Menjaga Tanimbar di Tengah Blok Masela: Suara dari Malang untuk Masyarakat Adat
Oleh: joko
Dari Kampus ke Pandopo: Mahasiswa Tanimbar Suarakan Pemberdayaan Adat di Tengah Megaproyek Energi, FGD PERMATA Malang Soroti Masa Depan Masyarakat Adat Tanimbar
PERMATA Malang menggelar diskusi publik dan pertunjukan budaya untuk menegaskan pentingnya peran masyarakat adat Tanimbar di tengah geliat proyek Blok Masela.
Suara dari Malang untuk Tanah Tanimbar
http://suaraanaknegerinews.com | Malang, 6 Oktober 2025 — Di tengah gemuruh pembangunan energi nasional, suara dari tanah Tanimbar bergema di Pandopo Kabupaten Malang. Persatuan Mahasiswa Tanimbar (PERMATA) Malang menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan pertunjukan budaya bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Adat Tanimbar dalam Menghadapi Peluang dan Tantangan Blok Masela.”
Kegiatan ini bukan sekadar diskusi, tetapi juga ruang ekspresi budaya yang menghubungkan generasi muda Tanimbar dengan akar identitas mereka. Di tengah wacana pembangunan besar Blok Masela, mahasiswa, akademisi, dan aktivis berkumpul untuk menegaskan satu pesan: masyarakat adat tidak boleh tersisih dari proses pembangunan.
Menyuarakan Keadilan dari Ruang Diskusi
Dalam sesi FGD, hadir berbagai kalangan akademisi dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Malang — mulai dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Universitas Merdeka, Universitas Kanjuruhan, hingga Politeknik Negeri Malang dan Universitas Brawijaya.
Ketua Panitia, Boy Calvin Masombe, menegaskan pentingnya ruang dialog yang inklusif bagi generasi muda Tanimbar.
“Blok Masela bukan hanya soal investasi dan energi, tetapi juga soal masa depan masyarakat adat,” ujarnya.
“Kami ingin menyampaikan bahwa masyarakat adat tidak boleh dipinggirkan dari proses pembangunan.”
Isu-isu strategis seperti hak atas tanah ulayat, risiko lingkungan, dampak sosial, hingga keterlibatan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan menjadi fokus pembahasan yang hangat dan kritis.
Masyarakat Adat dan Tantangan Pelembagaan
Antropolog Universitas Brawijaya, Dr. Hipolitus K. Kewuel, M.Hum, menilai bahwa pelembagaan masyarakat adat Tanimbar menjadi langkah strategis menghadapi proyek Blok Masela.
“Pelembagaan masyarakat adat bukan hanya pengakuan formal, tetapi penguatan posisi tawar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan proyek,” jelasnya.
Menurutnya, peluang ekonomi yang terbuka lebar dari Blok Masela harus diimbangi dengan perlindungan terhadap hak dan budaya masyarakat adat. Tanpa kelembagaan yang kuat, masyarakat berisiko menjadi penonton di tanah sendiri.
“Dengan pelembagaan, masyarakat adat dapat menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek,” tegasnya.
Kebijakan Publik dan Keberpihakan
Dari sudut pandang kebijakan publik, Dr. Edoardus Koisin, S.Sos., M.AP dari Universitas Lelemuku Saumlaki menilai bahwa pembangunan Blok Masela perlu dikelola melalui pendekatan kebijakan yang partisipatif dan berkeadilan.
“Kebijakan publik seharusnya tidak hanya mengatur investasi, tetapi menjamin hak-hak masyarakat adat sebagai pemilik wilayah,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah harus memastikan masyarakat adat menjadi bagian dari setiap tahap pembangunan — mulai dari perencanaan hingga evaluasi.
“Tanpa keberpihakan regulasi, masyarakat adat berpotensi termarjinalkan secara sosial, ekonomi, dan budaya,” ujarnya.
Dr. Koisin juga mendorong penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat adat melalui regulasi, pelatihan, dan kemitraan strategis agar mereka mampu menjadi mitra sejajar dalam pembangunan.
Perspektif Sosiologi: Mengelola Perubahan Sosial
Sementara itu, Rd. Cayetanus A. Masriat, Sosiolog STPAK Ambon sekaligus rohaniawan Katolik, menyoroti dimensi sosial budaya masyarakat Tanimbar.
“Masyarakat adat Tanimbar memiliki struktur sosial dan nilai budaya yang kuat — inilah modal sosial mereka dalam menghadapi arus investasi besar,” jelasnya.
Ia menegaskan, pembangunan Blok Masela tidak hanya membawa perubahan ekonomi, tetapi juga perubahan sosial yang signifikan. Jika tidak dikelola dengan baik, dapat muncul ketegangan sosial dan pergeseran nilai.
“Pembangunan harus menempatkan masyarakat adat sebagai aktor utama dalam perubahan sosial. Kekuatan sosial seperti gotong royong, kepercayaan, dan kepemimpinan adat harus diperkuat, bukan dilemahkan,” tambahnya.
Dengan pendekatan partisipatif dan sosiologis, Cayetanus optimistis masyarakat adat dapat menavigasi perubahan tanpa kehilangan jati diri dan kohesi sosialnya.
Merajut Budaya di Tengah Modernisasi
Selepas diskusi, suasana Pandopo berubah menjadi panggung kebudayaan. Musik tradisional Foruk, tarian adat, hingga Rap Tanimbar menggema. Setiap gerak dan irama menjadi simbol perjuangan menjaga identitas di tengah arus industrialisasi.
Pertunjukan budaya ini bukan hanya hiburan, melainkan ekspresi kultural atas perjuangan masyarakat adat Tanimbar menghadapi tekanan pembangunan.
Antusiasme penonton — mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum — menegaskan bahwa budaya tetap menjadi jantung dari perjuangan identitas.
Titik Awal Kesadaran Kolektif
Bagi PERMATA Malang, kegiatan ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan gerakan kesadaran kolektif. Mereka ingin memastikan bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya bicara soal ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga soal kemanusiaan dan kelestarian budaya.
“Kami ingin menyampaikan bahwa masyarakat adat bukan objek, melainkan subjek pembangunan. Suara mereka harus didengar, budaya mereka harus dihormati,” tutup Boy Calvin Masombe.
FGD dan pertunjukan budaya ini menjadi pengingat bahwa di balik proyek besar seperti Blok Masela, ada manusia, ada sejarah, dan ada budaya yang mesti dijaga. Pembangunan sejati adalah yang menumbuhkan, bukan yang menyingkirkan.
#dm