MENUNGGU BUAH HATI
Oleh: Rizal Tanjung
–
(untuk setiap ibu yang dilupakan oleh darah dagingnya sendiri)
sudah berapa musim gugur datang dan pergi
sementara aku masih di sini—menunggu
dengan mata renta yang mulai buram
dan jantung yang berdetak pelan, tapi setia.
di jendela ini, aku belajar membaca waktu
dari ranting-ranting yang semakin telanjang,
dari hujan yang mengetuk kaca
seperti berharap aku menjawab, “ya, anakku pulang.”
tapi yang datang hanya angin,
dan dingin,
dan sepi,
dan suara detak jarum jam
yang seperti menertawakan harapanku.
kau pernah berkata,
“bu, jangan khawatir. aku akan sering menelepon.”
tapi janji itu seperti kabut pagi,
muncul sekejap, lalu hilang dalam hangat yang tak pernah kembali.
telepon itu masih di sini, nak,
seperti aku—tak pernah pergi.
tiap hari kupeluk nadanya yang mati,
berharap satu dering akan menyelamatkanku dari sunyi ini.
tetangga bilang kau sudah sukses,
punya mobil, rumah mewah, dan istri manis.
tapi apakah semua itu lebih penting dari suara ibumu?
suaraku yang dulu meninabobokanmu setiap malam?
yang bergetar saat kau demam,
dan bersorak kecil saat kau belajar bicara.
sekarang aku berbicara sendiri,
pada foto-fotomu yang mulai pudar,
pada dinding rumah yang penuh cap tangan kecilmu,
pada tuhan,
yang kupikir masih punya waktu mendengar.
kadang aku takut mati bukan karena takut,
tapi karena takut tak sempat mendengarmu lagi,
meski hanya berkata:
“bu, maaf…”
tapi mungkin kau memang lupa,
bahwa yang menunggumu bukan hanya rumah,
bukan hanya kampung halaman,
tapi seorang ibu—yang tak punya siapa-siapa lagi, selain kenangan akanmu.
hari ini aku duduk di tempat yang sama,
dengan tubuh lebih kecil dan mata lebih dalam.
dan telepon itu… masih diam.
seperti kau.
dan mungkin nanti, saat kau pulang,
yang menyambut hanya kursi kosong dan jendela terbuka.
sisa teh yang tak habis,
dan piring yang hanya berisi rindu yang basi.
jika saat itu kau menangis,
ingatlah:
air mata tak bisa menggantikan panggilan yang tak pernah kau lakukan.
Sumatera Barat, 10 April 2025.