/1/
SAAT PAGI MEMANGGILMU
Puisi: Leni Marlina
Pagi memanggilmu dengan warna paling tajam,
seolah ingin mengikis sisa gelap
yang menempel di bawah kelopak matamu.
Tapi kau berdiri dan bertahan,
seperti seseorang yang paham
bahwa cahaya tidak selalu setia.
Ada sesuatu yang kau tinggalkan semalam—
harapan yang terlalu berat,
atau penyesalan yang terlalu ribut.
Ia kini menggumpal,
menjadi bentuk asing
yang tak mampu ditiru bayangan.
Kau tak merapikannya.
Kau memindahkannya
ke dalam langkahmu,
membiarkannya menjadi lantai
tempat kau belajar
berjalan kembali.
Dan ketika matahari akhirnya
mengusap punggungmu,
kau mengerti:
hidup bukan hanya tentang cahaya terang
yang sempat kita peluk,
melainkan tentang keberanian
memikul gelap
yang belum sempat kita buang.
Melbourne, Australia 2011 & Padang, Sumbar, 2025
/2/
TUBUH MALAM YANG MEMBUATMU BERGETAR
Puisi: Leni Marlina
Kau datang pada malam yang menggigil,
membawa suara air
yang selama ini ditolak bumi dan langit.
Bulan menaruh bisikan paling tuanya di pundakmu—
ia tahu: luka selalu mengeluarkan cahaya
bahkan ketika manusia menutupinya dengan diam-diam.
Angin menyisir langkahmu
seperti seorang musisi renta
yang memilih nada paling rendah
untuk mengurai lagu kesedihan.
Namun kau terus berjalan,
membiarkan pecahan hatimu
memantul di batu-batu trotoar
seperti bintang yang jatuh tanpa membawa nama.
Tak ada benang, tak ada jarum—
hanya kain ketabahan yang engkau pakai dalam
reruntuhan paling sunyi,
seperti akar liar
yang tetap mencari hidup
meski musim menghapus alamatnya.
Dan dalam bayangmu kau mengerti:
manusia adalah malam itu sendiri—
ruang kosong yang terus terluka,
namun tak pernah berhenti berjuang
memanggil dan menjemput cahaya.
Melbourne, Australia 2011 & Padang, Sumbar, 2025
/2/
RUANG INTI DALAM JIWAMU
Puisi: Leni Marlina
Ada sebuah ruang inti dalam jiwamu,
dibangun dari debu waktu
dan langkah-langkah yang hilang sebelum sempat pulang.
Di sanalah kau menyimpan rahasia namamu,
agar dunia tak memanggilmu
dengan nada yang membuat luka kembali hidup.
Dinding-dindingnya bukan batu,
melainkan kenangan
yang mengeras menjadi mineral purba.
Saat kau menghela nafas
ruang itu bergetar—
seperti ingin runtuh,
seperti ingin bicara,
seperti ingin pulang ke langit
yang dulu menghadiahkanmu sebuah suara.
Namun kau tetap menatap ke depan,
membiarkan sunyi menapak di bahumu
seperti penjaga tua
yang telah terlalu sering
mengawal doa untuk kehilangan.
Kita semua pernah kehilangan diri,
tetapi kaulah yang paling berani
membiarkan kehilangan itu
duduk di pangkuanmu,
tanpa gentar pada hening
yang memakan namamu.
Melbourne, Australia 2011 & Padang, Sumbar, 2025
/3/
SUNGAI PECAH DI DALAM DIRIMU
Puisi: Leni Marlina
Kau kira suara itu hujan deras—
padahal sungai pecah di dalam dirimu.
Airnya mencari jalan
di lorong-lorong gelap
yang dulu kau tutup
dengan tawa yang tak pernah jujur.
Di luar, dunia berdesak mengejar waktu;
di dalam tubuhmu,
air membangun kerajaan yang tak diundang.
Ia membawa arus, membawa serpihan,
mengangkat reruntuhan
dari semua yang pernah kau sebut kekuatan,
merontokkannya
tanpa pernah meminta maaf.
Namun kau berdiri
di tepi senyummu sendiri,
membiarkan riak memisahkan
yang wajib diselamatkan
dari yang harus dibiarkan tenggelam.
Tak ada yang tahu:
keberanianmu hari ini
adalah banjir kemarin—
yang kau izinkan mengajarimu
cara tetap tegak
meski seluruh dunia di dalam dirimu
hancur.
Melbourne, Australia 2011 & Padang, Sumbar, 2025
/4/
KOTA YANG BERNAFAS LEWAT LUKAMU
Puisi: Leni Marlina
Kau berjalan dalam kota
yang tuanya merayap di dinding,
kota yang mencium luka manusia
seperti hewan liar
yang mencari api dalam gelap.
