“Lelemuku: Nyanyian dari Timur”
Oleh: Rizal Tanjung
–
di timur jauh, saat mentari belum bangkit,
terbaring sunyi hutan basah berselimut kabut.
dari rerimbun daun dan bisik angin lembut,
tumbuhlah kau, lelemuku, diam tak menyudut.
bukan mawar, bukan melati yang dielu-elukan,
kau tak tumbuh di taman ratu atau istana perak.
tapi keelokanmu menggugurkan segala harapan,
tentang bunga yang hanya indah bila mewah dan megah.
kelopakmu—ungu lembut dengan garis-garis emas,
seperti lukisan langit kala senja membekas.
sepi dan setia pada dahan tempat kau berakar,
tak meminta puja, hanya terus mekar.
lelemuku, anggrek larat, suara tanah jauh,
kau lahir dari nadi batu dan peluh angin jauh.
kau harumkan malam papua dan maluku tenggara,
seperti lagu nenek moyang yang tak pernah sirna.
kau bukan hanya bunga, tapi cerita yang berbunga:
tentang petani yang memanggul matahari,
tentang perempuan yang menjahit pelangi,
tentang anak kecil yang tertidur di pangkuan bumi.
kau bukan hanya warna, tapi makna yang membara:
setiap lekuk mu menari dalam bahasa rahasia,
tentang leluhur yang menjaga hutan dan laut,
tentang sabar yang hidup tanpa ribut.
lelemuku, anggrek sunyi di dahan rapuh,
kau ajarkan dunia untuk tak tergesa memeluk megah.
kau tak meledak dalam wangi,
tapi menyusup dalam sunyi.
kala kabut datang dan burung tak bernyanyi,
kau masih setia berdiri,
menghadap timur, menyambut mentari,
meskipun ia mungkin tak kembali.
di sana, di ujung tanah tempat langit menggantung,
di bawah pohon tua, kau tetap mengagumkan.
tak ada kamera, tak ada sorak-sorai,
hanya dedaunan dan hujan yang tak henti bernyanyi.
lelemuku, aku tulis namamu di lembaran hati,
agar dunia tahu:
bahwa keindahan sejati tak selalu berbunyi.
bahwa kemuliaan kadang lahir dari yang tersembunyi.
Sumatera Barat, 17 April 2025.