April 18, 2026
Manis yang Memabukkan

Yusuf achmad

Ketika sanjung beradu dengan pujian,
kata-kata mengalir laksana sungai madu,
manis, mengikat, namun kadang membius.
Ia angkat jiwa ke langit tinggi,
seperti mentari yang tak henti bersinar,
atau elang yang menari di puncak angin.

Namun ingatlah, kata Saidina Umar Bin Khaattab,
pujian bisa jadi bara bagi jiwa,
mengelabuhi hati yang seharusnya berserah.
Kadang ia cambuk, menusuk ke relung asa,
kadang ia bunga, mewarnai hidup yang redup,
tapi tak jarang ia berubah racun,
mematikan semangat, menghancurkan harapan.

Bila bertemu sosok yang diagungkan,
rupanya serupa permata yang memikat mata.
Namun kala kenyataan terkuak,
seperti nanah yang meleleh,
bau busuk meraja, meluluhlantakkan anggapan.

Duhai para pemilik kebijaksanaan,
nasihatmu kutunggu dengan kerendahan hati.
Tak hanya kecaman atau hinaan semata,
tapi kata-kata yang menjadi penawar luka,
yang mampu mematahkan sombong dan lupa.

Duhai jiwa yang membeku dalam sepi,
kau hanya bayang hampa,
bau getir yang memuakkan,
bagaikan malam tanpa bintang,
gelap, tanpa arah, tanpa harapan.

Ketenangan sejati tidak terbeli sanjung,
tidak terbujuk oleh pujian yang fana.
Ia hadir dari kedalaman jiwa,
tetap teguh menghadapi badai yang mendera,
bagai air di kolam surga—jernih, tenang, abadi.

Petuah para bijak adalah lentera di gelap malam,
menuntun jalan yang terjerat ego dan kelam.
Mereka mengingatkan kita akan fana dunia,
dan betapa kecilnya kita,
di hadapan Sang Maha Kuasa.

Surabaya, 11-12-2024