April 19, 2026
leni2

Gambar: cover cerpen Leni Marlina: “Merindukan Suara Sendiri”. Sumber Gambar: Starcom Indonesia’s Short Story Cover No. 31. 12012026–LM.

Cerpen: Leni Marlina

Hujan turun sejak sore dan belum berniat berhenti. Alia berdiri di ambang dapur, memeriksa panci yang tak lagi mendidih. Api kompor kecil. Ia mengecilkannya lagi: kebiasaan yang tak ia sadari sejak beberapa bulan terakhir: memastikan segala sesuatu “tidak berlebihan”.

“Kamu matikan saja,” kata Riki dari ruang tengah.
“Sebentar,” jawab Alia. “Supnya hampir …”

“Kamu selalu bilang begitu. Ujung-ujungnya keasinan.”
Alia menoleh. “Kemarin tidak.”

“Kemarin?” Riki tersenyum tipis. “Kita tidak masak sup kemarin.”

Alia diam. Ia membuka ponsel, menggulir galeri. Foto panci di atas kompor, uap mengepul. Tanggal kemarin. Ia mengangkat layar.
Raka melirik sekilas. “Itu dua hari lalu. Lihat jamnya.”
Alia memperbesar. Jam menunjukkan 17.00 WIB. Ia mengingat hujan, bau bawang, dan suara sendok beradu.
“Dua hari lalu hujan?” tanyanya ragu.

“Tidak,” kata RakI cepat. “Cerah. Kamu pasti tertukar.”
Kata pasti jatuh ringan, nyaris ramah. Alia menutup ponsel. Sup itu tetap ia aduk perlahan, seperti mengaduk pikirannya sendiri.
Mereka makan tanpa banyak bicara. Sendok Raka bergerak mantap. Alia menghitung suapan. Di dinding, bayangan mereka berdua memanjang, retak oleh cahaya lampu. Dinding itu dingin, padat, fondasi rumah yang kokoh, kata ayahnya dulu, dibangun dengan Semen Padang, agar tidak goyah saat banjir bandang. Alia menyentuhnya sekilas, memastikan dunia masih keras dan nyata.

“Kamu capek?” tanya Riki

“Sedikit.”
“Karena kamu terlalu banyak mikir.”

Alia menatap mangkuknya. “Aku hanya ingin memastikan.”

“Memastikan apa?”

“Bahwa aku tidak salah.”

Riki tertawa kecil. “Semua orang salah, Alia. Tapi kamu… kamu sering.”

Kata sering membuat sup terasa pahit.
Malam itu, sebelum tidur, Alia menulis di jurnal cokelatnya—bukan untuk mengingat, tapi untuk bertahan.
Sup kemarin hujan. Aku ingat. Aku ada.
Raki mematikan lampu.

“Jangan begadang. Kamu jadi sensitif.”

“Aku cuma menulis.”

“Menulis membuatmu mengarang.”
Gelap turun seperti tirai.

Pagi menyapa dengan bau tanah basah. Alia menyapu teras. Daun menempel di sudut, ia sapu lagi, sampai bersih. Riki keluar membawa kopi.

“Kamu lupa kunci pagar semalam,” katanya.

“Aku kunci.”

“Tidak.”

“Aku ingat bunyinya.”

“Kamu ingat bunyi banyak hal yang tidak terjadi.”

Alia berhenti menyapu. “Kenapa kamu selalu begitu?”

“Begitu bagaimana?”

“Membuatku ragu.”

Riki menyeruput kopi. “Aku melindungimu dari kesalahan.”

“Dengan membuatku salah?”

“Dengan membuatmu sadar.”
Kata sadar seperti kabut. Alia ingin marah, tapi suaranya tercekat. Ia kembali menyapu, gerak berulang yang menenangkan.

Telepon berdering. Sari.
“Alia, kita jadi ketemu sore?”

“Jadi,” jawab Alia cepat.

Riki mengangkat alis. “Kamu tidak bilang.”

“Aku bilang semalam.”
“Tidak.”

“Kita bicara di dapur.”

“Kamu bermimpi.”

Alia memejamkan mata. “Riki, tolong.”

“Kenapa kamu selalu memintaku menolong, tapi menolak saat aku meluruskan?”

Sore itu, Alia bertemu Sari di kedai kecil. Uap kopi naik. Tangannya gemetar.

“Aku mulai ragu pada ingatanku,” kata Alia. “Hal kecil. Tanggal. Percakapan.”

Sari mencondongkan badan. “Sejak kapan?”

“Entahlah. Seperti… kabut.”

“Apakah setiap kali kamu yakin, ada yang bilang kamu salah?”
Alia terdiam.

Sari meraih tangannya. “Alia, tulis. Simpan. Foto. Pesan. Bukan untuk membuktikan ke siapa pun, hanya untukmu.”

Alia mengangguk. Kabut sedikit menipis.

Di rumah, Riki menunggu. “Lama.”

“Kedai ramai.”

“Kamu pasti salah pilih jam.”

Alia mengeluarkan struk. “Ini.”

