April 18, 2026

Oleh Yusuf Achamad

Jejak masa itu memanggil-manggil, mengundang datang di
hari ini. Hariku yang tak ganjil. Kupenuhi panggilan ini. Walau
rintangan menghadang, kuabaikan semua. Panggilan ini
mengembalikanku pada nostalgia.

Ingatan saat bermain, bersepeda, berhujan, sedih-suka bersama
teman-teman. Rumah tua, kamarku, pohon sawo dan mangga,
yang menjelma bangunan baru.

Kampungku, para tetangga, berwajah asing menggantikan
tetangga lamaku. Bang Amak Bahanan, Bang Said Basalamah.
Ami Ali BinJuber, Cik Hanim Batarfi, Bahmid, Cik Hindun
Basmeleh, Bucik Hamedan, Husni Nagras, Cak Min, Cak Mad,
Cak Ikhsan, juga Yok San, tak tahu aku di mana mereka sekarang.
Lama kutinggalkan Nyamplungan.

Rumah-rumah yang berkerai, tak bermeja. Hanya karpet atau amben. Kini tersulap menjadi bangunan megah, lengkap perabotan.
Namun bau tanah tersisa di depan rumah. Masih seperti dulu,
kuingat saat ummi dan jiddahku. Menyiapkan tenong, berjualan
mageli, sambosa, pastel dan kroket. Lalu pembeli bertanya,
“Kam?” Kujawab, “Homsa taasar.” “Ahsan, ajib, rohis, bas
kutebas semua,” Kata Cik Jenah Baswedan penyuka jajanan
Nyamplungan.

Rasanya tak kan mungkin aku mengingat semua. Hanya jejak
Nyamplungan yang masih tersisa. Mengingatkanku pada masa
susah, penuh juang dan doa. Terpatri dalam jiwa hingga mati
menanti.

Nyamplungan abadi di mata, benak dan hatiku. Tak kan pernah
hilang. Kampung ikatan hidup, jiwa, raga dan nyawaku. Aku
tahu mengungkapkan bukan sia-sia.

Bukan juga mudah, rintangan ada saja. Yakin-jiwaku,
Nyamplungan tak hanya kukenang tenang. Tapi juga kukenalkan
pada khalayak agar mereka juga terpikat. Dan punya cerita