Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Pancaran Sinar Cahaya Ilmu dari Tanah Tambang : Epik Keikhlasan dan Keteguhan MAN Kota Sawahlunto

Oleh : Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I

Kepala MAN Kota Sawahlunto

Menyalakan Cahaya dari Tanah Tambang: Epik Keikhlasan dan Keteguhan MAN Kota Sawahlunto

Di sebuah kota kecil yang menua bersama sejarah tambang dan denyut para perintisnya, lahirlah sebuah lembaga pendidikan yang tumbuh bukan dari kemewahan bangunan atau limpahan fasilitas, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih agung: keikhlasan hati, ketulusan niat, dan doa yang tidak pernah putus dari masyarakatnya. Di situlah kisah MAN Kota Sawahlunto menemukan titik nyalanya sebuah kisah yang tidak ditulis oleh tinta, melainkan oleh ketabahan.

Kisah itu bermula pada tahun 1983. Dalam lanskap kota yang masih dipenuhi jejak pekerja tambang, berdirilah sebuah benih kecil bernama MAS Sawahlunto, dipimpin oleh Rafa’i Tunun. Madrasah itu seperti cahaya mungil yang berusaha memecah kabut masa. Namun perjalanan awal tidak selalu lurus; langkah itu sempat terhenti, seakan angin sejarah menahan napasnya. Meski demikian, nyalanya tidak pernah benar-benar padam ia hanya menunggu waktu untuk kembali menyala.

Tahun 1987 menjadi musim kebangkitan. Dari sebuah ruang sederhana di Masjid Istiqamah Mudik Air, hanya dua belas siswa berkumpul, namun semangat mereka melampaui angka. Di bawah bimbingan Drs. Arman Ali, madrasah kecil itu kembali berdenyut. Dari ruang kecil itu, lahirlah harapan besar untuk anak-anak Sawahlunto: harapan agar mereka belajar bukan hanya ilmu, tetapi adab; bukan hanya pengetahuan, tetapi kepribadian.

Seperti pohon muda yang merindukan matahari, madrasah itu tumbuh pelan namun pasti. Guru-guru dari Depag dan MTsN Sawahlunto datang bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga ketulusan. Mereka menjadi akar yang menegakkan batang muda itu, hingga pada tahun 1995, datang anugerah besar: madrasah itu dinegerikan menjadi MAN Beringin Sawahlunto sebuah pengakuan resmi bahwa cahaya kecil itu kini diakui sebagai tumpuan pendidikan negeri.

Perjalanannya tak ubah bagai sungai yang mencari jalannya sendiri. Mengalir dari Mudik Air ke Lubang Panjang, berpindah dari ruang pinjaman menuju ruang milik sendiri, hingga akhirnya pada 2002 madrasah memperoleh bangunan permanen di Santur tempat yang kini dikenal sebagai rumah besar MAN Kota Sawahlunto. Setiap perpindahan menyisakan jejak perjuangan; setiap ruang yang ditinggalkan menyimpan cerita tentang kesabaran.

Waktu bergerak, dan kepemimpinan berganti. Drs. Ali Amran Danin, Syamsul Bahri, Drs. Yurnalis, T. Idris (Plt), Erdinal, S.Ag, dan Husein Al Hafezz (Plt), masing-masing menuliskan bab tersendiri dalam sejarah madrasah ini dengan pembangunan ruang kelas, fasilitas, tata kelola, hingga budaya belajar yang terus disempurnakan. Madrasah tumbuh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam kedewasaan dan wibawanya.

Kemudian, sebuah tonggak besar hadir pada Juli 2017. Nama MAN Beringin resmi berubah menjadi MAN Kota Sawahlunto sebuah identitas baru yang lebih tegas, lebih mandiri, dan lebih selaras dengan karakter kotanya yang sedang bergerak maju. Perubahan nama bukan sekadar administratif, tetapi simbol kematangan sebuah perjalanan panjang.

Pada 30 Agustus 2017, Mhd. Yustar, S.Pd., M.Pkim dilantik sebagai kepala madrasah, Dari tangan mereka, madrasah memasuki babak baru : era pembenahan, penguatan visi, dan pembukaan ruang-ruang inovasi. Hingga akhirnya, dari tangan Yustar tonggak kepemimpinan diemban oleh Asrin, S.Ag sebagai Plt.meski singkat namun banyak melahirkan inovasi. Hingga pada 10 Juli 2025, tongkat estafet itu dilanjutkan oleh Dafril, M.Pd.I (pulang kakampuing) membuka lembaran baru perjalanan panjang madrasah yang terus belajar menjadi lebih terang. Dafril meneruskan perjuangan para pendahulunya “Kerja untuk ibadah, Maju bersama, Besama kita bisa” sebuah motto kepemimpinan yang dibawa untuk menyatukan langkah melangkah bersama sambil menenteng restorasi.

Kini, MAN Kota Sawahlunto berdiri sebagai saksi hidup bahwa pendidikan bukanlah sekadar deretan ruang kelas, lembar administrasi, atau jumlah siswa yang terus bertambah. Pendidikan adalah tentang keyakinan. Tentang kerja bersama. Tentang doa-doa yang terus mengalir dari hati masyarakatnya.

Ia adalah bukti bahwa sesuatu yang kecil, jika dirawat dengan keteguhan, dapat tumbuh menjadi sesuatu yang bermakna. Bahwa nyala yang sempat redup pun dapat kembali menyala jika dipelihara oleh kesabaran. Bahwa madrasah yang lahir di kota tambang dapat menjadi lumbung cahaya—tempat ilmu dan adab bertemu dalam harmoni.

Inilah epik keikhlasan MAN Kota Sawahlunto:

sebuah perjalanan kecil yang menjadi besar, sebuah harapan yang enggan padam, dan sebuah cahaya yang terus mengalir dari masa ke masa, menerangi generasi demi generasi tanah Sawahlunto.