Riki membaca. “Jam di kasir sering ngaco.”

“Semua jam?”

“Kamu terlalu percaya benda.”

Alia menelan ludah. Ia membuka jurnal, menulis dengan huruf besar:
Aku percaya diriku.

Riki berdiri di belakangnya. “Menulis itu pelarian.”

“Tidak,” kata Alia, suaranya gemetar tapi utuh. “Ini pegangan.”

Riki tersenyum. “Pegangan yang rapuh.”

Alia bangkit, berjalan ke dinding, menempelkan telapak tangan. Dingin. Padat. Fondasi bekerja diam-diam. Ia menarik napas panjang.

“Kamu berubah,” kata Riki.

“Aku sedang belajar berdiri.”

“Tanpa aku?”

“Dengan diriku.”

Hujan turun lagi. Bayangan di dinding bergeser, tapi Alia tidak lagi mengikutinya dengan mata. Ia membuka jendela sedikit. Udara masuk, membawa bau tanah. Nyata.

Malam itu, ia menyimpan jurnal di tas. Kunci pagar difoto sebelum dikunci. Bukan untuk menantang, untuk menjaga.
Di halaman terakhir jurnal, ia menulis:
Aku saksi hidupku sendiri.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti lantai licin. Tidak ada jatuh yang keras, hanya terpeleset kecil yang berulang.

“Kenapa kamu jarang membalas pesan Sari?” tanya Raka suatu malam.

“Aku balas.”

“Kamu yakin?”

Alia membuka ponsel. Riwayat percakapan kosong sejak dua hari lalu. Ia menggulir, alisnya berkerut.

“Ini aneh,” katanya. “Aku ingat mengetik.”

“Kamu sering mengira mengetik,” jawab Raka ringan. “Padahal cuma memikirkan.”

Alia mengunci layar. “Kamu menghapusnya?”

Riki tertawa kecil. “Kenapa aku harus melakukan itu?”

“Aku tidak tahu,” Alia mengaku. “Itu yang membuatku takut.”

“Takut pada siapa?”

“Pada diriku.”
Raka mendekat. “Makanya, dengarkan aku.”

Kata dengarkan terdengar seperti perintah yang dibungkus perhatian. Alia mengangguk, meski dadanya menolak.

Akhir pekan datang. Sari mengirim pesan: Aku ke rumahmu?

Alia membalas cepat: Jangan. Aku capek.
Raka melihat layar.

“Keputusan yang baik.”

“Kenapa?”

“Kamu butuh tenang. Orang lain bikin kepalamu ramai.”
Alia mematikan ponsel. Rumah terasa lebih luas—dan lebih kosong.

Ia membersihkan rak, memindahkan foto-foto. Foto dirinya tersenyum di pantai diletakkan paling belakang. Foto berdua dengan Raka dipajang di depan. Ia tidak ingat memutuskan begitu, tapi tangannya melakukannya dengan patuh.

Di ruang tamu, dinding dingin itu masih ada. Ia menyentuhnya, mencari keseimbangan. Fondasi tidak bicara, tapi menahan. Alia menahan napas, meniru.

“Kamu kenapa berdiri di situ?” tanya Raka.

“Tidak apa.”

“Kamu sering bilang ‘tidak apa’, padahal jelas apa-apa.”

Alia berbalik. “Kamu mau aku jawab apa?”

“Jawaban yang benar.”

“Yang benar menurut siapa?”

Raka terdiam sesaat. “Menurut kita.”

Kata kita terdengar luas, tapi menyempitkan langkah Alia.
Malam itu, ia menulis lagi. Tangannya gemetar.
Aku rindu suaraku sendiri.
Raka mematikan lampu.

“Besok kamu lupa.”

Alia menggenggam jurnal. “Tidak.”

“Lihat saja.”

Kabut turun lebih tebal. Alia bangun dengan kepala berat. Jam di dinding menunjukkan 04.40. Ia ingat menyetel alarm 05.00.

“Kamu mematikannya,” kata Raka dari pintu.
“Aku tidak.”

“Kamu tidur gelisah. Aku kasihan.”

“Kenapa kamu tidak membangunkanku?”

“Untuk apa? Kamu selalu salah langkah kalau dipaksa.”

Alia duduk di tepi ranjang. “Aku merasa bodoh.”
Raka mendekat, merapikan rambutnya. “Bukan bodoh. Rapuh.”

Kata itu menyentuh luka lama. Alia menangis tanpa suara.

Siang hari, Sari datang tanpa janji. Alia terkejut.
“Aku khawatir,” kata Sari. “Kamu menghilang.”

Raka menyela cepat. “Alia sedang tidak stabil.”
Sari menatap Alia. “Benarkah?”

Alia membuka mulut, menutupnya lagi. “Aku… capek.”

“Kita bisa bicara berdua,” kata Sari.

Raka tersenyum. “Nanti saja. Dia mudah bingung.”
Sari ragu. “Ali?”

Alia mengangguk pelan—kepada Raka, bukan kepada Sari. Pintu tertutup. Sunyi jatuh seperti kain basah.

