MEMBANGKITKAN MINAT DAN BUDAYA BACA DI KABUPATEN BLORA: STRATEGI KOLEKTIF BERBASIS KEARIFAN LOKAL
Oleh Luhur Susilo – SMPN 1 Sambong dan Pengurus Satupena Blora
–
Minat dan budaya baca bukan hanya soal kemampuan intelektual, melainkan kunci membangun generasi unggul dan daerah yang berdaya saing. Di era transformasi digital dan bonus demografi, literasi menjadi jembatan antara potensi dan peradaban. Laporan UNESCO (2022) menunjukkan bahwa budaya baca memiliki hubungan langsung dengan kemajuan sosial dan ekonomi. Untuk itu, penguatan literasi menjadi prasyarat strategis pencapaian visi Kabupaten Blora yang cerdas dan sejahtera.
1. Keluarga sebagai Pondasi Gerakan Literasi Blora
Di Blora, keluarga memiliki posisi strategis dalam menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Sebagaimana ditegaskan Suyanto (2013), keluarga adalah sekolah pertama yang membentuk karakter literasi anak. Studi Kemendikbud (2020) menunjukkan bahwa anak yang rutin dibacakan buku sejak usia dini memiliki kecakapan berpikir yang jauh lebih baik.
Di desa-desa Blora, praktik seperti membacakan dongeng pewayangan atau cerita rakyat Blora sebelum tidur bisa dikembangkan menjadi program literasi berbasis budaya lokal. Pojok baca di rumah, membaca bersama setiap malam, atau kegiatan “Ayah Bunda Bercerita” di hari Minggu adalah contoh sederhana yang bisa dihidupkan secara kolektif.
2. Sekolah sebagai Lokomotif Literasi Daerah
Sekolah-sekolah di Blora perlu menjadi pusat pembudayaan literasi, bukan sekadar tempat transfer pengetahuan. Seperti dikatakan Nurhadi (2009), transformasi sekolah menjadi learning organization harus dibarengi dengan penguatan literasi di semua lini.
Peneliti Puslitjakdikbud, Dr. Firman Hadiansyah (2021), menyebutkan bahwa sekolah dengan program literasi terintegrasi memiliki skor PISA 25% lebih tinggi. Ini relevan untuk Blora: kegiatan seperti 15 menit membaca sebelum pelajaran, resensi buku di majalah dinding sekolah, dan kompetisi menulis cerita rakyat Blora bisa diintegrasikan dalam program literasi sekolah.
Kebijakan kepala sekolah sangat menentukan. Alokasi minimal 15% anggaran BOS untuk perpustakaan, pelatihan guru sebagai fasilitator baca, dan pengadaan bahan bacaan kontekstual Blora perlu menjadi prioritas.
3. Peran Pemerintah Daerah dan Masyarakat Sipil
Dukungan dari pemerintah daerah sangat menentukan keberhasilan gerakan literasi. Seperti dilakukan di Bondowoso, Bupati Supriyanto berhasil meningkatkan indeks literasi lewat program Maghrib Mengaji Plus Baca Buku (Laporan Tahunan Pemkab Bondowoso, 2023). Hal serupa bisa diadopsi Blora dalam bentuk “Blora Membaca Sore” atau “Minggu Literasi” di balai desa dan kelurahan.
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) harus difungsikan secara optimal sebagai pusat pembelajaran warga. Blora memiliki banyak komunitas kreatif yang bisa diajak kolaborasi: pegiat seni, pemuda karang taruna, mahasiswa KKN, dan perpustakaan desa.
Kolaborasi triple helix antara pemda, sektor swasta, dan perguruan tinggi seperti Universitas Negeri Semarang atau STAI Al Muhammad Blora bisa menjembatani program pengembangan konten literasi lokal.
4. Inovasi Literasi Berbasis Potensi Lokal
Najwa Shihab (2023) menekankan bahwa gerakan literasi harus menjangkau pelosok dan berbasis komunitas. Di Blora, inisiatif seperti perpustakaan keliling dengan becak motor, mobil siaga literasi, atau relawan literasi desa bisa menjadi solusi cerdas menjangkau wilayah terpencil.
Program seperti “Festival Cerita Jati Blora” atau “Pustaka Alas Teakwood” bisa dikembangkan sebagai bentuk literasi berbasis alam dan budaya. Nila Tanzil dari Taman Bacaan Pelangi (2022) membuktikan bahwa dengan pendekatan reading for pleasure, minat baca anak bisa meningkat hingga tiga kali lipat.
Sektor swasta di Blora, termasuk BUMDes dan pelaku UMKM, bisa berpartisipasi melalui CSR buku murah, pojok baca di warung kopi, dan branding literasi di produk lokal.
Penutup: Literasi adalah Nafas Peradaban
Meningkatkan minat dan budaya baca di Blora bukan pekerjaan satu institusi, melainkan gerakan bersama. Seperti ditegaskan Freire (2005), literasi adalah alat pembebasan yang mengubah manusia dari objek menjadi subjek perubahan.
Dengan semangat kolaboratif, nilai-nilai lokal, dan komitmen lintas sektor, Kabupaten Blora dapat menjelma sebagai pusat literasi berbasis budaya. Bukan hanya demi mengejar indeks literasi nasional 65,1 pada 2024 (RPJMN), tetapi demi menciptakan generasi Blora yang melek huruf, melek hati, dan melek masa depan.
“Membaca adalah napas bagi akal sehat, dan buku adalah jantung peradaban.”
________________________________________
Daftar Pustaka
• Freire, P. (2005). Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan. Jakarta: LP3ES.
• Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2020). Gerakan Literasi Nasional: Buku Saku Literasi. Jakarta: Kemendikbud.
• Nurhadi, D. (2009). Literasi Baru: Konsep dan Implementasi. Malang: UM Press.
• OECD. (2019). PISA 2018 Results: What Students Know and Can Do. Paris: OECD Publishing.
• Suyanto, S. (2013). Membangun Budaya Literasi dari Keluarga. Jakarta: Kompas.
• UNESCO. (2022). Global Education Monitoring Report. Paris: UNESCO Publishing.
• Riset Puslitjakdikbud. (2021).
• Laporan Tahunan Pemkab Bondowoso. (2023).
• Forum Merdeka Barat. (2023).
• Annual Report Taman Bacaan Pelangi. (2022).