April 18, 2026

Negeri yang Mencetak Sarjana Makin Banyak Tapi Lapangan Kerja Makin Sempit

Penulis: Ririe Aiko

Di Indonesia, gelar sarjana sudah menjadi semacam barang massal: mudah diperoleh, murah promosi, mahal ekspektasi. Setiap tahun, perguruan tinggi negeri dan swasta ramai-ramai melepas lulusan bak pabrik melepas produk baru. Iklan pendidikan bertebaran di mana-mana: “Kuliah 3,5 tahun, langsung kerja!”, padahal realitasnya, banyak lulusan justru langsung menyandang gelar baru “Pengangguran Dengan Tumpukan Prestasi Akademis”

Sementara itu, pertumbuhan lapangan kerja tidak sebanding. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk lulusan perguruan tinggi justru lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA atau SMP. Ironis? Tentu saja. Di negeri ini, investasi pendidikan bisa berujung pada investasi kekecewaan.

Di dunia kerja, seorang fresh graduate dihadapkan pada syarat mustahil: pengalaman minimal 2-5 tahun untuk posisi junior. Logikanya sederhana: kami baru lulus karena kuliah, bukan karena magang di tujuh perusahaan sekaligus. Tetapi dunia nyata tidak butuh logika, ia butuh pengalaman yang entah harus dicari di mana kalau semua pintu mensyaratkan hal yang sama.

Pemerintah dan institusi pendidikan pun seolah berlomba mengadakan wisuda akbar, namun jarang mengadakan bursa kerja yang benar-benar relevan. Ada lowongan, tentu saja, tapi lebih banyak untuk posisi yang menuntut keterampilan serba bisa dengan upah serba tipis. Skill: harus mahir desain grafis, copywriting, digital marketing, mengedit video, memahami SEO, mampu multitasking, dan siap kerja di bawah tekanan. Gaji: setara harga tiga kali ngopi kekinian.

Akhirnya, banyak sarjana banting setir: berjualan online, menjadi driver ojol, membuka jasa freelance, atau menghibur diri di TikTok sambil berharap viral. Negara kehilangan potensi besar, tapi tetap percaya diri memamerkan statistik bahwa tingkat pendidikan nasional membaik.

Yang lebih miris, solusi dari sebagian pihak adalah memperbanyak pelatihan-pelatihan bersertifikat. Seakan-akan, menumpuk sertifikat bisa mengalahkan kenyataan bahwa lowongan kerja tetap sempit dan kompetisi semakin brutal.

Indonesia tak kekurangan sarjana, yang kita kekurangan adalah ekosistem ekonomi yang mampu menampung dan mengoptimalkan mereka.

Pabrik sarjana terus beroperasi siang malam, tapi pabrik lapangan kerja? Masih dalam tahap ground breaking entah sampai kapan.