May 26, 2026
45cd1bcc-6cb5-4024-a60f-f2026bffb3ea

Di bawah beringin rindang, di antara penjaja lelaki dan putri,
menawarkan jajanan khas Jogja warna-warni. Tiba-tiba penjaja
berblangkon putih mendekati, mengajakku berkelakar.
Bercerita tentang kejayaan Jogjakarta masa lama hingga
merdeka.

Tidak hanya blangkonnya warna putih, gaya dan tutur
bahasa berapi-api. Kami pun bertukar cerita, antara kampung
Nyamplungan dan kampung di Jogja. Lalu ia bercerita tentang
beringin kembar dua, yang terbakar setelah sajak ini ada. Cerita
tentang laku Masangin, berjalan lurus lalui dua beringin. Mata
tertutup hampa angin, kabulkan setiap ingin, doa dan pinta.
Asal percaya disertai yakin.

Tiba-tiba, semangat si blangkon putih berubah merah menyala.
Ceritanya berbeda dengan yang aku punya. Aku membenarkan
Jaka Tingkir, katanya, “Aku tak habis pikir.” Menurutnya, Jaka
Tingkir kafir seperti buaya di sungai mengalir. Masih sakti Arya
Penangsang sang pahlawan dari Jipang Panolan.

Akhirnya aku diam menganggukkan kepala. Sebagai tamu di
Jogja kaya sajak. Ia menjaga budaya, nilai-nilai Jawa. Mitos yang
katanya tak bermakna di Barat. Bukan di Jogja penuh pusaka.
Dan ketika aku memperhatikan para penjaja dengan mata
terbuka. Tiba-tiba mereka lenyap dalam rimbun belukar,
beringin kembar yang terbakar.