Menantimu Datang
Yusuf Achmad
Embun menari, dedaunan berselimut bayang.
Sepedaku menderu, mengayuh di senyap pagi yang rawan.
Jalan lengang, lampu jalan menutup matanya,
Subuh menjelma seperti bisikan malam yang perlahan reda.
Sepasang langkah, seutas hidup dalam udara bersih.
Gerobak sampah diam—nestapa tersembunyi,
Luruh di hadapan tuan yang membatu dalam pilu.
Rodaku memutar sabda waktu, menanti duhur bertamu.
Mentari menggenggam terang di puncak siang.
Jalan berdebu, pedagang berseru melukis kehidupan.
Sepedaku bersandar letih di pelukan tembok,
Melati ungu berbisik lembut, membawa rahasia cinta langit.
Namun harum melati tak menyaingi napas lelahku,
Bercampur peluh dalam santap siang yang seadanya.
Tetap lapar, menanti asar menjejakkan langkahnya.
Asar tiba, roda kembali memutar nadir takdirku.
Bayang pohon menari di jalan yang menuntunku,
Menapak waktu, membawa sujud bagi Sang Penguasa.
Senja berlabuh, zikir dan firman suci kupersembahkan,
Maghrib datang seperti riuh anak-anak di surga kecil.
Sandal berbaris tak teratur, ayat-ayat menuturkan kasih.
Lapar terpendam, isya’ di ambang harapan.
Jalan sunyi, bulan menyelimuti dengan sinar sayunya.
Aku tetap menunggu—hidangan terakhir, janji yang fana.
Waktuku samar, menanti dalam lingkaran subuh dan isya,
Seperti malam tua yang tak jua sirna.
Surabaya, 23-10-2024