May 14, 2026
rizal4

Rizal Tanjung| Sastrawan dan Budayawan Sumatera Barat

I — Doa yang Patah di Halaman Rumah Tuhan

Di halaman rumah Tuhan
angin bersujud sambil menahan isak,
sebab manusia menghafal ayat
namun melupakan welas asihnya.

Kita membangun kota dari serbuk keserakahan,
menata ulang langit
dengan garis-garis kabel yang menggantung
seperti saraf dunia yang hampir putus.

Di sudut paling senyap,
ada doa-doa yang diseret oleh ketamakan,
disayat oleh tangan penguasa yang berpura-pura buta,
dipanggang oleh matahari yang muak.

Dan manusia—
ah, manusia terus berbicara tentang surga,
padahal bayangannya saja
tak sanggup mereka hormati.

II — Kesunyian yang Dililit oleh Uang

Dunia ini tak lagi berjalan,
ia hanya diheret oleh suara uang
yang berlari lebih cepat dari nurani.

Kursi-kursi kekuasaan menjadi bianglala
yang diputar oleh mereka yang tak mengenal malu,
sementara kita hanya tiket sekali pakai
yang koyak oleh angin birokrasi.

Betapa lucu,
bahwa kesunyian pun kini bisa dibeli—
bahkan kesedihan bisa disponsori
oleh iklan-iklan yang tak punya malu.

Dan langit tetap biru,
meski di bawahnya manusia
bertikai memperebutkan warna abu-abu.

III — Sungai Kering yang Menagih Belas Kasihan

Sungai pernah menjadi ibu,
namun kini ia hanya bibir pecah
yang menagih sebotol hujan.

Para pejabat berfoto di tepinya
sambil berseru tentang “konservasi”,
tapi sepatu mereka,
lebih sibuk mencari panggung
daripada memulihkan air yang telah patah.

Sungai itu mengadu padaku semalam—
katanya ia ingin mati saja,
sebab manusia tak lagi menganggapnya
sebagai nadi bumi,
melainkan selokan bisnis.

IV — Kota yang Menghalalkan Luka

Kota ini seperti pesta topeng,
dengan lampu-lampu yang terlalu terang
untuk menutupi hati manusia yang terlalu gelap.

Setiap malam, bangunan tinggi
menyembunyikan kecemasan dengan cahaya palsu,
sementara di bawahnya,
orang miskin menghalalkan lapar
dengan senyum yang dipaksa.

Satire paling telanjang adalah ini:
kita lebih takut kehilangan sinyal
daripada kehilangan moral.

V — Burung-Burung yang Menolak Pulang

Langit dulu rumah mereka,
kini berubah menjadi ladang antena
dan kepulan kemarahan pabrik.

Burung-burung itu menolak pulang,
mereka muak dengan manusia
yang menukar udara
dengan debu kesombongan.

Sungguh ironis:
kita menyebut diri makhluk berakal,
padahal burung-burung lebih paham
cara menghormati langit.

VI — Doa yang Tersesat di Mulut Para Pemimpin

Ada doa yang mengeluh padaku:
ia tak ingin lagi keluar dari mulut pemimpin—
terlalu banyak kebohongan
yang membuatnya mabuk.

Kata “rakyat” menjadi jimat palsu,
dipakai ketika kamera hidup,
dibuang ketika jam makan siang tiba.

Jika moral adalah api,
maka pemimpin adalah asap—
ramai, memenuhi mata,
namun tak pernah menghangatkan apa-apa.

VII — Hutan yang Dikuliti oleh Senyum yang Ramah

Ada ironi yang paling menyayat:
mereka merusak hutan
dengan senyum ramah,
dengan pidato panjang,
dengan kata “investasi”.

Pohon-pohon itu tumbang
seperti huruf-huruf yang dirampas dari doa.

Betapa mudahnya
manusia menukar paru-paru bumi
dengan secangkir laba.

VIII — Malam yang Tak Lagi Tidur

Dulu malam adalah ibu yang menidurkan dunia,
kini ia dipaksa terjaga
oleh lampu-lampu yang tak pernah istirahat.

Kita menciptakan kota insomnia,
yang mengunyah manusia
seperti mesin penggiling harapan.

Malam menangis diam-diam:
katanya ia rindu bintang—
tapi manusia telah mencurinya.

