May 10, 2026

Kumpulan Puisi Leni Marlina: “Waktu yang Menjilat Rongga Dada”

leni3

Waktu yang Menjilat Rongga Dada

Puisi: Leni Marlina

Waktu menjilat rongga dada, meninggalkan rasa besi di napas.
Udara berbau jamur; paru-paru mengunyah pagi yang keras.
Di balik rusuk, sebuah jam duduk pincang, jarumnya ompong.
Ia menghitung hari dari batuk ke batuk, dari pura-pura ke pura-pura.

Rencana-rencana hangus tidur seperti kertas basah di saku.
Angin mengenal namanya dan mencurinya tanpa suara.
Pagi menyeret tubuhnya sendiri, dingin dan lengket di kulit mata.
Cahaya pahit mengendap di lidah, enggan ditelan.

Umur lunak seperti buah terlalu matang di telapak tangan.
Sekali ditekan, ia menyerah tanpa teriakan.
Detik demi detik menggigit daging waktu, mengunyahnya pelan.
Yang tersisa: bau debu dan rasa tawar di jari.

Tuhan mendengar lebih lama daripada kita bicara.
Lantai menyimpan gesekan lutut dan langkah yang melukai.
Kelak, waktu duduk diam dengan mulut penuh debu.
Tubuh bersaksi atas apa yang dilakukannya saat bernapas di bumi.


Melbourne, Australia, 2012

/2/

Rinduku Padamu

Puisi: Leni Marlina

Rinduku padamu tidak datang;
ia telah lama menetap di sela nadi.

Ia menyalakan lampu kecil
di balik tenggorokan,
membaca sisa kata
gagal menjelma doa.

Lambung mengaduk kenangan
seperti obat pahit
tak kunjung larut
rasanya tinggal
meski air telah habis.

Di dada, paru-paru
menghafal pola kehilangan:
tarik dan menahan,
hembus dan merelakan.

Aku memeriksa tubuhku
seperti rumah sakit malam hari:
semua alat menyala,
tak satu pun menjanjikan pulang.

Rindu ini menutup pintu pelan.
Ia tahu:
rasa paling sakit
selalu bernapas paling tenang.


Melbourne, Australia, 2012

/2/

Kuburan Memori

Puisi: Leni Marlina

Kuburan memori kita tidak tidur.
Ia menghafal langkah
orang-orang datang
tanpa benar-benar ingin bertemu.

Tanah perjalanan membuka telinga.
Nisan menegakkan punggung.
Nama-nama digosok angin
hingga huruf-huruf lelah.

Di bawahnya,
waktu dilipat rapi,
disimpan seperti pakaian
tak lagi muat kenangan.

Memori tidak mati sekaligus,
kata kuburan perjalanan.
Kami mati sedikit demi sedikit
setiap kali dilupakan.

Malam menutup gerbang.
Kuburan tersenyum tipis:
akhirnya ada yang tinggal
cukup lama
untuk mendengarkan.


Melbourne, Australia, 2012

/3/

Doa yang Turun dari Lidah

Puisi: Leni Marlina

Doa turun dari lidah
seperti burung basah
sayap berat,
arah lupa.

Ia menabrak dada,
jatuh ke perut,
menggigil di antara niat
dan kebiasaan.

Mulut tetap bergerak,
suara tertinggal
di sela gigi
terlalu sering berjanji.

Tangan terangkat,
hati duduk
lelah memanggil
nama sama
dengan cara sama.

Di sudut malam,
doa itu menunggu:
bukan jawaban,
hanya kejujuran
agar bisa pulang utuh.


Melbourne, Australia, 2012

/4/

Sisa Terang di Punggung Hari

Puisi: Leni Marlina
_

Sore menutup mata hari
dengan telapak jingga.
Cahaya berjalan mundur,
meninggalkan jejak hangat
di dinding ingatan.

Bayangan memanjang,
belajar menjadi tua
tanpa bertanya
siapa menunggu malam.

Jam melambat,
seolah memberi ruang
pada hal-hal kecil:
bunyi sendok,
napas,
kata tak jadi diucapkan.

Ketika gelap akhirnya duduk,
ia tak membawa apa-apa
selain kesetiaan
seberkas terang
di punggung waktu.

Dan kita belajar:
kehilangan
tak selalu berarti habis
kadang hanya berpindah cahaya.


Melbourne, Australia, 2012

Image: the translator & Indonesian Poet – Leni Marlina. Image source: PILF 2026 (Panorama International Literature Festival 2026).

Tentang Penyair – Leni Marlina

Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatra Barat, dan saat ini berdomisili di Padang. Ia adalah seorang penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya meliputi kumpulan puisi penulis tunggal The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025). Selain puisi, ia juga menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan ulasan, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan jurnalistik. Karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.

Di samping karier akademiknya, Leni aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), dengan fokus pada isu pendidikan, literasi, sastra, budaya, dan kemanusiaan. Kedua platform tersebut digerakkan oleh komitmen bersama untuk “menyuarakan yang tak bersuara.”

Kontribusinya di bidang sastra telah memperoleh pengakuan nasional dan internasional. Ia dianugerahi Best Writer 2025 oleh SATU PENA Sumatra Barat pada 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai Sastri Bakry; menerima ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre; serta mendapat penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025). Sejak 2025, Leni menjabat sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus memegang posisi ASEAN Director untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026. (Informasi lebih lanjut: https://www.panoramafestival.org/) & https://suaraanaknegerinews.com/festival-sastra-panorama-internasional-pilf-2026-angkat-tema-bumi-di-tengah-krisis-global/