April 21, 2026

ANTOLOGI PUISI SUFISTIK

Oleh: Rizal Tanjung

I – Sajikan Dirimu

Sajikan dirimu
di meja sunyi kekasih
tanpa garam dunia
tanpa lada pujian
Cukup rasa rindu
dan aroma fana
dari hati yang tak lagi
menginginkan apa-apa

II – Diiris dengan Cinta

Pisau cinta-Nya
mengiris lembut tubuh waktu
Membuka lembar demi lembar
dirimu
hingga tak ada lagi
yang kau sembunyikan
selain luka yang memancarkan cahaya

III – Roti di Hadapan Yang Abadi

Kau bukan lagi manusia
Kau adalah roti
di hadapan Yang Abadi
Dipanaskan dalam doa
Disobek dalam zikir
Dicelupkan dalam air mata
para pecinta terdahulu

IV – Tubuh sebagai Puisi

Tubuhmu
adalah puisi yang belum ditulis
Setiap tulang
adalah bait yang bergetar
Setiap urat
adalah syair tak terbaca
Kekasih akan membacamu
dengan lidah api
hingga semuanya menjadi makna

V – Digigit oleh Cahaya

Cahaya tak datang menciummu
Ia menggigit
menelan
mengunyah
hingga jiwamu berubah menjadi gula
yang meleleh di langit malam

VI – Pesta Sunyi di Dada Tuhan

Malam ini
ada pesta sunyi di dada Tuhan
Dan kau adalah hidangan utama
dihidangkan dalam hening
dihidupkan dalam mati
dimatikan dalam hidup

VII – Tangis sebagai Rempah

Tangismu
adalah garam
Desahmu
adalah lada
Ketakutanmu
adalah cuka
Dan Tuhan
mencelupkanmu dalam semuanya
agar kau matang dalam rasa-Nya

VIII – Dihidangkan ke Nirwana

Engkau
dihidangkan ke Nirwana
bukan sebagai tubuh
tetapi sebagai doa
yang mekar dari luka
dan menguap dalam angin

IX – Santapan bagi Yang Tak Terdefinisi

Kau menjadi santapan
bagi yang tak bisa dinamai
Tak bisa dijelaskan
dengan kata,
hanya bisa dikenang
dengan diam
dan air mata

X – Disantap Tanpa Tersisa

Tuhan tidak makanmu
dengan gigi
Dia melumatmu
dengan Kasih
Dia menegukmu
dengan Rahmat
hingga tak ada yang tersisa
selain Dia

XI – Kenikmatan yang Membakar

Nikmatilah rasa terbakar ini
karena setiap gigitan-Nya
adalah cinta
Setiap perih
adalah pintu menuju surga
yang tersembunyi
di balik pori-porimu

XII – Kau Bukan Daging, Tapi Doa

Kau bukan tubuh
Kau bukan daging
Kau adalah doa
yang mewujud dalam wujud
dan mencair dalam pelukan
Yang Maha Hadir

XIII – Meja Sunyi dalam Jantung-Mu

Ada meja sunyi
dalam jantungmu
Di sana cinta menyajikan dirimu
untuk dirimu sendiri
Agar kau bisa belajar
melahap bayanganmu
dan memuntahkan egomu

XIV – Setiap Porimu adalah Bait Tuhan

Setiap porimu
adalah bait Tuhan
Setiap helaan napas
adalah ayat rahasia
Setiap getar tubuhmu
adalah pujian
yang tak bisa dilagukan
oleh manusia

XV – Dibakar Hingga Menjadi Aroma

Kau akan dibakar
dalam api cinta
bukan untuk dibinasakan
melainkan untuk menjadi
aroma yang menuntun
jiwa-jiwa tersesat
menuju dapur kasih-Nya

XVI – Lenguh Fana

Kau akan mendesah
bukan karena luka
tapi karena sadar
bahwa lenyap adalah jalan pulang
dan cinta adalah tungku
yang membakar “aku”
hingga hanya “Dia” tersisa

XVII – Piring Kosong, Jiwa Penuh

Setelah semua dilahap
yang tertinggal
bukan tulang
bukan abu
tetapi piring kosong
yang menampung cahaya
jiwa yang penuh

XVIII – Daging Menjadi Doa

Dagingmu telah berubah
menjadi doa
Darahmu menjadi tinta
untuk menulis puisi
yang tak bisa dibaca
kecuali oleh Tuhan

XIX – Dirimu Telah Dimakan

Kau telah dimakan
dan ternyata
kau tak pernah ada
Selain sebagai rasa
dalam mulut Tuhan
yang mencicipi semesta

XX – Tak Ada Lagi Kau, Hanya Dia

Kini,
tak ada lagi kau
Tak ada lagi tubuh
Tak ada lagi nama
Hanya Dia
yang melahapmu
dan menjelma dalam dirimu
sebagai Keabadian

XXI – Menjadi Angin

Kau kini hanyalah angin
tak terlihat
tak tertangkap
namun menyusup ke dada pecinta
sebagai bisikan rahasia
tentang fana dan baqa

XXII – Runtuhnya Cermin

Cermin tempat kau memandang
pecah menjadi debu
Tak ada lagi wajahmu
yang tersisa
hanya pantulan cahaya
yang kembali
kepada Matahari Abadi

XXIII – Lautan dalam Setetes Air

Kau adalah setetes
tapi mengandung lautan
Kau adalah butir
tapi menyimpan langit
Maka tenggelamlah
agar kau sadar
bahwa gelombang hanya
nama lain dari sunyi

XXIV – Debu yang Menari

Menjadi debu
adalah menjadi tarian
yang ringan dihembuskan
Kau jatuh ke tanah
namun diangkat lagi
oleh napas rahasia
hingga kembali pada-Nya

XXV – Sunyi yang Bernyanyi

Sunyi tidak kosong
Sunyi adalah suara
yang terlalu halus
untuk telinga dunia
Namun bagi hati yang teriris
ia adalah nyanyian
serupa panggilan rumah

XXVI – Menyatu dengan Api

Api tidak membakar
Ia memeluk
Ia memurnikan
Ia mengajarkan
bahwa panas hanyalah nama lain
dari kasih yang tak pernah padam

XXVII – Menjadi Bayangan Cahaya

Bayanganmu hilang
karena kau telah menjadi cahaya
Namun cahaya pun hilang
karena Dia adalah terang
yang tak lagi memerlukan
nama atau wujud

XXVIII – Hening sebagai Kitab

Bacalah hening
karena di sana
terdapat ayat-ayat yang tak ditulis
huruf-huruf yang tak terucap
Dan kau hanyalah mata
yang belajar melihat
dari buta

XXIX – Fana sebagai Jalan

Jangan takut fana
karena fana adalah jembatan
yang kau lewati
untuk sampai pada kekal
Tanpa runtuhnya dirimu
takkan pernah kau tahu
rasa pulang

XXX – Menjadi Debu

Akhirnya
kau hanya debu
melayang tanpa nama
dihisap oleh cahaya
disemai oleh kasih
dan hilang—
agar abadi dalam Dia

Sumatera Barat, Indonesia 2024