Lampu-lampu sengau itu memandangmu
dengan mata yang terbiasa
menonton kehilangan tanpa berkedip.
Namun anehnya, kota itu ramah padamu.
Ia bicara lewat trotoar rusak,
lewat jendela kusam,
lewat deru kendaraan
yang menyerupai batinmu sendiri—
yang tak mau menyerah
meski lelah memanggul dunia.
Kau tidak menambal hidup,
kau membiarkannya beresonansi:
memberi ruang agar derita
boleh bersuara,
agar kelelahan dapat menghela napas terakhir
tanpa kau bungkam.
Dan di sana kau melihatmu—
manusia yang tidak mencari kemenangan,
melainkan mencari cara
agar hatinya tetap menyala
walau cahayanya kecil
dan malam terus tumbuh .
Melbourne, Australia 2011 & Padang, Sumbar, 2025
/5/
DARI KELOPAK SUNYI YANG MEKAR DI DADA LANGIT
Puisi: Leni Marlina
Kita lahir dari kelopak sunyi yang mekar di dada langit,
dari cahaya yang jatuh perlahan
ke dalam rahim bumi yang bersabar.
Darah pertama kita bukan merah,
melainkan kilau jingga yang bergetar
di antara kehilangan dan kemungkinan.
Nada yang belum menemukan musiknya,
hembus napas yang lupa
siapa yang pertama mengucapnya.
Sejak itu, kasih menjahit tubuh kita dengan benang cahaya.
Ia menulis nama kita di kening angin,
agar hembusan yang lewat
selalu membawa jejak pulang.
Namun di perjalanan, kita lupa.
Kita membangun tembok dari kesibukan,
menyebutnya kehidupan.
Kita menukar keheningan dengan kebisingan,
dan lupa mendengar
bagaimana bumi berdoa tanpa suara.
Gunung-gunung dalam diri kita terangkat—
menyemburkan magma dari rasa ingin memiliki,
sementara lembah di hati
hanya ingin tenang,
menampung pantulan langit.
Bumi ikut bicara:
melalui mata anak-anak di tenda pengungsian,
melalui tangan ibu yang menutup jendela malam,
melalui laut yang mengembalikan tubuh
tanpa nama.
Dan langit pun menunduk,
seperti seseorang yang baru mengerti
arti kehilangan yang ia ciptakan sendiri.
Namun di antara reruntuhan itu,
ada sesuatu yang tidak bisa mati—
satu getar kecil dari rahim kasih, berbisik:
“Engkau tak perlu sempurna untuk menjadi terang.
Cukup hadir, dan biarkan lembutmu bekerja.”
Maka bulan datang sebagai tangan yang menyentuh luka.
Ia menggulung kesedihan menjadi benih,
dan menanamnya di dada kita.
Dari situ tumbuh kesadaran,
daunnya berwarna doa,
akar-akar halusnya mencari sumber syukur.
Awan belajar menangis dengan elegan,
angin belajar memeluk tanpa mengguncang,
dan cahaya belajar menunduk
agar tak membutakan cinta.
Kita pun tahu,
badai tak ingin menghancurkan,
ia hanya ingin mengingatkan—
bahwa segala yang keras
akan kembali menjadi air.
Gelombang menepuk samudra,
berkata lembut:
“Engkau bukan pecah, engkau sedang menjadi luas.”
Di dasar diri,
doa menjelma ikan cahaya yang berenang dalam sunyi,
syukur menjelma terumbu cahaya yang berpendar pelan,
dan di antaranya
kasih bernafas,
mengucap nama kita
dengan lidah yang tak butuh bahasa.
Kini kita tahu—
menjadi manusia bukanlah hanya berjuang,
melainkan belajar larut
dalam irama kasih untuk berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengab dunia.
Kita bukan pemenang, bukan korban,
kita hanya taman yang sedang tumbuh
di bawah hujan kesadaran.
Dan bila suatu hari cahaya berpulang,
ia akan mengenali kita
sebagai rumah yang pernah memeluknya
tanpa syarat.
Melbourne, Australia 2011 & Padang, Sumbar, 2025
————–

Tentang Penulis
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).
Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.
Karya-karya terbarunya meliputi The Beloved Teachers, L-BEAUMANITY (Love, Beauty, and Humanity), serta trilogi English Stories for Literacy—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.
Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan merenung secara berkelanjutan.
Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.
Tahun 2025, Leni ditunjuk dan dipercayakqn sebagai Indoensiam Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng Internatioanl Literary Association (ACC SHILA), sekaligus the ASEAN Directors for ACC SHILA Poets. Di tahun yang sama, Leni ditunjuk dan dipercayakan oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk International Panorama Literary Festival (IPLF) 2026 (www.panoramafestival.org):
Festival Sastra Panorama Internasional (PILF) 2026 Angkat Tema Bumi di Tengah Krisis Global