May 10, 2026

Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) “Perahu dan Sungai” (Bagian 1)

leni5

Ilustrasi Puisi Leni Marlina "Di Sungai Barito Kisahmu Bermula". Sumber gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 702 by AI

/1/

Di Sungai Barito Kisahmu Bermula

Puisi oleh Leni Marlina

wahai engkau pemilik jukung,
perahu kecil yang tak takut mati,
menantang arus yang bercerita dalam diam.
dayungmu bagaikan pena,
menggoreskan jejak keberanian
di atas lembaran sungai
yang tak pernah benar-benar hening.

pagi memeluk tubuhmu dengan kabut,
seperti selendang yang usang,
namun kau tersenyum kepada sungai,
seolah menyapa sahabat lama.
di tanganmu, buah dan sayuran bagaikan cahaya kecil,
yang kau tukar dengan doa-doa
yang dilipat dalam suara tawar-menawar.

“seribu untuk dua, seribu untuk dua,”
suaramu bagaikan nyanyian kehidupan,
mengalir lebih jernih daripada air
yang mengelilingimu.
kau tahu, Barito adalah ibu
yang tak pernah pelit memberi,
sekalipun terkadang ia menguji dengan gelombang.

aku melihatmu,
menahan seimbang di atas perahu tua.
kau bukan hanya pedagang di pasar terapung,
kau adalah penjaga cerita.
perahu-perahumu membawa lebih dari barang dagangan—
mereka membawa harapan,
seperti bendera kecil
yang kau kibarkan kepada dunia.

kau tahu, hidup ini seperti sungai:
tidak pernah diam, tidak pernah pasti.
tapi kau belajar dari dayung dan gelombang,
bahwa menyeberangi arus bukanlah keberanian
melainkan kepercayaan.
kepercayaan pada jukung, perahu kecilmu,
pada riak yang menuntunmu,
dan pada langit
yang selalu mengawasimu dari jauh.

di Barito, aku mendengar ceritamu,
bukan dari mulutmu,
tapi dari percikan air
yang menghidupkan pasar ini.
kau, sang pahlawan keluarga di atas perahu,
bagaikan puisi yang tak pernah selesai,
mengajari kami bahwa hidup
bukan soal mencapai tepian,
tapi tentang aksi,
di tengah arus yang terus bergerak dalam hidup ini.

Padang, Sumbar, 2022

/2/

Pusaka yang Terapung

Puisi oleh Leni Marlina

di Muara Kuin,
jukung-jukung kecil beraksi di panggung air,
memeluk riak Barito
seperti ibu yang tak pernah letih mengayun anaknya.
kau, pedagang pagi,
menyusuri kabut dengan sekeranjang doa,
menawarkan jeruk, nanas, dan lainnya,
serta sejumput harapan
di bawah sinar matahari pertama.

dukuh dan panyambangan,
dua bayang yang saling menawar
di antara ombak kecil yang menyisipkan bisikan bapanduk.
barter di pasar terapung ini bukan sekadar transaksi,
melainkan puisi tanpa kata,
alunan yang hanya dimengerti oleh sungai
dan langit yang memantulkan gelombangnya.

namun kini,
di mana suara dayung menggema,
tinggal sunyi yang menelusuri kanal-kanal mati.
jukung terhenti,
tersisih oleh suara knalpot dan roda,
dan Barito hanya menjadi saksi
kepergian kisah yang pernah hidup di atasnya.
orang-orang tak lagi mendengar
nyanyian air yang membelah pagi,
tak lagi merasakan sentuhan
yang hanya bisa diberikan oleh arus.

kau, pedagang yang hilang dari sungai,
apakah kau juga kehilangan dirimu?
di jalan darat yang keras dan tak berpantul,
dimana kau letakkan impian-impianmu
yang dulu terapung bersama riak?

namun, sungai tak pernah sepenuhnya mati.
dalam ingatan Barito,
jukung masih perkasa,
bapanduk masih bergema,
dan Muara Kuin tetap hidup—
bukan sebagai pusaka yang terlupakan,
tetapi sebagai pelajaran
bahwa air selalu tahu jalan pulangnya,
dan tradisi yang tenggelam
akan mengapung lagi,
menemukan wajah baru di arus yang tak pernah usai.

Padang, Sumbar, 2022

————————————
*Jukung: Perahu kecil yang digunakan masyarakat Banjar untuk beraktivitas di sungai.

*Dukuh: Pedagang kecil yang menjual hasil produksi sendiri atau tetangga di pasar terapung.

*Panyambangan: Pedagang tangan kedua yang membeli dari dukuh untuk dijual kembali.

*Bapanduk: Transaksi barter antar pedagang di pasar terapung, bentuk interaksi yang mempererat solidaritas lokal.