April 18, 2026
rizal nyanyian hati di stasiun senja

Oleh: Rizal Tanjung

aku duduk di tepian waktu,
di bibir peron yang basah oleh rindu,
menanti engkau yang dijanjikan angin,
namun hanya bayang yang selalu datang lebih dulu.

lampu merah berkedip seperti luka,
tertusuk di dada langit yang kuyup,
seperti janji yang kau ukir pada dermaga,
tapi dihapus ombak sebelum sempat hidup.

kereta datang dan pergi,
membawa wajah-wajah yang bukan engkau,
seperti takdir yang gemar mencandai,
mengulur harapan agar semakin lelah aku menunggu.

dingin mengendap dalam gaunku yang lusuh,
seperti kenangan yang enggan berlalu,
hujan merayap di jemari waktu,
membasahi ingatan yang tak mau sembuh.

aku masih di sini,
menjahit sepi dengan helai asa,
menghitung detik dengan tetesan air mata,
tapi kau, entah di mana, entah siapa.

barangkali engkau sudah jadi kabut,
yang melayang di jendela kota yang tak kutahu,
atau mungkin engkau sudah jadi senja,
yang tenggelam di mata seseorang yang bukan aku.

namun, tetap aku menunggu,
di bawah lampu merah yang tak berubah,
seperti hati yang tetap percaya,
bahwa suatu saat, engkau akan datang juga.

tapi aku tahu, itu bohong.
kau tak akan pernah datang.
dan aku?
akan tetap di sini, menjadi sepotong puisi yang tak pernah selesai.

2025.