April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

(Sebuah metafora tentang Raja Ampat dan umat yang menajiskan anugerah)

Di altar timur bumi,
di tempat fajar belajar mengeja cahaya,
Tuhan pernah menumpahkan sejumput firdaus
ke dalam mangkuk laut bernama Ampat.
Ia tak dilukis,
tapi dihembus langsung dari napas-Nya —
sebaris puisi dalam bentuk gugusan pulau,
di mana karang adalah aksara,
dan ikan-ikan kecil adalah doa yang bersayap.

Namun manusia,
makhluk yang diberi akal tapi kehilangan rasa,
datang seperti kolektor barang antik
yang ingin melelang lukisan langit.

Mereka kenakan dasi dari benang tambang,
menjunjung bendera dari kertas saham,
berbicara tentang “kemajuan”
sambil menusuk rahim laut dengan bor dan dokumen.

Laut pun mulai sesak.
Airnya tak lagi berkidung,
tapi berbisik resah kepada langit:
“Tuan, mengapa hamba dijadikan korban pembangunan
yang tak paham arti keindahan?”

Karang-karang kini menjadi huruf mati
dalam kitab alam yang dibakar untuk jadi batu bata proyek.
Dan ikan-ikan itu,
yang dulu menari seperti para malaikat laut,
kini berenang dalam lorong gelap
antara tumpahan logam dan janji manusia yang busuk.

Lelaki-lelaki berdasi datang seperti nabi palsu,
membaptis laut dengan tumpahan nikel,
menyusun liturgi palsu tentang ekonomi hijau
di atas tubuh alam yang mulai luka.
Mereka bilang, “AMDAL sudah ditandatangani.”
Tapi langit menjawab lirih,
“Kami tak pernah ikut menandatangani perjanjian pembantaian.”

Adat dikubur diam-diam.
Sasi dirobek dan dijadikan alas meja rapat.
Lalu para penguasa pun berpesta di istana pasir,
mengangkat gelas berisi air mata nelayan,
dan bersulang atas “Indonesia Emas”
yang ternyata berwarna kelam di dasar laut.

O Raja Ampat,
engkau kini hanya sebuah lukisan retak
yang dijadikan latar dalam konferensi pariwisata,
sementara tubuhmu dikeruk dalam diam
oleh cangkul yang berlabel investasi.

Dan langit pun berlutut,
mencium luka laut,
mencatat elegi dengan air hujan.

Sebab sebentar lagi,
anak-anak tak akan mengenal warna laut selain abu-abu.
Mereka akan menggambar ikan dari cerita,
bukan dari ingatan.
Dan mereka akan bertanya:
“Ayah, apakah surga itu dulu pernah mengambang di permukaan bumi?”

Sumatera Barat, 6 Juni 2025
(Ditulis di atas pasir yang belum sempat dibeli orang kaya)