Lebaran dalam Selaksa Makna
yusuf achmad
Bagi Anak-anak
Lebaran baginya bagai pesta dongeng negeri,
Impian yang menari-nari, meski makna tersembunyi.
Gempita tawa bergelora tanpa jeda,
Baju baru bak perisai kebahagiaan,
Dan uang saku, hadiah kecil dari semesta.
Ayah, ibu, tante, hingga tetangga—semua menjadi dermawan sementara.
Bagi Remaja
Momen ini seindah senja dalam jiwa muda,
Di mana pakaian baru masih jadi mantra.
Namun, ada puja dalam pertemanan,
Sahabat lebih utama dari kerabat,
Meski keluarga tetap tersapa sekilas.
Hati kadang condong pada cinta, yang berbisik halus di relung jiwa.
Bagi Dewasa
Makna mulai hadir seperti embun di pagi hari,
Ringan, namun meresap ke dasar hati.
Salam terucap melalui pesan maya,
WA dan media sosial jadi jembatan rasa.
Namun, di balik senyum dan sapaan,
Ada pikiran tentang tanggung jawab yang menggema.
Belanja membubung, baju baru terpajang,
Dan meja penuh santapan, walau hati terkadang gamang.
Bagi Tua
Lebaran adalah sunyi yang penuh arti,
Tak seceria masa kanak, tak sehangat jiwa muda,
Dan tak segaduh usia dewasa.
Hanya sepi yang menyatu dengan doa.
Dalam rembang senja hidup, pertanyaan berbisik lembut:
Entah kapan lebaran terakhir tiba, lenyap bersama waktu yang tak menyisa.
Surabaya, 1-4-2025