajar, belajar, belajar, dan berkarya.
Artinya, untuk memahami segala persoalan yang terjadi di luar diri seseorang, kita pun membutuhkan tingkatan belajar. Tiga season belajar, baru kita berkarya. Inilah letak kekuatan satu karya.
Di dalam antologi Rendezvous masih banyak penyair berkualitas seperti Tri Astoto Kodarie, Sugiono MP, Sultan Musa, serta sejumlah penyair berbakat lainnya.
Baik, selamat membaca dan menikmati keindahan estetika di dalamnya. Bahkan pernyataan ketatabahasaan memegang peranan penting dalam membangun stilistis puisi yang indah dan berkualitas. ( penulis adalah sastrawan dan jurnalis senior )
Palembang
18 Juli 2023