Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Antologi Puisi Sufi

Karya: Rizal Tanjung

I — CAHAYA DI UJUNG DETIK

Waktu lahir dari bisik yang tak terdengar,
dari denyut halus yang retak keluar
dari dada sunyi Sang Kekasih.
Detik pertama bukanlah suara,
melainkan cahaya yang membuka mata semesta
dan menggugurkan tirai keheningan.
Aku berdiri di ambang itu—
antara belum-ada dan mulai-ada,
di mana segala sesuatu menyerahkan namanya
kepada-Nya.

II — LANGIT YANG BELAJAR JATUH

Ketika waktu mulai berjalan,
langit belajar jatuh ke bumi
dengan cara menjadi bayang,
menjadi udara yang menyentuh kulit manusia
yang tak menyadari kelembutan itu
adalah salam cinta dari kekekalan.
Aku memungut setiap hembus
seperti memungut firman yang hilang
di tepi padang jiwa.

III — WAKTU SEBAGAI SAYAP YANG TAK TERLIHAT

Detik—adalah burung paling sunyi.
Ia terbang di dalam tubuh manusia
tanpa menampakkan bulunya.
Aku mendengar kepaknya
di sela denyut nadi,
ketika rindu bergetar
menggugurkan segala yang palsu.
Begitulah waktu bekerja:
mengangkat roh,
menundukkan jasad,
menjadikan manusia murid
bagi rahasia dirinya sendiri.

IV — KUTUB YANG MENARIK ARWAH

Ada kutub di tengah waktu
yang memanggil nama setiap hamba
tak peduli sejauh mana kita tersesat.
Kutub itu bukan tempat,
melainkan kerinduan
yang tidak pernah memudar
meski tertutup debu dunia.
Aku berjalan menuju panggilan itu
seperti besi kecil
yang rindu pada magnet asalnya.

V — DI BAWAH BAHU ILAHI

Aku meminum waktu seperti meminum cahaya.
Tak ada haus yang mampu dipadamkannya,
sebab kekekalan tidak mungkin
diselesaikan oleh yang sementara.
Namun aku terus minum,
hingga setiap detik berubah
menjadi air mata yang mengerti
asal-usulnya.

VI — PENGEMIS DI GERBANG MALAM

Aku mengetuk pintu malam
seperti pengemis yang meminta detik tambahan.
Namun malam berkata,
“Apa yang kau cari bukanlah waktu—
melainkan dirimu yang terjatuh dariku.”
Dan aku pun mengerti:
malam adalah guru
yang mengajarkan bentuk asli sunyi.

VII — DESA YANG TAK PUNYA PAGI

Dalam hatiku ada sebuah desa
yang tak mengenal pagi,
karena di sana cahaya tidak datang dari matahari,
melainkan dari ingatan akan Tuhan.
Aku mengunjungi desa itu
setiap kali tubuhku letih
menjadi manusia.

VIII — SAJADAH YANG TERBENTANG DI DALAM DIRI

Sujud bukan gerak tubuh—
melainkan runtuhnya dinding ego.
Ketika aku menyusun waktu,
aku menegakkan sajadah di dadaku sendiri
dan membiarkan seluruh kesombongan
gugur seperti daun gugur
yang kembali kepada tanah akarnya.

IX — KEHENINGAN YANG MENYULUT API

Diam yang sejati
bukanlah ketiadaan suara,
melainkan percikan api
yang membakar segala selain-Nya.
Aku duduk dalam hening
hingga seluruh dunia runtuh,
meninggalkan hanya satu yang abadi:
nama-Nya.

X — DARI NAFAS KE NAFAS

Setiap napas adalah ayat.
Setiap tarikan udara
adalah pengakuan tanpa suara
bahwa kita hidup dari kemurahan-Nya.
Dalam mengatur napas
aku merasakan bagaimana waktu
menjadi jalan pulang.

XI — RAHASIA DALAM DEBAR

Debar di dada
sering dianggap sebagai tanda khawatir.
Namun bagi para salik,
debar adalah ketukan
dari alam yang lebih halus—
alam tempat cinta Ilahi
menunggu untuk dikenali.

XII — KAPAL TANPA LAUT

Manusia adalah kapal
yang mencari lautan yang tak berair.
Laut itu adalah hakikat,
dan ombaknya adalah ujian.
Aku terombang-ambing
bukan karena badai,
tetapi karena belum mengenal tujuan.

XIII — TAMAN WAKTU

Dalam taman itu
mekar bunga-bunga detik,
dan setiap kelopaknya
mengandung aroma sifat-Nya.
Ada bunga sabar,
bunga takwa,
bunga syukur yang harum seperti embun
di pipi subuh.
Aku merawatnya
dengan pasrah.

XIV — BAYANG YANG HILANG DI DEPAN CAHAYA

Ketika cahaya-Nya dekat,
bayang-bayangku lenyap.
Aku pun sadar:
yang lenyap bukan bayangku—
melainkan aku yang palsu.
Begitulah fana bekerja:
melenyapkan tiruan
agar hakikat kembali bersuara.

