April 19, 2026

MAN Kota Sawahlunto Lahirkan 5.000 Pantun KBC: Inovasi Multi-Dimensi di Awal Tahun 

IMG-20260103-WA0043

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I

Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UM Sumbar

Abstrak

Artikel ini mengkaji secara multidimensional lahirnya buku 5000 Pantun KBC MAN Kota Sawahlunto sebagai sebuah inovasi pendidikan, literasi, dan kebudayaan yang bersifat holistik. Pantun tidak hanya dipahami sebagai produk sastra tradisional, tetapi sebagai medium pendidikan karakter, spiritualitas, sosial, psikologis, kultural, dan pedagogis dalam bingkai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Peluncuran buku ini pada momentum Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI menjadi simbol transformasi madrasah sebagai pusat peradaban, tempat ilmu, iman, dan budaya berkelindan secara harmonis.

 

Pendahuluan : Pantun sebagai Peristiwa Peradaban

Pagi 3 Januari 2026 di halaman MTsN 2 Kota Sawahlunto bukanlah pagi yang biasa. Upacara peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama RI menjelma menjadi sebuah peristiwa kultural ketika Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto, Dr. H. Dedi Wandra, S.Ag., MA, secara resmi melaunching buku 5000 Pantun KBC MAN Kota Sawahlunto.

Peristiwa ini melampaui seremoni administratif. Ia adalah pernyataan peradaban: bahwa madrasah mampu melahirkan karya besar yang berpijak pada tradisi, sekaligus menjawab tantangan zaman.

Pantun yang selama ini sering dipandang sebagai sastra lisan sederhanan diangkat ke panggung utama pendidikan modern sebagai instrumen pembentuk jiwa.

Pantun dan KBC: Integrasi Tradisi dan Inovasi

Buku 5000 Pantun KBC lahir dari rahim Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), sebuah pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang sebagai fondasi epistemologis dan aksiologis pembelajaran. Dalam KBC, pengetahuan tidak berdiri kering, tetapi tumbuh dari relasi batin antara guru, siswa, ilmu, dan nilai.

Pantun dipilih bukan secara kebetulan. Dalam tradisi Melayu, pantun adalah bahasa hikmah, alat pendidikan moral, dan ruang dialog nilai. Melalui pantun, pesan tidak diajarkan dengan menggurui, tetapi disampaikan dengan keindahan, kesantunan, dan kearifan.

 

Dimensi-Dimensi Pantun dalam Buku 5000 Pantun KBC

1. Dimensi Spiritual-Teologis

Pantun-pantun dalam buku ini sarat dengan kesadaran ketuhanan. Ia mengajarkan tauhid bukan melalui doktrin kaku, tetapi melalui perenungan makna hidup, syukur, tawakal, dan kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam setiap denyut kehidupan. Pantun menjadi dzikir kultural—ringan di lidah, dalam di makna.

2. Dimensi Pendidikan Karakter

Setiap bait pantun adalah cermin nilai: kejujuran, tanggung jawab, adab, hormat kepada guru dan orang tua, serta etos belajar. Inilah pendidikan karakter yang tidak bersifat instruksional, tetapi internalisasi nilai melalui rasa. Pantun membentuk karakter bukan dengan hukuman, melainkan dengan kesadaran.

3. Dimensi Psikologis dan Emosional

Menulis pantun melatih kepekaan emosi, empati, dan keseimbangan batin. Bagi peserta didik, pantun menjadi ruang aman untuk mengekspresikan kegelisahan, harapan, dan cita-cita. Di tengah tekanan akademik dan arus digital, pantun berfungsi sebagai terapi jiwa yang menenangkan.

4. Dimensi Sosial dan Humanistik

Pantun dalam KBC menanamkan nilai kebersamaan, toleransi, dan cinta sesama. Ia mengajarkan bahwa manusia hidup dalam jejaring sosial yang saling terkait. Inilah harmoni sosial yang dibangun dari bahasa, bukan dari kekuasaan.

5. Dimensi Budaya dan Identitas

Pantun adalah identitas Melayu. Dengan menghidupkannya di madrasah, MAN Kota Sawahlunto sedang melakukan resistensi kultural terhadap homogenisasi global. Pantun menjadi penanda jati diri, bahwa modernitas tidak harus memutus akar tradisi.

6. Dimensi Literasi dan Akademik

Buku ini adalah bukti nyata gerakan literasi madrasah. Melibatkan seluruh GTK dan siswa, serta kontribusi para tokoh pendidikan seperti

H. Hendri Pani Dias,

Dr. H. Dedi Wandra,

H. Mustatir,

Syafruddin,

Muhammad Yustar,

Hj. Yusmaini,

dan Indra Gani,

karya ini menunjukkan bahwa literasi bukan milik segelintir orang, tetapi budaya kolektif.

Pantun sebagai Metodologi Pendidikan

Pantun dalam KBC bukan sekadar output, tetapi metode pembelajaran. Ia melatih berpikir kritis (memilih diksi), kreatif (merangkai makna), dan reflektif (menyelaraskan isi dan nilai). Dengan demikian, pantun menjadi pedagogi alternatif yang relevan dengan pendidikan abad ke-21.

Refleksi Kepemimpinan Pendidikan

Sebagaimana disampaikan Kepala MAN Kota Sawahlunto,

“Kami ingin siswa tidak hanya pandai membaca dan menulis, tetapi juga mampu merawat bahasa, menghormati nilai, dan mencintai budaya sendiri.”

Pernyataan ini menegaskan paradigma kepemimpinan pendidikan yang visioner: pendidikan bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia seutuhnya.

Sementara itu, Dr. H. Dedi Wandra menegaskan,

“Pantun adalah akar kebijaksanaan Melayu. Ketika madrasah mampu merawatnya, berarti kita sedang menjaga peradaban.”

 

Kesimpulan : Dari Sawahlunto untuk Indonesia

5000 Pantun KBC MAN Kota Sawahlunto bukan sekadar buku. Ia adalah manifesto pendidikan berbasis cinta, bukti bahwa madrasah mampu menjadi pusat inovasi budaya dan moral. Dari Sawahlunto, pantun kembali bersuara menyemai harmoni, menautkan generasi, dan membuktikan bahwa pendidikan yang membumi adalah pendidikan yang menanam cinta.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh angka dan target, MAN Kota Sawahlunto memilih bahasa yang sunyi namun abadi: bahasa pantun tempat nilai tumbuh, jiwa bersemi, dan peradaban dijaga.