IX — Mereka yang Berjalan Tanpa Bayangan

Di kota ini,
banyak manusia berjalan tanpa bayangan—
bukan karena matahari murka,
tapi karena mereka telah kehilangan diri sendiri.

Keserakahan membuat tubuh mereka tembus cahaya,
ambisi membuat mereka melupakan arah pulang.

Bayangan pun enggan mengikuti,
tak ingin dikaitkan
dengan jiwa yang menolak menjadi manusia.

X — Para Pujangga yang Makan Abu

Penyair pun kini sulit bernapas—
dunia terlalu bising,
terlalu penuh iklan,
terlalu banyak orang yang bicara tanpa makna.

Kami para pujangga
makan abu dari zaman,
menelan debu dari akal manusia
yang terus menyusut seperti es purba.

Dan setiap kali kami menulis,
kami bertanya:
apakah ini masih puisi,
atau hanya daftar luka yang terlalu panjang?

XI — Negeri yang Menjual Mimpinya

Apa jadinya sebuah negeri
jika mimpi dijual seperti barang grosiran?

Pendidikan jadi komoditas,
keadilan jadi paket premium,
kebenaran jadi banner promosi.

Negeri ini terus merayakan dirinya
tanpa menyadari ia sedang terbakar.

Tak ada yang lebih lucu
dari negara yang bangga pada dirinya
ketika seluruh rakyatnya menangis dalam diam.

XII — Cermin Retak di Dada Anak-Anak

Anak-anak tumbuh dengan mata yang tua,
wajah mereka seperti cermin retak
yang memantulkan kebohongan dunia.

Mereka diajari mengejar nilai,
bukan memahami makna;
diajar mencatat,
bukan bertanya;
diajar mematuhi,
bukan merdeka.

Anak-anak itu menghafal masa depan
yang bahkan belum tentu milik mereka.

XIII — Pasir yang Menangis di Tepi Negeri

Di pesisir yang jauh,
pasir-pasir berbisik padaku:
mereka bosan menjadi alas kaki
bagi kaki-kaki serakah
yang mengukur tanah hanya dengan angka.

Pasir terlalu lembut
untuk menolak kesombongan manusia,
tapi ia tetap menangis
ketika hotel-hotel mewah merebut tubuhnya
tanpa izin.

XIV — Kota yang Menyembah Layar

Manusia tak lagi menatap langit,
mereka menatap layar—
cahaya digital yang memakan waktu,
menggerogoti kesadaran,
menyihir kesepian.

Kita menjadi bayangan-bayangan elektronik
yang saling mengejar
tanpa pernah saling menyentuh.

Alangkah satir:
kita hidup di zaman terhubung,
tetapi hati manusia
semakin jauh dari satu sama lain.

XV — Ladang-Ladang yang Menunggu Keadilan

Dalam ladang yang sunyi,
tanaman-tanaman berdoa
agar manusia belajar rendah hati.

Mereka tumbuh dalam sabar,
dihujani angin dan panas,
namun dipanen oleh tangan-tangan
yang tak pernah tahu terima kasih.

Bumi bekerja tanpa pamrih,
sementara manusia bekerja tanpa malu.

XVI — Terminal Hari-Hari yang Lelah

Hari-hari kini seperti bus tua
yang mendecit dalam perjalanan panjang,
membawa penumpang bernama penat.

Waktu tak lagi berjalan,
ia hanya menyeret tubuhnya
di atas aspal kesibukan dunia.

Dan manusia—
makhluk yang paling lucu—
mengira mereka sedang hidup,
padahal hanya terbawa arus.

XVII — Kebun Mawar yang Diserang Ironi

Mawar tumbuh,
namun durinya kini lebih panjang
karena harus melindungi diri
dari manusia yang suka memetik
tanpa menghormati akar.

Mawar itu berkata:
“Dulu aku mekar karena cinta,
kini aku mekar karena perlawanan.”

XVIII — Negeri dengan Jam yang Tak Pernah Berhenti

Negeri ini seperti jam yang rusak—
jarumnya tetap berputar,
namun tak pernah menunjukkan kemajuan.

Kita merayakan banyak hal,
tapi tak ada yang diperbaiki.

Seakan-akan sejarah
hanya repertoar pengulangan kesalahan.

XIX — Ilmu yang Kehilangan Cahaya

Ilmu pengetahuan dulu seperti bintang,
kini seperti neon yang berkedip—
lebih banyak terang palsu
daripada sinar kebijaksanaan.

Gelar dibanggakan,
hikmah diabaikan.
Sertifikat dijadikan mahkota,
akal sehat dibuang ke parit.

XX — Taman Tanpa Pelangi

Pelangi enggan muncul—
ia malu melihat dunia
yang terlalu hitam-putih
dalam ketidaktoleransian.

Pelangi berkata padaku:
“Untuk apa aku muncul,
jika manusia tak mampu menghargai
warna dalam diri sesama?”

XXI — Mereka yang Makan Janji Setiap Pagi

Rakyat bangun setiap hari
dengan sarapan yang sama:
janji.

Janji hangat, janji renyah,
janji bersabun, janji beracun.

Mereka memakannya tanpa pilihan,
sebab itu satu-satunya hidangan
yang selalu gratis,
tapi selalu membuat lapar.

XXII — Gunung yang Menyembunyikan Amarahnya

Gunung-gunung menahan murka,
diam seperti nabi tua
yang menunggu manusia bertaubat.

Namun setiap kali pohon dicabut,
setiap kali tanah dicincang,
amarah gunung menambah satu lapis.

Dan ketika akhirnya ia meletus,
manusia menyalahkan gunung,
padahal kesalahan ada pada cangkul mereka.

XXIII — Jalan-Jalan yang Menghafal Keluh Kesah

Jalan raya adalah saksi paling jujur—
ia menghafal sumpah serapah pekerja,
menghafal letih tukang ojek,
menghafal tumpahan hujan
yang jatuh ke aspal yang tak pernah diperbaiki.

Jalan itu bertanya:
“Kenapa aku selalu diperbaiki saat pemilu saja?”

XXIV — Warna-Warna yang Kehilangan Jiwa

Seni mati
ketika manusia berhenti peka.

Lukisan tak lagi bicara,
musik tak lagi menyembuhkan,
puisi hanya dibaca separuh hati.

Dunia menjadi hitam-putih,
bukan karena kehilangan warna,
tapi kehilangan rasa.

XXV — Buruh-Buruh Waktu

Kita semua bekerja untuk jam,
bukan untuk mimpi.

Setiap detik adalah hutang,
setiap menit adalah pengingat,
setiap hari adalah pengikis.

Dan di antara semua itu,
ada hati manusia yang perlahan
menjadi mesin.

XXVI — Sunyi yang Ketakutan

Sunyi dulu menenangkan,
kini ia menakutkan—
sebab dalam sunyi
kita mendengar suara hati sendiri,
dan suara itu tak lagi kita kenali.

Betapa satir:
manusia menghindari sunyi,
karena ia terlalu jujur.

XXVII — Negeri yang Gemar Mengubur Kebenaran

Kebenaran sering dikubur
di liang yang tak berdasar.

Ia dipinggirkan oleh wacana,
dikalahkan oleh buzzer,
ditikam oleh narasi palsu.

Dan ketika akhirnya ia bangkit,
manusia menyebutnya rumor.

XXVIII — Matahari yang Menolak Terbit

Matahari pernah bercerita padaku:
“Aku ingin terlambat saja,
mungkin itu protes kecil
agar manusia belajar menghargai cahaya.”

Namun ia tetap muncul tiap pagi,
sebab ia lebih bertanggung jawab
daripada mereka yang memerintah dunia.

XXIX — Langit yang Terlalu Tua untuk Menangis

Langit kini terlalu lelah
untuk menurunkan hujan permintaan maaf.

Ia menua oleh polusi,
menjadi renta oleh kesombongan manusia,
dan menjadi dingin oleh perang
yang tak pernah selesai.

Langit ingin istirahat,
namun bumi memaksanya bekerja terus
untuk menutupi kejahatan manusia.

XXX — Nyanyian Luka yang Tak Pernah Tidur

Pada akhirnya,
semua luka bernyanyi dalam satu paduan suara:
luka bumi,
luka manusia,
luka moral,
luka yang tak pernah ditutup
karena manusia sibuk membukanya lagi.

Dunia ini sebuah orkestra murung
yang menunggu konduktor baru—
seseorang yang berani
mengganti nada keserakahan
menjadi lagu kemanusiaan.

Dan sampai hari itu datang,
puisi akan terus menjadi saksi,
menjadi cambuk,
menjadi doa,
menjadi amarah,
menjadi harapan yang paling keras kepala
di antara reruntuhan zaman.


Sumatera Barat, Indonesia, 2025.