Malamnya, Alia memeriksa jurnal. Beberapa halaman hilang. Ia menahan napas.
“Kamu cari apa?” tanya Raka.

“Halaman terakhir.”
“Kamu sobek sendiri. Kamu marah.”

“Aku tidak.”

“Kamu sering lupa saat marah.”

Alia duduk di lantai. Tangannya gemetar. “Kalau aku salah ingat segalanya… siapa aku?”

Raka berlutut di depannya. “Kamu aman kalau bersamaku.”
“Dan kalau tidak?”
“Kamu tenggelam.”

Alia menutup mata. Kata-kata itu seperti batu. Ia merasa kecil, kosong. Ia hampir menyerah—hampir percaya bahwa dunia hanya aman jika ia berhenti mempercayai dirinya.

Di saat itu, ia menyentuh lantai. Dingin. Keras. Nyata. Fondasi menahan beban. Ia teringat ayahnya: yang kuat tidak ribut.

Alia berdiri perlahan. “Aku mau tidur.”
Raka mengangguk puas. “Itu pilihan tepat.”

Di kamar, Alia menyelipkan satu kertas kecil ke saku tas—bukan jurnal. Ia menulis satu kalimat saja, dengan pulpen gemetar:
Aku ada.

Ia menaruh tas dekat pintu.
Di luar, hujan berhenti. Bayangan menipis. Untuk pertama kali setelah lama, Alia tidak menunggu izin untuk bernapas.

Pagi datang tanpa hujan. Cahaya masuk dari celah jendela, jatuh lurus ke lantai. Alia duduk di tepi ranjang, menatap tas di dekat pintu. Kertas kecil di sakunya terasa hangat.
Raka masih tidur.

Alia berdiri pelan. Setiap langkah di lantai terdengar jelas. Ia berhenti di ruang tamu, menempelkan telapak tangan ke dinding. Dingin. Padat. Fondasi bekerja diam-diam—menahan beban yang tak terlihat. Ia menutup mata, meniru: menahan, tanpa ribut.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Sari: Aku di depan.
Alia membuka pintu. Udara pagi masuk, segar. Sari berdiri, cemas.

“Kamu baik-baik saja?”

“Aku ingin bicara,” kata Alia. “Di luar.”

Mereka duduk di bangku depan rumah. Alia membuka tas, mengeluarkan kertas kecil. “Aku menulis ini kemarin.”
Sari membacanya pelan. Aku ada.

“Itu cukup,” kata Sari lembut.

“Tidak besar,” Alia mengangguk. “Tapi nyata.”
Raka muncul di ambang pintu. “Kamu tidak pamit.”
“Aku pamit sekarang,” jawab Alia. “Aku butuh ruang.”

“Kamu sedang bingung.”

“Aku sedang sadar.”

“Dengar—”

“Tidak,” potong Alia.
Suaranya tidak keras, tapi utuh. “Sekarang giliranku bicara.”

Sunyi menegang.
“Aku akan pergi sementara,” lanjut Alia. “Aku tidak menuduh. Aku menetapkan batas.”

Raka menghela napas. “Kamu akan menyesal.”
“Mungkin,” kata Alia. “Tapi itu pilihanku.”

Ia berdiri. Sari ikut berdiri. Alia menoleh ke rumah sekali lagi. Dindingnya tetap berdiri. Fondasi tidak runtuh saat ditinggal sebentar.

Hari-hari berikutnya sederhana. Alia tinggal di rumah Sari. Pagi diisi dengan berjalan, siang menulis satu halaman, malam membaca ulang tanpa mengoreksi. Jika ragu datang, ia menyentuh meja, kursi, lanti, hal-hal yang keras dan ada.
Ia mengirim pesan singkat ke dirinya sendiri setiap malam: Aku ada. Hari ini begini. Tidak semua hari ringan. Ada pagi ketika kabut kembali. Tapi kini ada jeda, ruang untuk memilih.

Sebulan berlalu. Alia kembali ke rumah untuk mengambil barang. Riki tidak ada. Rumah sunyi. Ia melangkah perlahan, menyentuh dinding, kali ini bukan untuk memastikan, tapi untuk mengucap terima kasih.
Ia mengambil jurnal cokelatnya. Beberapa halaman hilang, tapi banyak yang tersisa. Ia tersenyum tipis. Yang tersisa cukup. Di halaman terakhir, ia menulis tanpa tergesa:Aku tidak selalu yakin.Tapi aku belajar mempercayai langkah kecil.

Fondasi tidak berteriak. Ia menahan. Alia menutup jurnal. Mengunci pintu. Di luar, langit cerah. Bayangan pendek, tidak lagi memanjang.

Alia berjalan pulang dengan napas panjang. Tidak ada kemenangan riuh. Hanya ketenangan yang bekerja diam-diam, seperti fondasi yang kokoh. Dan itu cukup.

Melbourne, Australia, 2012.

The Indonesian version of the short story above is available in the following official link:

Longing for One’s Own Voice