XV — HUJAN DALAM RUH

Ada hujan yang turun
bukan di langit,
melainkan di dalam dada.
Ia membasuh ingatan,
membersihkan dendam,
menghapus luka yang tak terlihat.
Itulah hujan rahmat
yang tidak pernah salah alamat.

XVI — TANGGA MENUJU NAFAS TERAKHIR

Waktu adalah tangga,
dan setiap anak tangganya
adalah perpisahan kecil.
Semakin tinggi aku mendaki,
semakin ringan dunia menjadi.
Pada akhirnya aku tahu:
tangga itu menuju cahaya
yang tak dapat diucapkan tanpa gemetar.

XVII — RUMAH TANPA PINTU

Ada rumah di dalam ruh
yang tak memiliki pintu,
karena ia tidak perlu dimasuki—
ia adalah asal.
Jika aku sampai di sana,
itu bukan karena aku berjalan,
melainkan karena aku diizinkan pulang.

XVIII — MIMPI PARA DARWIS

Darwis menari
bukan untuk berpusing,
melainkan untuk mendengar
suara pusat semesta
yang berputar dalam jeda.
Aku pun ikut berputar,
hingga dunia menjadi diam
dan aku menemukan Diri
di tengah pusaran.

XIX — DIALOG DENGAN MALAIKAT SUNYI

Dalam tidur antara tidur,
aku bertemu malaikat sunyi.
Ia tidak berkata apa-apa,
tetapi aku mengerti:
kebisuan adalah cara langit
mengatakan sesuatu
yang tak dapat ditanggung oleh telinga.

XX — BULAN YANG MEMBACA DADA MANUSIA

Bulan sering dianggap
sebagai lampu malam.
Namun bagiku,
ia adalah mata
yang membaca isi dada manusia.
Di bawah cahayanya
aku belajar jujur
pada diriku sendiri.

XXI — SEGALA YANG DATANG ADALAH TAMU

Kesedihan, kegembiraan, rindu, kehilangan—
semuanya adalah tamu.
Tugasku bukan mengusir,
melainkan mempersilakan duduk
dan membiarkan mereka pergi
ketika waktunya tiba.
Sebab ia yang menangkap tamu
akan terpenjara olehnya.

XXII — JEMBATAN DI ANTARA NAFAS

Di antara dua napas
ada jembatan halus
yang hanya bisa diseberangi
oleh hati yang bebas.
Di sana aku menemukan
bahwa waktu tidak selalu bergerak—
kadang ia berhenti
agar manusia bisa mengerti dirinya.

XXIII — BENDERA DI PADANG KEHENINGAN

Ketika aku duduk sendirian,
aku melihat bendera
berkibar di padang hening.
Bendera itu bukan kain,
melainkan ruhku sendiri
yang memanggilku pulang.

XXIV — SAMUDRA YANG MENYIMPAN NAMAKU

Dalam samudra azali
ada riak yang menyebut namaku
jauh sebelum aku lahir.
Riak itu,
suara lembut yang memanggil,
membawaku kembali
pada asal mula keberadaanku.

XXV — MENGHIRUP KEKAL, MENGEMBUS FANA

Setiap tarikan napas
adalah kekekalan
yang masuk ke tubuh fana.
Setiap hembusan
adalah dunia
yang akhirnya kutinggalkan.
Aku hidup di antara dua tepi,
namun tidak pernah sendiri.

XXVI — JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Beberapa jejak
yang kupikir jejakku,
ternyata bukan milikku.
Ia adalah jejak cinta-Nya
yang berjalan mendahuluiku.
Lalu aku sadar:
aku tak pernah sendiri berjalan—
aku selalu dituntun.

XXVII — KETIKA WAKTU BERLARI KE BELAKANG

Ada hari tertentu
ketika waktu berjalan mundur.
Bukan untuk mengulang,
melainkan untuk menunjukkan
apa yang pernah kulupakan.
Dan aku menangis,
sebab apa yang kulupakan
ternyata lebih suci
dari apa yang kuingat.

XXVIII — GERBANG KEHILANGAN

Kehilangan adalah gerbang,
bukan hukuman.
Melalui gerbang itu
aku melihat dunia
tanpa kepemilikan,
tanpa genggaman,
tanpa kepalsuan.
Dan aku mengerti
betapa ringannya ruh
jika tidak membawa apa-apa.

XXIX — KEBUN AKHIR

Di ujung waktu
ada kebun terakhir
tempat semua doa beristirahat.
Di sana,
doa-doaku mengalir menjadi sungai
yang memantulkan wajahku
tanpa pernak-pernik dunia.
Aku menunduk
dan mengenali diriku
yang sebenarnya.

XXX — MENYERAHKAN SEMUA DETIK

Inilah puncak perjalanan:
ketika waktu bukan lagi hitungan,
melainkan pintu
yang terbuka tanpa suara.
Aku menyerahkan seluruh detik
kepada Yang Maha Kekal,
seperti seorang anak
yang kembali ke pangkuan
yang paling mengenalnya.

Aku pun selesai—
bukan karena aku mencapai akhir,
melainkan karena aku kembali
ke awal yang abadi.


Sumatera Barat, Indonesia, 2025.