Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Yusufachmad Bilintention

Di balik gemerlap pembangunan dan sorak-sorai prestasi bangsa, ada sosok yang sering terlupakan: guru honorer. Mereka adalah pilar pendidikan yang berdiri di ruang-ruang kelas sederhana, menyalakan api semangat tanpa pernah benar-benar diakui sebagai bagian dari negara. Puisi berikut, ditulis oleh Anto Narasoma, adalah jeritan batin seorang guru honorer—jeritan yang lahir dari puluhan tahun pengabdian, namun berbalas nasib yang getir.

GURU HONORER, NASIBMU LAPUK DAN BUSUK !

Jalan panjang itu tetap menjadi jejakmu.
bukan hanya keringat,
api yang kau sulut membakar semangat –setelah dua puluh tahun menata kalimat panjang di ruang sekolah guru honorer yang nyaris tumbang

lalu kakimu pun
menjadi sepasang kata-kata yang diam
dan sunyi. hanya sepiring nasi,
secangkir plastik, dan anak-anakmu sepi
dari lauk-pauk di meja berdasi yang basah
air mata

di kota-kota besar,
mantan siswamu diam-diam merancang program kerja di ruang prestaisi pejabat provinsi

kulihat,
engkau masih berkutat dalam kubangan lumpur desa yang mengikat pikiran dan perasaan

— kaulah guru honorer yang lupa tercatat sebagai guru negara

o, begitu kejam perjalanan nasib yang berteriak dalam diam

bahkan teriakan itu berkumandang saat lagu indonesia raya menatap langit dan bumi yang lupa pada nasibmu

guru,
puluhan tahun
jari-jari kakimu yang menapak lembaran buku matematika,
menggiring siswamu meraih juara dalam hitung-hitungan bagi sepenggal nasibmu yang lapuk dan busuk

Palembang
25 November 2025

Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cermin dari kenyataan yang masih dialami banyak guru honorer di pelosok negeri. Mereka tetap berdiri, meski langkahnya lapuk, meski nasibnya busuk, demi anak-anak bangsa yang kelak menjadi pemimpin. Semoga suara yang berteriak dalam diam ini tidak lagi diabaikan, dan suatu hari nanti, guru honorer benar-benar tercatat sebagai guru negara.