April 17, 2026

Ndaru:Dunia yang Ia Putar Sendiri

ndaru1

Oleh Ilhamdi Sulaiman

Ketika saya ingin mengomentari postingan lukisan -lukisan Ndaru di akun FB nya ada keraguan ( karena jujur saya bukanlah kritikus seni rupa ) namun ada pula rasa kegenitan saya untuk bisa memberi sedikit apresiasi apa yang telah dikerjakannya sebagai (kalau boleh saya katakan pelukis pemula untuk dirinya.)

 


Ya memang Ndaru adalah pelukis pemula.Tapi dalam lukisan-lukisannya, ia tidak tampak seperti orang yang sedang mencari-cari arah. Ia justru seperti seseorang yang sudah menemukan dunianya dan memilih untuk tinggal di sana.
Latar hitam pekat hampir selalu hadir, seperti malam yang tidak selesai. Di atasnya, garis-garis putih meliuk menjadi spiral, sulur, titik-titik kecil yang seperti hujan kosmik. Warna-warna terang,hijau, kuning emas, biru, merah muncul tegas, tidak malu-malu. Ada kaki bersepatu hak tinggi berdiri sendirian. Ada matahari yang berputar. Ada wajah bulan, burung, dan simbol-simbol yang tidak menjelaskan diri mereka, tetapi justru mengundang tafsir.

Saya tidak ingin menyebut Ndaru terlalu jauh sebagai surealis atau dekoratif. Itu wilayah para akademisi. Tapi jelas ia sedang bermain di wilayah simbol. Ia tidak melukis apa yang ia lihat. Ia melukis apa yang ia rasakan.

Dalam beberapa tulisan, Jim Supangkat pernah menyebut bahwa seni rupa kontemporer Indonesia berkembang ketika perupa berani membangun idiom personalnya sendiri—bahasa visual yang tidak sekadar ikut arus. Pada Ndaru, keberanian itu sudah terlihat. Ia mengulang spiralnya. Ia setia pada latar gelapnya. Ia tidak tergoda menjadi realistis hanya agar mudah dipahami.

Sanento Yuliman pernah banyak menulis tentang pentingnya gaya sebagai identitas. Bahwa seorang perupa pada akhirnya dikenali dari konsistensinya. Dalam hal ini, Ndaru seperti sedang membangun tanda tangan visualnya sendiri. Sekali orang melihat spiral dan kontras warna di atas latar hitam itu, orang akan mulai berkata: ini dunia Ndaru.

Namun yang menarik bukan hanya konsistensinya. Ada semacam kepolosan yang jujur dalam lukisan-lukisannya. Ia tidak terlihat ingin rumit. Simbol-simbolnya hadir seperti mimpi yang belum sepenuhnya dijelaskan. Dan mungkin memang tidak perlu dijelaskan.

Bambang Bujono pernah menyinggung bahwa pembacaan karya seni tidak selalu harus diserahkan pada teori; kadang yang lebih penting adalah getaran yang sampai pada penikmatnya. Pada karya Ndaru, getaran itu terasa. Ada energi. Ada semacam perlawanan terhadap ruang kosong. Seolah ia berkata “bahkan dalam gelap, warna tetap bisa menyala.”
Sebagai pelukis pemula, perjalanan Ndaru tentu masih panjang. Ia bisa saja suatu hari memperdalam maknanya, memperkaya narasinya, atau bahkan memecahkan pola yang kini ia bangun. Tapi untuk saat ini ia sedang setia pada dunianya sendiri.

Dan dalam kesetiaan itu, seni sering kali menemukan jiwanya.

Pada akhirnya, Ndaru tidak sedang melukis benda. Ia sedang melukis putaran batinnya sendiri. Spiral-spiral itu mungkin adalah hari-hari yang tak lurus, warna-warna itu mungkin adalah keberanian yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, dan latar hitam itu mungkin adalah sunyi yang ia taklukkan dengan cahaya.
Kita tidak perlu buru-buru mengerti. Cukup berdiri di depan karyanya, dan membiarkan mata terseret ke pusaran garisnya. Sebab di sana, Ndaru sedang belajar satu hal yang paling sulit dalam kesenian: menjadi dirinya sendiri.
Jakarta 6 Maret 2026

Bacaan
*Jim Supangkat
Seni Rupa Kontemporer Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1997)
*Sanento Yuliman
Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 2004)
*Bambang Bujono
Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 1992)