May 10, 2026

Obituarium Romo Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisna, SJ (1954–2025) Intelektual, Filsuf, dan Guru Bangsa

ROMO MUJI

Gereja Katolik Indonesia dan komunitas akademik kehilangan seorang pemikir besar. Romo Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisna, SJ, wafat pada Minggu malam, 28 Desember 2025, di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta Pusat. Kepergian beliau menutup sebuah bab penting dalam sejarah filsafat, kebudayaan, dan pendidikan tinggi Indonesia, namun sekaligus meninggalkan warisan intelektual yang terus hidup dalam nalar kritis dan kesadaran budaya bangsa.

Lahir di Solo pada 12 Agustus 1954, Romo Mudji tumbuh dalam lingkungan keluarga pendidik yang kuat dengan nilai nasionalisme dan tradisi budaya Jawa. Sejak masa kanak-kanak, ia telah diperkenalkan pada diskursus kebangsaan serta estetika wayang, yang kelak membentuk sintesis khas dalam pemikirannya: perjumpaan antara iman, filsafat, dan kebudayaan lokal.

Pendidikan formalnya ditempuh di SD Pangudi Luhur Solo dan Seminari Menengah Mertoyudan, sebelum melanjutkan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Minat intelektualnya yang mendalam membawanya ke Universitas Gregoriana, Roma, tempat ia meraih gelar Doktor Filsafat pada tahun 1986. Pengalaman akademiknya diperkaya melalui studi agama dan seni di Sophia University, Tokyo, yang semakin menegaskan orientasi lintas disiplin dalam karya-karyanya.

Sebagai akademisi, Romo Mudji dikenal luas sebagai Guru Besar STF Driyarkara dan pengajar di Program Pascasarjana Universitas Indonesia serta Institut Seni Indonesia Surakarta. Ia memandang dunia pendidikan sebagai altar kehidupan, ruang pengabdian intelektual yang setara martabatnya dengan altar liturgi. Di ruang kuliah, ia bukan hanya mentransmisikan teori, tetapi membentuk etos berpikir kritis, humanis, dan kontekstual pada generasi mahasiswa.

Keterlibatan Romo Mudji tidak berhenti pada dunia akademik. Kepeduliannya terhadap kehidupan berbangsa mendorongnya terlibat langsung sebagai Anggota Komisi Pemilihan Umum (2001–2003), anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan (2005–2006), serta tim penilai Penghargaan Kebudayaan Presiden Republik Indonesia. Meski demikian, ia memilih kembali sepenuhnya ke dunia pendidikan dan literasi, menegaskan bahwa baginya perubahan sosial paling berkelanjutan lahir dari pembentukan kesadaran.

Sejak 1983, menulis menjadi laku intelektual harian Romo Mudji. Puluhan buku dan ratusan esai yang ia hasilkan mencakup filsafat, kebudayaan, spiritualitas, dan kritik sosial. Selain menulis, ia juga mengekspresikan refleksi batinnya melalui seni rupa. Pameran-pameran lukisannya menjadi ruang kontemplatif yang menyatukan pengalaman iman, ritual, dan pencarian makna manusia.

Hingga akhir hayatnya, Romo Mudji Sutrisna, SJ, tetap hadir sebagai suara yang jernih, kritis, dan berbelarasa dalam ruang publik. Melalui keterlibatannya dalam Borobudur Writers dan Cultural Festival dan berbagai media, ia konsisten mengawal nalar kebudayaan dan kemanusiaan Indonesia.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun juga tanggung jawab intelektual bagi generasi penerus: untuk merawat tradisi berpikir yang kritis, berakar pada budaya, dan berpihak pada martabat manusia sebagaimana telah dicontohkan oleh Romo Mudji sepanjang hidupnya.

Requiescat in pace.