April 18, 2026

Menjawab Kontroversi “Ontua”, Vicaris Episcopal Ajak Umat Gunakan Etika Gerejawi

Oleh : Joko

Sapaan kepada Uskup: Vicaris Episcopal Tanimbar Klarifikasi dan Himbau Umat

http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki — Menanggapi perbincangan di salah satu grup WhatsApp yang melibatkan sapaan “Ontua” kepada Yang Mulia Bapak Uskup Mgr. Seno Ngutra, Vicaris Episcopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar-Maluku Barat Daya, RD Ponsianus Ongirwalu menyampaikan himbauan terbuka kepada umat Katolik agar lebih memahami tata krama komunikasi, khususnya dalam penyebutan gelar atau sapaan kepada pemimpin gereja.

Klarifikasi dan Penegasan Makna Sapaan

Dalam pesan pastoralnya, Vicaris menyatakan bahwa sapaan “Ontua” yang digunakan oleh saudara Sony Ratisa kemungkinan besar lahir dari kekeliruan atau ketidaktahuan, bukan dari niat melecehkan atau merendahkan martabat Bapak Uskup.

“Sapaan tersebut mungkin memiliki arti tertentu dalam budaya Maluku, namun dalam konteks Gereja Katolik, menyapa Uskup dengan sebutan ‘Yang Mulia’ atau ‘Bapak Uskup’ adalah bentuk penghormatan yang selayaknya diberikan,” jelas Vicaris.

Ia juga menegaskan bahwa Bapak Uskup Seno Ngutra sendiri memandang persoalan ini tidak perlu dibesar-besarkan dan dapat diselesaikan dengan semangat saling menghargai serta pengertian satu sama lain.

Etika Berbahasa dan Sapaan dalam Tradisi Gereja Katolik

Vicaris mengajak seluruh umat untuk memahami pentingnya etika berbahasa dalam konteks keagamaan dan komunikasi resmi.

Ia menjelaskan bahwa menyapa pemimpin Gereja tidak sekadar soal tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan atas tugas perutusan dan pelayanan yang diemban.

Berikut beberapa prinsip sapaan yang disarankan: 1. Menggunakan Gelar yang Tepat: Sapaan seperti “Yang Mulia” atau “Bapak Uskup” merupakan bentuk penghormatan yang mencerminkan sikap sopan dan formal.

2. Bahasa Formal: Gunakan bahasa yang santun dan resmi dalam setiap komunikasi dengan pemimpin gereja, baik lisan maupun tulisan.

3. Etika Keagamaan:
Memahami bahwa sebutan kepada Uskup lebih menekankan aspek pelayanan rohani, bukan kekuasaan atau jabatan administratif.

Ajakan untuk Bijak dan Saling Menghargai

Vicaris Episcopal mengajak umat untuk tidak cepat menilai atau memperkeruh suasana. Ia berharap persoalan ini menjadi momentum pembelajaran bersama, agar dalam menyapa dan berkomunikasi, umat semakin bijak dan menghormati tata krama gerejawi.

“Mari kita semua memahami dan mempedomani etika menyapa pemimpin rohani kita. Sebutan yang tepat mencerminkan hormat, dan itulah yang menjadi semangat dalam kebersamaan kita sebagai umat Katolik,” tutupnya.