April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

(Lampu panggung menyala pelan. Di tengah ruangan kosong, seorang perempuan tidur diatas lantai dengan bertekuk lutut. Suara lirih mulai terdengar.)

PEREMPUAN:
Aku tidak dilahirkan untuk menjadi rahasia…
tapi begitulah aku hidup:
di balik tirai,
di nomor telepon tanpa nama,
di malam-malam yang tidak pernah bertanya apakah aku bahagia.
(Kemudian berusaha duduk dengan susah payah)

Aku…
aku bukan istri.
Bukan pacar.
Bahkan bukan kekasih.
Aku hanya… ruang pelarian.
Tempat singgah saat dia bosan.
Saat rumahnya terlalu bising dengan pertengkaran,
dan hatinya terlalu beku untuk pulang.

(Ketawa pendek, getir)
Ironis, ya?
Aku adalah cinta yang dia sembunyikan—
tapi aku mencintainya terang-terangan,
di dalam gelap.

Ia datang padaku seperti tamu hotel:
dengan pelukan hangat dan tubuh yang lelah,
menginap di dekapku,
lalu pergi sebelum pagi tahu.

Aku bertanya…
apa aku ini rumah?
Atau hanya kamar dengan tarif harian?

(Terinspirasi dan getir)
Dia bilang aku istimewa.
Tapi hanya saat lampu mati.
Dia bilang aku cantik.
Tapi tak pernah mau terlihat bersamaku di tempat umum.
Dia bilang,
“Suatu hari, kalau aku berani… kamu akan jadi milikku.”
Tapi hari itu tidak pernah datang.
Dan aku tetap di sini,
dalam penjara yang tidak punya sipir,
tapi penuh dengan janji yang tidak ditepati.

(Diam sejenak, lalu bicara perlahan)
Kadang aku membayangkan…
bagaimana rasanya disebut “istri.”
Bukan karena aku haus status,
tapi karena aku ingin tahu rasanya disayangi
tanpa harus disembunyikan.

Mereka bilang aku perusak rumah tangga.
Padahal aku cuma mengetuk pintu yang setengah terbuka,
dan dia yang membukanya lebar-lebar.

Aku yang dicaci,
padahal dia yang datang.
Aku yang dikutuk,
padahal aku hanya percaya pada kata-kata manis yang
diucapkan dari mulut yang juga mencium dahi istrinya malam itu.

(Pelan-pelan berdiri, menatap ke langit-langit)
Aku belajar…
bahwa menjadi perempuan kedua adalah menjadi takdir
yang dituliskan di kaki, bukan di hati.
Aku diinjak,
dijalanin,
tapi tak pernah diperjuangkan.

(Ada air mata yang tidak tumpah)
Aku bukan penjahat.
Tapi di mata dunia, aku sudah dihukum.
Dibuang ke penjara ini:
ruang kecil,
gelap,
sepi,
dan penuh suara-suara yang terus berkata:
“Kau tak pantas bahagia.”

(Suara mulai menegang)
Dan tahu apa yang paling menyakitkan?
Aku masih menunggu!
Masih berharap dia memilihku.
Masih berdoa dia datang dengan koper dan keputusan.
Padahal setiap malam yang terjadi,
hanyalah eksekusi di tempat tidur secara bergantian.

(Duduk kembali, tersenyum miris)
Lucu, ya?
Aku ini seperti sisa makanan yang disimpan di kulkas.
Tak dibuang,
tapi dimakan setiap malam.

(Sunyi sejenak)
Tapi malam ini…
malam ini aku lelah.
Bukan lelah menunggu,
tapi lelah merasa tak cukup untuk dicintai.

Malam ini, aku tak akan menangis.
Bukan karena aku kuat,
tapi karena air mataku sudah pindah tempat:
ke dada yang sesak,
ke napas yang pendek,
ke nadi yang pelan-pelan melemah.

(Menunduk. Suara mengecil.)

Kalau besok kalian menemukanku diam,
dengan tubuh dingin dan senyum yang kosong—
jangan panggilku pelacur.
Jangan panggilku simpanan.
Panggil aku:
korban dari cinta yang disimpan terlalu lama.

(Dia kembali merebahkan diri. Lampu perlahan padam. Sunyi. Monolog berakhir.)

Sumatera Barat, 12 April 2025.