“Latihan Mati” Sebagai Praktik Spiritual: Merangkul Kematian untuk Menemukan Kehidupan
Laporan Paulus Laratmase
–
Diskusi Serial Esoterika ke-62 yang digelar pada Selasa, 22 Juli 2025 secara daring kembali menggugah pemikiran publik dengan tema yang unik dan mendalam: “Latihan Mati” sebagai praktik spiritual. Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Rita Wahyu Wulandari, dosen Filsafat Ibrani dari Israel Bible Center dan STFT Jaffray Makassar, serta Dr. Budhy Munawar-Rachman, dosen Filsafat dari STF Drijarkara dan Koordinator Forum Spiritualitas Esoterika. Diskusi dipandu oleh Anick HT sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Dr. Rita Wahyu Wulandari menyoroti bahwa praktik “latihan mati” atau ars moriendi selain warisan teologis abad pertengahan, tetapi juga bagian integral dari spiritualitas Yahudi dan Kristen. Kematian, menurutnya, tidak dilihat sebagai musuh yang harus dihindari, melainkan sebagai guru kehidupan. Kohelet atau Kitab Pengkhotbah menjadi landasan reflektif: “Lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke rumah pesta,” sebagai seruan untuk menyadari kefanaan dan meresapi makna kehidupan.
Dr. Rita menekankan bahwa praktik spiritual ini juga sejalan dengan tradisi Stoik yang mengenal memento mori. Bedanya, Kohelet mengajak manusia melihat nilai-nilai dunia dari perspektif kematian, bukan untuk melemahkan semangat hidup, melainkan justru untuk mengasah kesadaran, membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal fana, dan menjadikan hidup sebagai anugerah yang dijalani secara utuh dan jernih.
Sementara itu, Dr. Budhy Munawar-Rachman menawarkan pendekatan eksistensial terhadap tema ini melalui pemikiran filsuf Karl Jaspers. Ia menyinggung konsep Grenzsituation atau “situasi batas” yang di dalamnya kematian hadir sebagai batas ultim kehidupan. Menurut Budhy, dalam menghadapi maut, manusia tidak bisa menggunakan pendekatan rasional ilmiah, karena penalaran tak mampu mengatasi misteri kematian secara final.
Budhy juga menekankan bahwa kesadaran sejati akan kematian muncul bukan saat seseorang mempelajarinya secara teoritis, melainkan ketika ia mengalaminya secara eksistensial, misalnya dalam kehilangan orang terkasih. Pada momentum ini, tubuh subjektif secara corporal tidak lagi berfungsi. Di titik itu juga, seseorang menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang dapat mati. Kematian bukan hanya peristiwa biologis, melainkan momen kontemplatif tentang arti eksistensi.
Diskusi ini memperlihatkan bagaimana kematian bukan akhir, melainkan awal dari kesadaran baru. Kematian menjadi cermin untuk mengevaluasi arah hidup, membersihkan hati, dan menemukan kembali nilai-nilai sejati. Latihan spiritual menghadirkan kematian dalam kesadaran bukan untuk melemahkan, tapi justru menguatkan dan mengarahkan kehidupan secara lebih bermakna.
Melalui diskusi ini, para peserta diajak untuk tidak menghindari pembicaraan soal kematian, melainkan menghadapinya dengan bijak dan jernih. Praktik “latihan mati” menjadi ajakan reflektif agar manusia hidup dengan penuh kesadaran, rendah hati, dan bersyukur atas tiap detik kehidupan yang fana, namun penuh potensi spiritual.
Forum ini menandai pertemuan lintas iman dan disiplin yang membahas spiritualitas dari kedalaman filsafat, teologi, dan pengalaman manusia. Dengan mengangkat tema yang langka namun mendalam ini, Serial Esoterika kembali mempertegas perannya sebagai ruang kontemplatif bagi pencarian makna dalam lanskap modernitas yang kerap abai pada dimensi kematian.