LENI MARLINA DAN KEKUATAN KATA-KATA YANG MENGGUGAT NALAR DAN MENGGUGAH NURANI
Oleh: Lasan Silverius Bataona
–
Saya membaca buku Resensi Puisi Leni Marlina yang ditulis oleh Paulus Laratmase. Ulasannya komprehensif dan mendalam, menampilkan dua puisi Leni Marlina yang benar-benar menggugat nalar dan menikam nurani manusia waras. Maka siapapun yang membaca dan merefleksikan parade puisi Leni Marlina akan merasakan daya kekuatan kata-kata yang dahsyat, menggugah, dan menggugat nurani serta nalar.
“Ada suara yang mereka kira telah mati, padahal ia hanya bersembunyi di sela hembusan angin, menyelusup ke rongga-rongga laut menjadi napas yang menghidupkan gelombang…
Ada perlawanan yang mereka kira telah padam, padahal ia hanya sedang belajar dari bara, menyalakan dirinya di bawah abu, menunggu saat untuk membakar sejarah yang keliru…”
(Cuplikan puisi Leni Marlina “Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan”).
Kita seakan-akan melihat kelahiran kembali sosok Chairil Anwar dan WS Rendra dalam diri Leni Marlina. Chairil Anwar, WS Rendra, Leni Marlina, dan lainnya, tidak menggerakkan demonstrasi atau memimpin perlawanan bersenjata; mereka hanya mengandalkan kekuatan paling dahsyat yang mereka miliki, yaitu kata-kata. Bahkan Pemimpin Revolusi Perancis, Napoleon Bonaparte, mengaku bahwa ia jauh lebih takut terhadap pena seorang wartawan daripada seribu prajurit musuh.
Begitu pula, WS Rendra dilarang oleh pemerintah Orde Baru untuk tampil membacakan puisi di ruang-ruang publik. Wiji Tukul, seorang seniman yang hanya mengandalkan seni gerak dan kata-kata puisi, pun harus hilang di tengah represi sia-sia pemerintah menghadapi gelombang reformasi. Mengapa demikian? Karena kata-kata, terutama dari para sastrawan, memiliki daya gugah yang mampu menggerakkan massa untuk meledakkan penindasan, membakar keserakahan, menghanguskan korupsi, dan menentang kesewenang-wenangan.
Kekuatan kata-kata juga tampil pada sosok pemimpin besar dunia. Jika Jerman punya Adolf Hitler yang mampu menggerakkan ribuan massa, maka Indonesia punya Ir. Soekarno yang mampu menggerakkan ribuan massa hanya dengan kata-kata pidatonya di hadapan rakyat. Dari Timor Leste, kita bisa melihat figur kharismatis penuh pengaruh Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo yang mampu mengubah nasib negerinya dari status “terjajah” menjadi merdeka. Sekali lagi, bukan dengan kekuatan senjata, melainkan dengan kekuatan kata-kata.
Dalam arti tertentu, Leni Marlina memiliki kemiripan dalam perjuangan dan perlawanan dengan Mgr. Belo dari Timor Leste. Keduanya adalah “Voice of the Voiceless” (Suara dari kaum yang tak dapat bersuara). Hasil perjuangan seperti ini sudah terbukti kebenarannya, misalnya seperti yang terjadi di Timor Leste. Bagaimana dengan di tanah Papua, Aceh, dan lainnya? Leni Marlina lewat puisinya “Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan” seolah mengirimkan kepastian tentang fakta-fakta alamiah proses yang sedang terjadi dan dampak positif kebaikan yang dihasilkan.
Hasil setiap perjuangan luhur untuk merobah kegelapan menjadi terang memang tidak dapat dipastikan cepat atau lambatnya secara matematis, tetapi dapat dipastikan dari fakta-fakta proses alamiah yang sedang berjalan. Sebab, seperti kata Leni Marlina, “Bara yang ada di bawah abu akan menyala pada saatnya untuk menghanguskan sejarah yang keliru.”
“Tangan yang dikira patah ternyata hanya terlipat, berubah menjadi akar-akar yang merambah dan siap merobek bumi.”
Puisi ini selengkapnya bisa dibaca pada link official berikut ini: suara-yang-tak-d…ggugurkan-batu-2
Baca juga:leni-marlina-and…waken-conscience
LENI MARLINA AND THE POWER OF WORDS THAT CHALLENGE REASON AND AWAKEN CONSCIENCE
Baca juga: