Notifikasi dari Hujan
Oleh: Rizal Tanjung
–
Aku mengirim rinduku
seperti pesan tanpa tombol hapus,
tersimpan di kotak masuk dadamu
yang selalu penuh oleh namaku.
Di zaman yang berisik ini
aku memilih menjadi sepi yang setia,
lelaki sederhana dengan cinta berlebihan,
yang belajar ikhlas dari cara kopi menerima pahitnya sendiri.
Kau kekasih yang tumbuh
bagai kota terang di layar hidupku,
dan aku hanya pejalan kaki
yang rela menunggu lampu hatimu berubah hijau.
Telah lama aku pasrah,
seperti ponsel kehabisan baterai
lalu menyerah pada colokan waktu,
demikianlah aku bersandar
pada senyummu yang menjadi daya.
Tak lagi kupersoalkan masa depan,
ia terlalu mirip langit mendung:
indah ditebak, mustahil dipastikan.
Maka kubiarkan cintaku
menjadi aplikasi yang berjalan diam-diam
di latar belakang harimu.
Jika kau pergi,
aku akan tetap menjadi unggahan rindu
yang tak pernah mendapat “like”,
namun tak jua ingin kutarik pulang.
Aku mencintaimu
seperti trotoar mencintai langkah,
seperti jendela mencintai malam,
seperti earphone memeluk lagu patah hati
tanpa pernah meminta dipahami.
Barangkali bagimu
aku hanya pilihan kedua
setelah hari yang melelahkan,
tetapi tak mengapa—
sebab cintaku bukan kompetisi,
melainkan ruang penerimaan.
Kau adalah notifikasi terindah
yang datang di tengah hujan panjang,
membuat jiwaku bergetar pelan
seperti lampu jalan disentuh gerimis.
Maka di tahun-tahun digital
yang cepat menua ini,
aku tetap lelaki yang sama:
pasrah bagai payung di tanganmu,
rela dibuka, rela dilipat,
rela ditinggalkan di sudut kenangan.
Sebab bagiku kekinian paling jujur
adalah mencintaimu tanpa syarat,
tanpa tuntutan, tanpa drama berlebihan—
cukup seperti hujan:
turun diam-diam,
memeluk bumi dengan sabar,
lalu hilang perlahan
di dalam kemungkinan mu.
—-
Sumatera Barat, Indonesia 2026.