April 19, 2026
leni6

Cover Kumpulan Puisi Leni Marlina: “Kita di Hadapan-Nya”. Sumber Gambar: Starcom Indonesia’s Poem Cover No. 15. 05012026–LM-SAN-NN.

/1/

Kita, di Hadapan-Nya

Puisi: Leni Marlina

_

Kita datang dengan kaki penuh jejak,
tangan membawa hari-hari tergesa,
dan malam-malam letih,
lalu berhenti
di hadapan-Nya.

Kita menyebut lelah sebagai hidup,
menyebut sibuk sebagai alasan,
padahal kita perlu jeda sejenak
untuk mengakui
betapa kecil diri
di hadapan-Nya.

Kita menata diri
dari sisa keberanian,
dari rencana dan impian,
dari doa panjang maupun singkat
yang entah bagaimana
tetap menemukan jalan
kepada-Nya.

Kita ingin benar tanpa melukai,
ingin kuat tanpa merendahkan,
ingin cukup tanpa berlebihan;
segala keinginan itu
kita hamparkan perlahan
di hadapan-Nya.

Jika dunia meminta kita cepat,
kadang perlu belajar pelan.
Jika dunia meminta kita keras,
perlu keberanian untuk lembut.
Jika dunia membuat kita bising,
kembalikan diri
ke sunyi hati
yang hanya Tuhan pahami.

Kita tahu
tak semua salah dapat dijelaskan,
tak semua luka dapat disembuhkan;
namun kita percaya,
selama langkah ini menghadap-Nya,
kita tidak sepenuhnya hilang.

Kita berjalan
bukan dengan bangga telah sampai,
melainkan sebagai manusia
yang terus belajar
agar layak Tuhan saksikan.

Bila suatu hari kita tiba
di ujung napas,
kita bermohon Tuhan menerima kita
apa adanya—
bukan karena pantas,
melainkan karena
kita berharap pada rahmat-Nya,
Tuhan Sang Maha Pencipta,
bukan kepada makhluk-Nya
yang kerap menuhankan
harta dan dirinya.

_

Padang, Sumbar, Januari 2026

/2/

Apa yang Tersisa

Puisi: Leni Marlina
_

Sebelum kata menjadi doa,
kami belajar hening
bukan untuk kosong,
melainkan agar sungguh hadir.

Kami menanggalkan nama
di ambang harap,
sebab di hadapan-Mu
segala sebutan
terlalu sempit.

Yang kami bawa tinggal getar:
sisa niat yang tak habis,
dan iman
yang memilih rendah
namun kuat
agar bisa dekat.

Jika Engkau bertanya
apa yang kami pinta,
barangkali ini saja:
izinkan kami tetap tinggal
dalam hening
yang mengenali-Mu.

Jangan Engkau biarkan kami
mencintai dunia
lebih sungguh
daripada mencintai-Mu.

_

Padang, Sumbar, Januari 2026

/3/

Waktu Berjalan

Puisi: Leni Marlina

Waktu berjalan
menyebut nama-Mu,
segala yang disentuhnya
perlahan
kehilangan bentuk.

Aku menua
di antara jadwal dan kewajiban,
mengerjakan hidup
seperti tugas
yang kerap lupa tujuannya.

Di suatu senja
yang tak tercatat,
aku mengerti:
yang hilang bukan waktuku,
melainkan keberanianku
untuk berserah
dan mendengar-Mu.
_

Padang, Sumbar, Januari 2026

/4/

Doa yang Tinggal

Puisi: Leni Marlina
_

Kami menghafal doa
lebih cepat
daripada menumbuhkan iba.

Lidah kami bersih,
namun tangan kami
terlalu sering abai.

Wahai Tuhan,
jika Engkau menimbang iman,
janganlah hitung suara kami;
timbanglah
apa yang kami lindungi
saat tak ada yang melihat.

Sebab barangkali
yang paling jauh dari-Mu
bukan pendosa,
melainkan mereka
yang merasa sudah dekat,
lalu terlalu bangga.

Pada akhirnya,
doa tak lagi ingin didengar;
ia ingin jujur.

Kata-kata luruh
seperti daun tua,
meninggalkan niat
dan tubuh yang gemetar.

Di hadapan-Mu
kami belajar:
iman bukan apa yang kami ucapkan,
melainkan apa
yang tetap kami jaga,
ketika kami sungguh berserah diri
dan hanya Engkau
yang hadir sepenuh jiwa.

_

Padang, Sumbar, Januari 2026

____

Image: the translator & Indonesian Poet – Leni Marlina. Image source: PILF 2026 (Panorama International Literature Festival 2026).

BIODATA PENULIS

Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan berdomisili di Padang. Ia merupakan penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP), tempat ia mengabdi sejak tahun 2006.

Sejak 2022, Leni aktif sebagai anggota Persatuan Penulis SATU PENA Sumatera Barat serta terlibat dalam berbagai komunitas literasi dan sastra nasional maupun internasional. Karya-karya terbarunya meliputi buku kumpulan puisi tunggal The Beloved Teachers (2025), L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025). Selain menulis puisi, ia juga aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan jurnalistik.

Di samping aktivitas akademik, Leni aktif sebagai penulis lepas, editor, dan kontributor media. Ia dipercaya sebagai Redaktur yang berfokus pada isu edukasi, literasi, sastra, kebudayaan, dan kemanusiaan di dua media nasional, yakni Media Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com). Kedua media tersebut mengusung semangat “to voice the voiceless” dan dipimpin oleh Paulus Laratmase.

Dalam kegiatan kesusastraan dan akademik, Leni berperan sebagai Sekretaris Pelaksana Poetry-BLaD & ISoP (Poetry Book Launching and Discussion & International Seminar on Poetry, 31 Mei 2025) serta Ketua Pelaksana Creative Writing Workshop Departemen Bahasa dan Sastra Inggris UNP (11 November 2025). Ia juga kerap berpartisipasi dalam berbagai workshop, seminar, dan konferensi nasional maupun internasional di bidang bahasa, literasi, dan sastra sebagai peserta, moderator, maupun narasumber.

Sebagai wujud pengabdian pada literasi, ia mendirikan dan mengelola sejumlah komunitas literasi digital, antara lain PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), EL4C (English Language Learning, Literacy, and Literature Community), serta Trans_PC (Translation Practice Community).

Atas kiprahnya, Leni Marlina menerima penghargaan sebagai Penulis Berprestasi 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre, serta penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025).

Pada tahun 2025, ia ditunjuk dan dipercayakan sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus menjabat sebagai ASEAN Director for ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia juga dipercaya oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan pada Januari–Februari 2026 di India.

Leni telah menulis ribuan puisi sejak tahun 2000, dimulai sejak masa studi Sarjana di Program Studi Sastra Inggris UNP dan berlanjut saat menempuh Master of Writing and Literature (konsentrasi Literary Studies, Creative Writing, dan Children’s Literature) di Australia (2011–2013) melalui beasiswa pemerintah Indonesia. Produktivitas kepenulisannya terus berlanjut hingga kini. Baginya, menulis adalah ruang berbagi, refleksi, dan ikhtiar merawat nilai-nilai kemanusiaan melalui bahasa dan sastra.