April 18, 2026
otak kotak P3K kotak P3k non fisik Surabaya Indonesia

Yusuf Achmad

Peristiwa kecelakaan lalu lintas sering terdengar akhir-akhir ini. Kecelakaan darat, laut, bahkan udara, seperti kecelakaan mobil beruntun di kota-kota besar, kecelakaan kereta api di Indonesia, kapal Senopati, dan pesawat Adam Air, merupakan contoh kecelakaan fisik berskala besar yang membutuhkan penanganan serius dari pihak terkait. Sedangkan kecelakaan fisik berskala relatif kecil dapat ditanggulangi dengan P3K atau Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Hampir setiap rumah, perusahaan, sekolah, dan instansi lain selalu menyediakan P3K di dalam kotak obatnya. Bagaimanakah dengan kecelakaan yang bersifat nonfisik?

Bila dibandingkan, kerugian yang ditimbulkan dari kedua jenis kecelakaan di atas, kecelakaan nonfisik memiliki dampak jauh lebih besar daripada kecelakaan fisik. Kecelakaan nonfisik tidak hanya berdimensi finansial dan harta benda, melainkan dapat berantai dan memakan waktu relatif lebih lama. Ironisnya, kecelakaan semacam ini sering diabaikan dampaknya dan justru banyak terjadi dalam keseharian kehidupan.

Adalah sebuah kecelakaan nonfisik apabila satu keputusan atau kebijakan diambil atas dasar perhitungan biaya tanpa memperhitungkan dampak lainnya. Seorang pelajar atau mahasiswa yang hanya bertujuan mendapatkan ijazah dan pekerjaan setelah menyelesaikan studinya juga merupakan sebuah kecelakaan nonfisik. Seorang yang bekerja keras hanya untuk memburu uang dan popularitas termasuk dalam kecelakaan ini. Banyaknya ustaz, da’i, ulama, jamaah haji, acara TV yang menayangkan program keagamaan, dan sinetron religi tetapi tidak berdampak pada kemaslahatan masyarakat secara luas juga merupakan sebuah kecelakaan. Hidup hari ini lebih buruk atau sama dengan hidup kemarin merupakan kecelakaan nonfisik terbesar dalam hidup seorang muslim.

Perubahan Pola Pikir sebagai Solusi

Seperti penanggulangan pada kecelakaan fisik yang paling tidak memerlukan P3K, kecelakaan nonfisik juga membutuhkan P3K. Akan tetapi, P3K ini bukan berarti Pertolongan Pertama pada Kecelakaan, tetapi merupakan kepanjangan dari kata Perubahan, Pendidikan, Pastikan Kesuksesan. P3K tersebut merupakan salah satu alternatif solusi yang ditawarkan untuk menanggulangi kedua macam kecelakaan tersebut.

Dari kata perubahan, maka perubahan mendasar yang paling krusial dilakukan adalah perubahan cara berpikir. Hal ini krusial dilakukan karena benar atau tidaknya suatu tindakan seseorang pasti ditentukan oleh cara berpikirnya. Ia berperilaku benar karena benar cara berpikirnya, sebaliknya akan salah perilakunya karena salah pola pikirnya. Perubahan pola berpikir harus dimulai dari yang kecil-kecil untuk dapat menuju yang besar. Perubahan ini akan benar apabila dasarnya adalah syariat Islam, hadits, dan ilmu pengetahuan diniyah. Apabila perubahan pola berpikir telah dimiliki, dengan sendirinya akan terjadi perubahan perilaku (behavior transformation).

Hal yang seharusnya dimiliki agar tercipta suatu perubahan pola berpikir adalah keyakinan yang kuat terhadap Alloh SWT, atau ketauhidan. Keyakinan terhadap keberadaan Alloh SWT, dari bangun tidur hingga tidur kembali dan bahkan tidur selamanya atau mati. Keyakinan demikian akan menjadi generator tanpa henti untuk terjadinya suatu perubahan perilaku (behavior transformation). Buah dari keyakinan kuat terhadap Alloh SWT adalah kemanfaatan diri bagi orang lain sebagai bentuk nyata dari perubahan perilaku itu sendiri.

Buah nyata dari pola pikir tersebut adalah rasa malu ketika melukai perasaan atau bahkan merugikan orang dan makhluk lain. Selalu bergerak untuk mempunyai nilai tambah atau kemanfaatan lebih bagi diri, anak, istri, suami, orang tua, saudara, teman, karyawan, pimpinan, atau siapapun dan apapun adalah bentuk refleksi lain dari cara berpikir yang benar. Dengan demikian, akan berkurang adanya keputusan dan kebijaksanaan yang hanya didasarkan pada untung rugi yang tertumpu pada materi. Akan ada pelajar atau mahasiswa yang benar-benar berniat mencari ilmu dan akan mendapatkan banyak ilmu, termasuk ilmu mendapatkan uang, popularitas, dan lain sebagainya yang secara otomatis membawa kemuliaan. Akan muncul ustaz, da’i, jamaah haji yang ikhlas dalam melakukan ibadahnya serta tayangan TV yang didasarkan pada kejujuran, bukan kamuflase nilai keagamaan di balik tujuan lainnya.

Peran Pendidikan dalam Perubahan

Dalam kaitannya dengan pendidikan, peranan pemerintah dan setiap masyarakat pendidikan adalah dominan. Dengan dasar pola berpikir yang benar, mereka harus berani mensosialisasikan lebih gencar dan menyeluruh akan hakikat pengertian pendidikan yang benar. Tujuan utama dari pendidikan atau pembelajaran adalah terciptanya perubahan perilaku (behavior transformation). Perubahan ini lahir setelah terjadi proses belajar berperilaku yang baik (a good character learning). Proses belajar ini paling sedikit mencakup empat pokok perubahan mendasar yaitu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi bisa, dan dari tidak bermanfaat menjadi bermanfaat, dengan tetap didasarkan pada syariat Islam, hadits, dan ilmu pengetahuan diniyah. Ini artinya harus terdapat perubahan ketika belajar. Contoh kecil yang seharusnya terjadi pada bangku pendidikan yaitu perubahan belajar yang hanya datang, duduk, dengarkan, dan pergi atau 4D, menjadi perubahan yang telah disebutkan di atas.

Pada akhirnya, jika semua paparan telah dapat dilakukan maka kesuksesan pasti dapat diraih. Kesuksesan dimaksud tidak hanya berdimensi vertikal yaitu kesuksesan yang diukur oleh manusia yang bersifat materi tapi kesuksesan horizontal yang terukur oleh Alloh SWT. Sukses bagi muslim yaitu ketika meninggal dunia dengan khusnul khatimah, dan mendapatkan ridha-Nya. Kesuksesan model ini tidaklah take for granted atau begitu saja dapat diraih, melainkan harus berproses ketika di dunia. Yaitu dengan melakukan proses belajar berperilaku yang baik (a good character learning) yang berbuah perubahan perilaku (behavior transformation) yang lebih luas. Apakah perubahan yang bermanfaat bagi diri, anak, istri, suami, orang tua, saudara, teman, karyawan, pimpinan, atau siapapun yang berada di sekitar lingkungan kita, baik makhluk hidup yaitu binatang dan tumbuhan ataupun benda mati lainnya.

Revisi, 5-1-2025