April 17, 2026
yusu5

Oleh Yusuf Achmad

Dalam percakapan sehari-hari, kerap kali kita mendengar perkataan seperti “Eh, kamu sudah lihat seri terbaru dari Naruto?” atau “Iya, orang-orang Jepang jago dalam industri dan teknologi.” Ucapan lain seperti “Hallo sir…,” “Lihat itu hebat ya mereka…orang-orang Amerika dan Eropa,” dan “Ayo nonton film Barat (produksi Hollywood)” juga sering terdengar. Ini adalah contoh percakapan yang umum di masyarakat kita. Hampir jarang kita sebagai bangsa Indonesia membanggakan diri kita sendiri, padahal sebenarnya kita jauh lebih hebat dari bangsa-bangsa di dunia ini. Mengapa kita lebih sering membanggakan orang atau bangsa lain? Jika kita mau mencari sebabnya, tentu akan dapat diuraikan banyak sebab dari beberapa sudut pandang, seperti politik, budaya, sosial, sains dan teknologi, pendidikan, sejarah, dan lain-lain. Untuk memulainya, mari kita coba menganalisis dari sudut pandang sejarah.

Presiden pertama RI, Bung Karno, pernah berucap, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi sejarahnya.” Sudahkah kita mengenal sejarah diri kita? Ambil contoh yang paling kecil, ternyata terjadi perubahan bahwa nama-nama dari orang Indonesia, khususnya generasi muda, lebih membanggakan nama-nama yang berbau kebarat-baratan daripada nama yang berakar dari budaya Indonesia. Kenyataan ini diperparah dengan gurauan yang dilakukan oleh para pelawak yang secara sadar atau tidak sadar telah merendahkan akar sejarah kita, yaitu nama asli Indonesia, khususnya orang desa. Konyolnya, kita juga mengikuti dan membenarkan gurauan pelawak-pelawak itu. Syukur ada beberapa yang masih bangga dengan nama desanya, ambil contoh Thukul. Meski sudah sukses, ia tidak mengikuti tren nama kebarat-baratan dan masih bangga akan sesuatu yang berasal dari desa di Indonesia.

Kebanggaan berlebihan kepada hal-hal yang berbau kebarat-baratan dan bukan dari akar kehidupan sekeliling kita disebabkan karena kita latah dan kebablasan melihat sesuatu yang tampaknya hebat tapi tanpa didasari oleh fakta dan ilmu pengetahuan yang mendasar. Sehingga kita terjerumus dan rendah diri jika harus membandingkan antara kita dan bangsa asing. Seolah bangsa asing itu jauh lebih hebat dari bangsa Indonesia. Padahal sesungguhnya orang Indonesia adalah orang hebat. Bila kita mau membaca buku atau membuka internet, kita akan sadar sekaligus bangga ketika tahu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa super hebat. Tidak hanya terbatas pada kejayaan kerajaan-kerajaan yang pernah jaya di Indonesia pada masanya, seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, tetapi ternyata bangsa Indonesia adalah keturunan Bangsa Lemuria. Siapakah bangsa Lemuria itu?

Bangsa Lemuria adalah bangsa yang pernah hidup di dunia ini, tepatnya di benua Atlantis. Apa benua atau wilayah Atlantis itu? Menurut Plato, seorang filosof murid Sokrates yang arif dan bijaksana, wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu pengetahuan-teknologi, dan lain-lain. Penduduk dari wilayah ini disebut bangsa Lemuria (Plato, Timaeus and Critias, hal. 42-45).
Adalah benar bahwa masih ada perdebatan tentang siapa dan di manakah bangsa Lemuria dan benua Atlantis itu. Tetapi kita sebagai bangsa Indonesia patut mempercayai temuan dan hasil penyelidikan bertahun-tahun dari seorang arkeolog asal Brazil bernama Prof. Dr. Aryso Santos.

Berdasarkan penelitiannya, Pak Santos menegaskan teorinya bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005, hal. 87-93). Pak Santos menampilkan 33 perbandingan ciri-ciri dari 12 lokasi di muka bumi yang diduga para sarjana lain sebagai situs Atlantis, seperti luas wilayahnya, cuacanya, kekayaan alamnya, gunung berapinya, dan cara bertaninya. Akhirnya, Pak Santos menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia sekarang. Salah satu buktinya adalah sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko (Ibid).

Pak Santos juga menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis, dan arkeologis dalam penelitiannya. Dia banyak mendapatkan petunjuk dari relief-relief bangunan-bangunan dan artefak bersejarah, piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec di Amerika Selatan, candi-candi dan artefak-artefak bersejarah peninggalan peradaban Hindu di lembah sungai Hindustan (Peradaban Mohenjodaro dan Harrapa). Dia juga mengumpulkan petunjuk-petunjuk dari naskah-naskah kuno, kitab-kitab suci berbagai agama seperti the Bible dan kitab suci Hindu Rig Veda, Puranas, dan lain-lain.

Nah, inilah kenyataan yang membuka kesadaran dan kebanggaan kita. Ternyata kita adalah bangsa yang hebat yang melampaui kehebatan bangsa barat atau Jepang atau bangsa manapun yang pernah hidup di masa sebelum kejayaan bangsa Romawi dan Yunani yang diagung-agungkan oleh bangsa barat dewasa ini. Bukti-bukti telah dipaparkan oleh Pak Santos di atas. Sebut saja bangsa yang diagung-agungkan oleh dunia yang meramalkan kiamat akan terjadi tahun 2012 dengan dasar ilmu pengetahuannya dan menggunakan hitungan akhir hari berdasarkan penanggalannya. Bangsa Aztec, yang dianggap berperadaban tinggi, mengatakan sistem penanggalan akan habis pada tahun 2012 dan itu juga berarti salah satu pertanda bahwa dunia akan hancur pada saat itu juga.

Berbeda dengan penanggalan orang Jawa yang pada tahun 2020 belum habis. Ini menunjukkan bahwa orang Jawa yang bangsa Indonesia lebih hebat dari bangsa Maya-Aztec yang diagung-agungkan oleh dunia saat ini (Relief Borobudur, Borobudur Temple Research, hal. 212-215).

Kenyataan lain ternyata masih banyak orang Indonesia yang hebat-hebat. Lihat saja, ternyata tidak kurang dari 43 penemu dunia di bidang sains-teknologi, kesehatan, dan cabang ilmu lain adalah orang Indonesia. Misalnya, Yudi Utomo Imardjoko – penemu kontainer limbah nuklir; Sedijatmo – penemu konstruksi fondasi cakar ayam; Lalu Slamet Martadinata – penemu alat pemanggil ikan; M. Djoko Srihono – penemu penjernih air limbah; Maruni Wiwin Diarti – penemu senyawa anti mikroba, dan lain-lain. Mereka adalah sebagian dari 43 penemu dunia di atas.

Sebagai tambahan, pimpinan tim penemu planet Alien juga orang Indonesia yang bernama Jhony Setiawan. Beberapa orang kaya dunia juga adalah orang Indonesia. Profesor termuda di Amerika Serikat berusia 25 tahun adalah orang Indonesia yang bernama Prof. Nelson Tansu, PhD, yang berasal dari Medan. Dan masih banyak orang hebat Indonesia lainnya. Coba simak acara di Kick Andy yang menampilkan banyak orang hebat Indonesia, baik yang tua-muda atau pria-perempuan, semua ada (Setiawan, Jhony. “Discovery of Exoplanets,” Astrophysical Journal, hal. 543-548).

Revisi, 5-1-2025